Jumat, 30 Maret 2012

KITAB YESAYA


 

PERENUNGAN

KRISTUS, PENGGANTI KITA,
( YESAYA 53 : 1 – 12 )


Pendahuluan

Ketika perhatian kita tertuju pada Yesaya pasal 53 (L.A.I 2007) memberikan judul dalam perikop ini “Hamba Tuhan yang menderita” kita akan sependapat bahwa pasal ini memiliki keistimewaan dari pasal-pasal yang lain (yang membahas tentang seorang hamba, yang ada dalam kitab Yesaya). “Hamba” Tuhan, dalam pasal ini dengan jelas dinyatakan sebagai pribadi / oknum.
Ketika dilakukan interpretasi, dalam perspektif teologi perjanjian lama secara sistematif, komprehensif, koherensi berdasarkan bagian-bagian atau secara tetematis dapat dijelaskan bahwa tokoh “Hamba Tuhan” yang menderita dalam pasal 53 adalah, Dia yang disalibkan di Golgota yaitu manusia Yesus Kristus. Kata “Kristus atau Khristos” adalah gelar yang dikenakan pada diri, yang mengacu pada terjemahan kata Ibrani “Mesias” yang berarti yang diurapi. Yesus Kristus berarti Yesus telah diurapi Allah menjadi juru selamat umatNya.
Dalam PL yang diurapi adalah Nabi, Imam, dan Raja. Ketiga-tiganya menunjuk kepada Kristus yang adalah Nabi, Imam dan Nabi. Nabi dalam PL menjadi penyambung lidah Allah (pemberita Firman Allah), Kristus adalah Sang Firman (Allah), Dia bukan hanya pemberita firman tapi Dia adalah firman (Allah) (Yohanes 1 : 1 – 14). Imam dalam PL melakukan pekerjaan mempersembahkan korba, Kristus mempersembahkan diriNya (menjadi korban) untuk menyelamatkan umatNya (Ibr 7 : 21 – 28). Raja dalam PL bertugas memerintah agar bangsa hidup menurut kehendak Allah, Kristus mendirikan kerajaanNya (Yoh 18 : 36) dan memerintah (Rm 14 : 9; I Korintus 15 : 25).


Kesempurnaan Sang Pengganti

Tokoh dalam Yesaya 53 adalah Kristus / Mesias (yang menunjuk pada kemanusiaan Yesus), tidak mungkin tokoh / oknum tersebut adalah “Manusia lain” atau tokoh-tokoh Perjanjian Lama lainnya, dengan jelas nubuatan ini menunjuk pada pribadi Yesus Kristus, itu dapat dikuatkan oleh ayat berikut, yang muncul dalam pokok-pokok tersebut adalah kesempurnaan Hamba / kesempurnaan pengganti tersebut, dan kegenapan Nubuat yang tergenapi dalam Yesus.
Ia datang dalam kerendahan – ‘sebagai tunas dari tanah kering’. Kehadiran Yesus ke muka bumi ini, dalam segala kesederhanaan dan oada kondisi umat yang sedang mengalami kekeringan Rohani, Yohanes pembaptis mulai membangunkan dengan seruan pertobatan sesaat sebelum Yesus memulai pelayanannya.
Dalam sejarah para Nabi, Maleakhi adalah Nabi terakhir untuk menyampaikan Firman Allah, dan 400 tahun sampai pada Yohanes pembaptis memulai pelayanan, masa 400 tahun / masa gelap dimana Allah tidak berfirman, kerohanian Israel mengalami kekeringan.
Ia dihina dan dihindari orang.
Yesaya 53 : 3 “Ia dihina dan dihindari orang
Dijelaskan bahwa “hamba” itu dihina dan dihindari orang, bukankah ini menunjuk pada pribadi Yesus Kristus, dalam kehadiranNya banyak orang Yahudi yang menolak bahkan Dia banyak dibenci dan ditolak oleh para pemimpin Yahudi.
Matius 26 : 57, sesudah mereka menangkap Yesus, mereka membawaNya menghadap Kayafas, Imam Besar. Disitu telah berkumpul ahli-ahli Taurat dan tua-tua.
(Lukas 4 : 16 – 30) Yesus ditolak di Nazaret.
Ia menanggung sengsara ganti manusia yang berdosa – “Dia tertikam oleh pemberontakan kita”.
Yesaya 53 : 4…. Penyakit kitalah yang ditanggungNya, dan kesengsaraan kita yang dipikulNya, …
Dalam Perjanjian Baru dijelaskan pelayanan Yesus menyembuhkan yang sakit, Kristus memikul hukuman agar umatNya (orang percaya) dilepaskan dari kelemahan dan penyakit, dari dosa dan akibat disa. Yesaya 53 : 4 dikutip dalam Matius 8 : 17, Hal itu supaya genaplah firman yang disampaikan oleh Nabi Yesaya : “Dialah yang memikul kelemahan kita dan menanggung penyakit kita”.
Allah sendirilah yang menanggung sengsara ganti manusia yang berdosa itu, merekalah umat ketebusanNya – “Tuhan telah menimpakan kepadanya kejahatan kita sekalian”.
Dan sesudah menanggung sengsara, Ia akan masuk dalam kemenangan besar – “sebab itu Aku akan membagikan kepadaNya orang-orang besar sebagai rampasan. Ayat 12.
Memahami hal diatas, untuk lukisan pengganti yang indah itu mustahil nubuat Yesaya   53 : 1 – 12 adalah orang lain, itu menunjuk pada pribadi Yesus Kristus dari Nazaret.


