Selasa, 27 Maret 2012


KITAB  AMOS
  DALAM HUBUNGAN DENGAN P.I DIMASA KINI

PENDAHULUAN


Israel (kerajaan Utara) mengalami masa kejayaan pada zaman Yerobean V (1:1) namun kondisi ini tidak dibarengi dengan keadaan agama (kerohanian yang baik) ibadah yang munafik, menjadi matrialistis.
Amos tampil sebagai nabi Allah,
Dalam makalah ini dipaparkan prinsip-prinsip ilahi.  Kitab  Amos dalam hubungan dengan P.I masa kini, Amos dan kondisi bangsa Israel dan Yehuda, juga bangsa-bangsa disekitar Israel yang berdosa kepada Israel.
Pola pelayanan Amos yang masih relevan bagi P.I masa kini, memberikan gambaran yang terang bahwa P.I dapat berhasil efektif dimanapun dan kapanpun, ketika seorang pemberita Firman (Injil) memahami dirinya, berita yang disampaikan dan sasaran P.I.
Sekalipun pribadi Amos tidak berpendidikan (tidak keluaran sekolah nabi) bahkan dari keluarga yang miskin, Amos tidak boleh dihakimi sebagai pribadi yang bodoh dan tidak berhikmat. Justru efektifnya pelayanan Amos dikarenakan, dia memahami dirinya beritanya dan sasarannya. Keyakinan panggilannya dan semangat kerjanya, mampu menutupi segala keterbatasannya, sehingga Amos menampilkan sebuah fenomena besar, apa yang bodoh bagi dunia dipakai Allah untuk menyatakan kemuliannya.
Penulis hanya memberikan sebuah kerangka besar, Kitab Amos dalam hubungan dengan P.I masa kini dan prinsip-prinsip ilahi yang tidak dibatasi oleh keterbatasan manusia untuk melaksanakan kehendaknya, Allah yang tak terbatas mengatasi segala keterbatasan.


I
AMOS DAN KONDISI BANGSA ISRAEL

Israel adalah umat pilihan Allah yang jatuh bangun dalam kesetiaan mereka kepada Allah, terlihat nyata mulai pelayanan para hakim (dalam kitab hakim-hakim) Israel mengalami kondisi yang merosot, namun dilain hari Israel mengalami pemulihan, hal seperti itu terus terjadi sampai pada pelayanan para nabi yang dipilih oleh Allah.
Pada masa sejarah Israel bila kondisi kerohanian (agama) telah merosot, Allah memunculkan utusanNya untuk menegur, menyampaikan pesan Allah, sehingga umat Allah tidak jauh tersesat mengikuti ilah-ilah lain dan melalui para nabi Allah menyatakan penghukuman sebagai pendisiplinan untuk membawa umat Allah (Israel) kepada kebenaran Allah.

Pada suatu masa sejarah Israel, bagaimana masyarakat dan agama telah merosot, muncullah seorang yang aneh dari padang belantara Yehuda untuk mencamkan berita Allah kepada pikiran rakyat kerajaan sepuluh. Sepuluh suku bangsa di sebelah utara, beritanya sangat keras, suatu tuduhan yang dasyat terhadap dosa-dosa pada masa hidupnya itu.[1]
Kondisi spiritual / kerohanian bangsa Israel (khususnya 10 suku) di kerajaan utara mereka tenggelam dalam ke dalam kejahatan-kejahatan, maka Allah menunculkan seorang nabiNya bagi bangsa utara.

i.        Pribadi Amos dan Beritanya
Amos, seorang peternak domba dari Tekoa, (1:1;7:14, 15), berasal dari keluarga sederhana, bahkan mungkin miskin. Amos seorang pemungut buah ara hutan (7:14) buah-buahan yang biasanya dimakan oleh orang-orang miskin, berasal dari daerah pedusunan di sebelah selatan, kira-kira 10 km disebelah selatan betlehem, sebuah yang tandus disebelah barat laut mati yaitu tanah terbuka yang juga disebut padang Gurun Yehuda.
Para penulis, mengatakan Amos adalah nabi yang “aneh”  tidak dijelaskan mengapa mereka menyatakan bahwa Amos adalah tokoh yang aneh.

Amos, gembala yang menjadi nabi, adalah tokoh aneh, diantara nabi-nabi PL.[2]

Mereka memang tidak menjelaskan secara terperinci mengapa Amos disebut aneh, mungkin Amos panggil sebagai nabi bukan dari sekolah nabi, dia adalah kaum awam dari pedusunan, menjadi nabi untuk Israel (sepuluh suku) di sebelah utara, Amos adalah nabi yang berasal dari luar Israel. (7:14, 15).
(7:14, 15) Amos seorang nabi dengan keyakinan yang pasti pada Allah bahwa dia dipanggil menjadi nabi Allah, sekalipun dia memiliki latar belakang, pendidikan, ekonomi yang tidak dipandang rendah oleh masyarakat zaman itu, bukan dari keluaran nabi dan dari keluarga yang miskin, status yang dibawah.
Keyakinan akan panggilanNya sebagai seorang nabi, membuat dia menjadi yang efektif, semangat bekerja (kerja keras) kuat dalam penderitaan.
Dalam terang perjanjian baru Paulus (balatia 1:1) memiliki keyakinan akan panggilanNya – itu menjadikan Paulus, Rasul yang efektif, mampu melayani dengan baik (menjadikan dia pribadi / pelayan yang berkualitas) (balatia 1:15 – 18) Paulus mampu mempersiapkan diri dengan baik sebelum terjun dalam pelayanan, (1 Korintus 15:10) mampu bekerja keras (2 Korintus 2:17) seorang rasul yang tampil beda, (Rom 16:12 – 14) (2 Kor 11:25- 28 ; Pil. 4:13) kuat dalam penderitaan.
Latar belakang Amos mempengaruhi pemberitaannya, (namun tidak kehilangan esensi dari pesan Allah) gaya bahasanya yang sederhana, tegas dan jelas, gaya pedusunan dan penggembalaan memiliki ciri khas tersendiri, (4:1).
Amos menyampaikan pesan ilahi kepada 10 suku Israel di kerajaan utara, bangsa dalam kondisi (3:1, 12;7:10, 14, 15), sekalipun pelayanan Amos bisa dikatakan pelayanan antar negara (kerajaan utara dan selatan berdiri sendiri-sendiri). Namun kedua negara ini adalah keluarga (2:4, 5) berita Amospun ditujukan kepada orang-orang sebangsanya (1:1). Amos hidup pada masa pemerintahan Uzia, raja Yehuda (779 – 740 sM) dan pada masa pemerintahan Yorebeam II di israel, diperkirakan Amos hidup pada Yorebeam dan Uzia bersama-sama memerintah.
Berita Amos ini secara khusus dutujukan kepada Israel juga Yehuda. Pertama : adanya orang-orang miskin yang disiksa, perlakuan kepada para janda dan yatim piatuyang semena-mena. Kedua : adanya penyembahan berhala (perzinahan) yang menyakitkan hati Allah. Ketiga : memberitakan janji-janji pemulihan pada zaman mesias (Amos. 9:11 – 15), tidak bisa diabaikan bahwa berita Amos juga ditujukan kepada bangsa-bangsa bukan Yahudi, karena kejahatan, pelanggaran-pelanggaran mereka.