Latar Belakang Konsep Pengganti

Dalam Perjanjian Lama menjelaskan tentang pengorbanan yang bersifat pengganti (berkaitan dengan dosa dan kesalahan). Kepala korban binatang yang diatasnya diletakkan tangan Imam, selanjutnya secara simbolik terjadi pengalihan / penggantian korban dosa dan segala pertanggungan jawab si pemberi persembahan, binatang korban kini dia harus menanggung hukuman. Selanjutnya pemberi persembahan harus memuliakah Allah, Dosa yang seharusnya ditanggung kini dialihkan pada binatang itu sebagai pengganti. Ritual pengorbanan ini (dalam Perjanjian Lama) bersifat simbolik yang berorientasi pada Kristus (sebagai pengganti yang indah). Imamat 1 s/d 5 merupakan bagian alkitab didalamnya makna pengorbanan itu dapat dilihat (pengorbanan domba yang dilakukan – untuk kepentingan pemberi korban / persembahan sebagai pihak yang bersalah / berdosa.


Perkembangan Korban Domba

Satu ekor korban domba / binatang untuk satu orang. Kej 4 : 4, “Habil juga mempersembahkan korban persembahan dari anak sulung kambing dombanya, yakni lemak-lemaknya; maka Tuhan mengindahkan Habel dan korban persembahannya itu”.
Satu ekor domba / binatang, untuk keslamatan satu keluarga. Kel 12 : 3, “Katakanlah kepada segenap jemaah Israel : Pada tanggal sepuluh bulan ini diambillah oleh masing-masing seekor anak domba, menurut kaum keluarga, seekor anak domba untuk tiap-tiap rumah tangga”.
Satu ekor korban domba / binatang untuk satu bangsa. Imamat 16 : 33, “Ia harus mengadakan pendamaian bagi tempat maha kudus, bagi kemah pertemuan dan bagi Mezbah, juga bagi para Imam dan bagi seluruh bangsa itu, yakni jemaah itu”.
Satu korban “Domba” untuk seluruh dunia. Yohanes 1 : 29 … “Lihat Anak Domba Allah, yang menghapus dosa dunia”.
Yohanes 1 : 29… “Lihat Anak Domba Allah – yang menghapus dosa dunia”. Kata menghapus AIRE (Yun) → diangkat, dipikul / dibawa pergi, bandingkan dengan Imamat 4 : 14, 15, 16 : 16; 21 – 22. Dosa itu berpindah / dibawa pergi.
Dalam perjanjian lama, korban-korban itu terus menerus memberikan konsep tentang pengganti dan jalan – perdamaian sementara semua persembahan dalam perjanjian lama menggambarkan Kristus sebagai korban yang bersifat pengganti. Dalam Perjanjian Baru dalam hal pengorbanan Kristus hanya satu kali saja untuk menanggung dosa banyak orang (Ibrani 9 : 28) Kristus dengan rela dan dengan penuh kesadaran mempersembahkan diriNya sebagai korban pengganti bagi orang berdosa.