Pemerintahan Yerobeam adalah luar biasa makmuraya, segala-galanya menyebabkan perluasan Israel dan raja yang penuh energi ini tidaklah lamban untuk mempergunakan kesempatan. Pada tahun 805 sM. Adad – niraniIII dari Asyur menghancurkan Damaskus, dan dengan demikian menyingkirkan Siria sebagai ancaman terhadap negara-negara Palestina lainnya.[3]

Pokok berita Amos teguran atas dosa, kejahatan, serta hukuman atas pelanggaran mereka.
Amos dengan sangat tegas mencela zamannya yang mewah dan suka memuaskan keinginan jasmani itu.[4]

ii.      Kondisi Rohani Bangsa Israel
Masa keemasan pada zaman Yorebeam, tidak dibarengi dengan kondisi kerohanian (agama) yang baik, Israel ada pada kemerosostan rohani, moral dan spiritual (2:6 – 7) dosa karena uang, (2:76) adanya kenajisan (2:8) penyembahan berhala (3:10) kebohongan (5:12 – 24) berbagai macam kejahatan, (5:26, 6:4 – 6)
Dosa dan kemunduran rohani nampak dari dua hal yang khusus (1) ketidak adilan dalam sosial (2) ibadah yang munafik dan penuh kenajisan.

Secara lahiriah Israel di zaman Amos adalah luar biasa beragama tampaknya – tidak memiliki kemanfaatan rohani, tidak menghasilkan keadaan moral dan sosial.[5]

Bangsa yang beragam agama , banyak berdiri kuil-kuil penyembahan berhala, hal itulah yang turut rohani Israel, bahkan mereka turut dalam penyembahan berhala, kemerosotan moral para imamnya.
Amos dengan sangat tegas menegur kondisi kerohanian yang merosot, dalam kemewahan dan suka memuaskan keinginan jasmani.
Betel – suatu tempat penyembahan berhala, penuh kenajisan disitulah Amos tampil menyampaikan pesan.

Agama tidak diabaikan tetapi diputar balikkan, ditempat-tempat suci agama nasional (5:5) upacara-upacara terus dipelihara (4:4 – 5) tapi hal itu diadakan bergandengan tangan dengan sifat kefasikan yang tak mengenal Allah dan menyalahi kesusilaan : justru ritus itu harus dibasmi, bukan diperbaharui (3:14; 7:9; 1 – 4) sesungguhnya ini bukanlah penyembahan kepada Allah, tapi pendurhakaan. (4:4).[6]

Kondisi para pelayan (Imam) yang telah kehilangan esensi dari pelayanannya, orang-orang benar dibenci, ditentang, kemerosotan / kebutuhan rohani nyata sekali pada masa pelayanan Amos.

Imam-imam ini hanya secara jabatan, kesusilaannya rusak dan mereka mendukung segala kecurangan, kelalaian susila dan takhayul yang merajalela di negeri ini.[7]


II
KITAB AMOS DALAM HUBUNGAN DENGAN P.I MASA KINI

Kitab Amos menampilkan suatu fenomena rohani, yang indah untuk direnungkan dan dipelajari dan  relevansinya bagi pelayanan masa kini, menarik sekali untuk dipahami, seorang pemberita Firman Allah dalam kitab Amos. Seorang yang berasal dari pedusunan, yang terlindung dinatara bukit-bukit batu kapur dan bentangan padang berantara suatu dusun yang sunyi sepi.
Seorang dari kerajaam selatan (Yehuda), dari keluarga yang miskin, (pemungut buah ara hutan – yang biasanya dimakan oleh orang miskin) seorang gembala domba dari Tekoa, ia bukanlah seorang lulusan sekolah nabi.
Tentulah pribadi Amos menentukan sebuah fenomena rohani yang menghebohkan ketika ia muncul sebagai nabi Allah, bernubuat tentang akan diangkutnya Israel kepada pembuangan dan menyatakan hukuman atas Amazia dan keluarganya. Fenomena ini memberikan suatu prinsip rohani, yaitu Allah yang juga berkenan  memakai orang-orang yang tampaknya kecil, dan berlatar belakang yang tak berpendidikan (sekolah Nabi – tidak dididik  dalam sekolah teologi) 1 Korintus 1:26 – 27.