Konsep Pengganti dalam Perspektif Allah

Konsep pengganti sangat bertalian dengan keslamatan, keslamatan secara umum meliputi (1) pengorbanan / penggantian (ekspiasi / substitute / substitusi). (2) pendamaian / propisiasi : meneduhkan, konsiliasi. (3) rekonsiliasi : memulihkan relasi yang rusak.
Keslamatan berkaitan dengan Karya Yesus (sebagai pengganti). Dari perspektif Allah, kematian Kristus di kayu salib merupakan inisiatif / ketetapan Allah yang tidak disebabkan oleh sesuatu di luar diri Allah. Dalam perspektif manusia, Kristus disalib di Golgota memberi arti suatu pengorbanan atau substitusionari / vicarious (Latin : ditempat orang lain) pemindahan (penggantian / penebusan).
Penyaliban Yesus di Golgota merupakan pengganti hukuman (akibat dosa) yang semestinya ditanggung oleh umat yang berdosa, dalam kerelaanNya Ia mati menggantikan umat yang berdosa.


Kristus Pengganti yang Indah

Haruskah Kristus / manusia Yesus Kristus sebagai pengganti ? Ya…!! Tidak ada manusia yang layak untuk menempati posisi itu, tanpa inkarnasi (Allah menjadi manusia / daging) manusia tidak akan memiliki pengganti (juru selamat). Dosa menuntut maut untuk pembayarannya.
Yohanes 1 : 14 – Firman (Allah, Yohanes 1 : 1, 2) menjelma menjadi manusia,… “Pada mulanya adalah Firman… Firman itu adalah Allah,… Firman itu telah menjadi manusia…”
Allah tidak dapat mati, jadi juru selamat / pengganti haruslah manusia agar dapat mati (Yoh 4 : 24, Allah adalah Roh) tentunya Roh itu kekal / tidak dapat mati, namun demikian kematian manusia berdosa tidak melunasi dosa yang abadi, sehingga juru selamat / pengganti itu harus Allah. Yesus Kristus diutus untuk menggnapi rencana penyelamatan Allah, Ia juga manefestasi, kenyataan rencana Allah untuk menyelamatkan umatNya.
Ketidakberdosaan Kristus / Yesus Kristus tidak berdosa karena Yesus Kristus memiliki naluri Illahi (Ia adalah Allah) hal itu dinyatakan oleh alkitab Yesus tidak memiliki tabiat dosa / potensi berdosa dalam diriNya.
Kesempurnaan pengganti itu / ketakberdosaan Yesus Kristus berkaitan dengan Allah        – Allah yang tidak berubah – sedangkan perubahan terjadi adanya dosa – ketakberdosaan Yesus Kristus menyatakan bahwa Dialah Allah. Jika Yesus Kristus tidak memiliki natur ilahi maka Ia berdosa / dapat berdosa, karena Allah (sempurna / Kudus) tidak berdosa / tidak ada potensi untuk berbuat dosa. Jika Yesus memiliki tabiat ilahi (Dia Allah) maka Yesus Kristus tidak berdosa dan tidak berbuat dosa.
Inilah kesempurnaan pengganti itu, Allah menjadi daging dalam kemanusiaan Yesus Kristus melakukan apa yang tidak dapat dilakukan manusia berdosa.
Karya Yesus Kristus dalam pemahaman sebagai “Pengganti” dan karyaNya yang diteguhkan pada karya salib. Kayu salib sebagai klimaks / puncak kesluruhan tindakan / inisiatif Allah sebagai “pengganti” manusia berdosa.