i.        Kitab Amos dalam Hubungan dengan P.I
Apakah dan bagaimanakah hubungan kitab Amos dengan P.I (Pengabaran Injil – pemberitaan Firman Allah). Dalam kitab Amos dimunculkan prinsip-prinsip rohani yang sangat menarik bagi pelayan-pelayan injil masa kini.
Sudah seharusnyalah para pengabar kebenaran (Injil) muncul ditengah-tengah angkatan yang bengkok, kemerosotan rohani untuk menyatakan kebenaran dan teguran Allah.
·         Sangat memprihatinkan, kondisi para imam pada masa pelayanan Amos mereka tidak menjadi terang dalam kegelapan, kebutuhan rohani yang dialami orang-orang Israel, justru mereka menyelewengkan kebenaran Allah, berkompromi dengan dosa umat, untuk mencari keuntungan diri sendiri.
·         Para rohaniawan (pelihat – Iman) (7:12) melayani hanya karena makanan-makanan, materi – uang, bukan karena kebenaran Allah. Hal seperti ini menimbulkan asumsi negatis – musuh Allah dan orang-orang tidak rohani, bahwa para iman, pelihat, rohaniawan, melayani hanya karena uang (7:12).

ii.      Strategi Pelayanan Amos
Amos yang datang dari luar Israel dari Yehuda (kerajaan selatan) Nico Lomboan, S.Th, MA memberi pernyataannya, “bahwa Amos adalah sebagai WNA, pergi ke betel di Israel,[8] mungkin ini dijelaskan bahwa Israel telah pecah mernjadi dua kerajaan, utara dan selatan dan pelayanan Amos bisa dikatakan pelayanan (P.I) lintas negara, (negara Israel – Yehuda).
Menyadari bahwa Amos bukanlah dari Israel (kerajaan utara) bahkan orang asing (dari Yehuda). Amos menyusun strategi pelayanan dengan hikmat Allah dengan     bijak. Amos mulai masuk  menyatakan kebenaran Allah.
Pelayanan Amos bukan hanya untuk Israel (kerajaan utara) namun Amos menyatakan penghukuman bagi bangsa-bangsa diluar Israel yang tinggal disekitar Israel.
Amos tidak langsung menyampaikan pemberitaannya kepada Israel, hal itu dimungkinkan karena faktor-faktor yang ada pada Amos sendiri.
·         Warga kenegaraan Amos (dia orang Yehuda)
·         Latar belakang pendidikan Amos (bukan lulusan sekolah nabi)
·         Status ekonomi (Amos sekarang miskin – pemungut buah ara hutan)

Hal ini yang siasati oleh Amos, supaya yang menjadi inti beritanya dapat diterima oleh semua lapisan masyarakat.
·         Amos memulai dari pinggiran Israel, mulai dari Damsyik (1:3 – 5) Filistin (1:6 – 8), Tirus (1:9:10), Edom (1:11, 12), Amon (1:13 – 15), Moab (2:1 – 3) akhirnya Yehuda – pola ini disebur pola geografis.

Ada kemungkinan, jika Amos langsung pada sasaran utam pada Israel maka penolakan yang akan diterimanya akan menjadi sia-sia, mereka akan menjadi keras, dilihat dari kejayaan materialistis segala sesuatu diukur oleh uang, sampai dengan hal-hal rohani, ukurannya adalah materi, uang (7:12).

Kini nabi itu beralih dari bangsa-bangsa asing, melalui Yehuda, bangsa yang paling disenangi, ke Israel menyampaikan berita yang utama.
Bangsa-bangsa lain dituduh karena dosanya, terhadap Yehova sendiri. Mereka tidak setia kepada dia, yang dengan penuh kasih sayang, telah mengangkat mereka menjadi suatu bangsa. Bangsa lain berdosa terhadap hati nurani dan terhadap pernyataan Allah dalam hal ciptaan-Nya, tetapi Yehuda berdosa terhadap kehendak Yehova sendiri yang telah dinyatakan (ayt.4). kata-kata kebohongannya menunjuk kepada kebiasaan penyembahan berhala-berhala lain, yang telah dicontoh Yehuda. Kebinasaan Yerusalem yang akan datang orang Kasdim dinubuatkan dengan singkat. (ayt.5).[9]