Teori-teori Salah Tentang Kematian Yesus

Ada beberapa yang salah tentang kematian Yesus, Teori-teori tersebut adalah :
(1)   “Marturial Theory”. Kematian Kristus adalah merupakan puncak ajaranNya dimana Ia sendiri mati sahid untuk membela kebenaran, yang diajarkanNya itu kelemahan moral manusia digugah untuk memiliki etika yang tinggi.
Apa kata alkitab : Terlihat disini unsur paksaan yang didalangi oleh ajaranNya yang tinggi, dan hidupnya yang saleh, lihat Yphanes 10 : 18,
Yohanes 19 : 28 – 30, lihat ay. 30… sesudah meminum anggur asam…..” lalu Ia menundukkan kepalaNya dan menyerahkan nyawaNya. Kematian Yesus adalah ketetapan Allah pada masa lampau dan tidak disebabkan dari luar diriNya. Yesus menyerahkan nyawaNya dan bukan mati sahid untuk membela kebenaran.
(2)   “The Moral Influence Theory”, teori pengaruh moral, ajaran ini disusun oleh Faustus Socianus (1539 – 16042) dan thn (1079 – 1142) Abelard mulai memperkenalkan teori ini (sebagai sanggahan terhadap teori komersiil-nya Anselm). Sasarannya adalah reformasi bukan regenerasi dalam diri pengikut Yesus, karena pengaruh moral Yesus Kristus. Tiada nilai obyektif dalam kematian Yesus yang diakui, itulah kematian biasa yang meninggalkan kesan teladan, kematian Yesus Kristus hanya satu tanda simpati Allah terhadap manusia berdosa / ikut dalam penderitaan manusia.
(3)   “The Identification Theory”, Kematian Yesus disebabkan Ia sangat mengidentifikasikan (menyamakan) diriNya dengan manusia berdosa, sengsara, sehingga Yesus mampu mewakili mereka kehadirat Allah dan mengakui dosa mereka dan bertobat bagi manusia, Neo–Orthodoxy dan Universalisme, disini seolah-olah Allah diharuskan menerima pertobatan, yang diwakili oleh satu orang. Yang benar Allah memberikan jalan pengampunan bagi manusia berdosa pertobatan dan percaya tiap orang dituntut sebagai bentuk tanggung jawab atas anugrah Allah dan hidup memuliakan Allah.
(4)   “Teori Ringkasan” (Rekapitulasi) (Irenius) Kristus dalam kehidupannya (KemanusiaanNya) dan kematianNya meringkas seluruh fase dari kehidupan manusia.
(5)   “Teori Teladan” (Socianus) Kristus dalam kematianNya semata-mata hanya menunjukkan ketaatanNya dan kematianNya semata-mata hanya untuk memberikan teladan / contoh model ketaatan manusia.


Penutup

Kematian Yesus memberikan makna Yesus “menebus” kita (Kisah 3 : 25, Ibrani 2 : 17, I Yohanes 2 : 2 – 4; 10), mendamaikan kita dengan Allah (Rm 5 : 11, 2 Korintus 5 : 17 – 20, Epesus 2 : 16, Kol 1 : 20 – 22), memerdekakan (3 : 25). Kematian Yesus juga berkaitan dengan Korban Perdamaian (grafirat), penanggungan hukuman dosa (expition), pengampunan (forgiveness), pembenaran (justification), hukuman (penalty), pendamaian (reconciliation), kebenaran (ringhteousness) dan pengudusan (sanctification), dll. Hal tersebut diatas secara kesluruhan berorientasi pada keslamatan.
Haleluya, haleluya, Haleluya dengan memahami “Konsep Pengganti” dalam perspektif alkitab, adalah anugrah yang besar bagi manusia berdosa lewat “Kristus Pengganti” manusia berdosa, Allah mengerjakan apa yang tidak dapat dilakukan manusia untuk pembebasan dosa. Kristus sebagai pengganti telah membuka jalan bagi masa depan umatNya.
Sebagai umatNya yang telah menerima seutuhnya kasih Allah kita memiliki tanggung jawab untuk memuliakan Allah, sebab anugrah memiliki keterikatan dengan tanggung jawab untukhidup memuliakan Allah. Amin !

1 komentar:

  1. Kedatangan hamba Allah
    "" "" "" "" "" "" "" "" "" "
    'Atmak' belum tentu berarti 'yang ku junjung' tapi itu sebenarnya nama

    penulisan Atmak adalah אתמך
    penulisan Ahmad adalah אחמד

    Dalam Yesaya 42:1, Allah berkata
    "Lihatlah, 'Hambaku' (diucapkan sebagai Abd-ee), 'yang Ku junjung' (diucapkan sebagai Atmak);

    Allah menubuatkan tentang kedatangan hamba-Nya
    Lihatlah Hambaku Ahmad (Yesaya 42:1) - dan begitu siapa Ahmad ini? disebut hamba Allah?

    Dia tidak lain adalah
    Abd-Allah Ahmad (Hamba Allah, Ahmad) - Nabi Muhammad saw

    BalasHapus