Satu hal yang menarik dari pribadi Amos adalah keyakinan bahwa dirinya telah dipanggil Allah (menjadi nabi) menyampaikan pesan-pesan Allah (7:15) betapa yakinnya Amos – menjadikan Amos pelayan yang efektif bagi Allah integritasnya sebagai pelayanan kebenaran tetap nyata dalam tiap pemberitaannya ia mampu tampil beda (tidak sama dengan iman-iman zaman itu) namun yang penting Amos tidak kehilangan esensi dari pemberitaannya.
·         Kerendahan hati Amos
Dalam tiap gerak pemberitaanya Amos tidak menyembunyikan hidup masa lampaunya. (7:14. 15).
·         Bukan pemalas (rajin) seorang pekerja keras (lihat pekerjaannya) dalam pelayananpun Amos mulai dari negara-negara luar Israel – sampai pada inti sasaran utamanya (Israel – Yehuda) Amos tetap semangat bergairah dalam bekerja.
·         Berhikmat dalam pemberitaannya (Bijaksana) lugas dan jelas, jujur, tepat sasaran, ia menggunakan lukisan / gambaran yang tepat.
·         Setia pada panggilan Allah.
·         Tahan dalam penderitaan, ketabahan hatinya nyata sekalipun dirinya dikesampingkan. (7:10 – 17).

iii.    Metode P.I Masa Kini
Kitab Amos adalah suatu kitab yang menarik dan relevan bagi Pengabaran Injil (P.I) masa kini.
Oleh karena kemerosotan rohani, banyak umat Allah yang “tersesat”.
Kitab Amos memiliki dua perspektif dalam penginjilan (P.I)
·         Keluar (kepada bengsa-bangsa yang tidak mengenal Allah) yang ada disekitar Israel.
·         Kedalam (kepada Israel dan Yehuda) menyampaikan teguran – dan pemulihan.

Dalam perspektif gereja masa kini, P.I keluar memenangkan / membawa jiwa kepada Kristus, kedalam – pemulihan (pendewasaan) jiwa-jiwa yang telah dimenangkan dalam wadah gereja.
Gereja yang hidup – bertumbuh, adalah gereja yang memiliki dua mata padang” dalam P.I, memenangkan jiwa baru dan membawa mereka kepada pertumbuhan rohani kearah kristus.

Penginjilan adalah dasar dalam mendirikan gereja, pertumbuhan gereja selalu berkait dengan penginjilan. Berkembangnya gereja dilihat dalam empat pertumbuhan : (1) pertumbuhan kuantitatif – Gereja berkembang dengan pertumbuhan jumlah anggota., kadangkala karena perpindahan Jemaat. (2) Pertumbuhan Extensium – Gereja berkembang dengan membuka cabang-cabang, (3) Pertumbuhan Kualitatif – gereja memusatkan diri dalam pendewasaan Jemaat, sehingga jemaat itu kelak menjadi dewasa, (4) Pertumbuhan organik – gereja berkembang dalam organisasi dan disiplin yang baik.[10]

Dalam  kesimpulan umum P.I memiliki dua visi dan misi, pemenangan jiwa-jiwa dan pendewasaan rohani sesuai dengan amanat agung (mat. 28:18, 19).
Amos menampilkan metode penginjilan bagi pelayan-pelayan pemberita Injil masa kini, sebagai komunikator (pembawa berita) Amos mampu menyampaikan beritanya dengan baik, keberhasilannya (7:10) “negeri” itu tidak dapat lagi menahan segala perkataannya.
Amos sebaga komunikator mempu memahami para komunikan (penerima berita) sehingga “kelemahan” Amos dapat diatasi. Amos mampu menjadi pemberita yang efektif.

Memikirkan soal metode dalam proses pelaksanaan penginjilan yang kontekstual sangatlah penting untuk tugas misi yang diembannya agar dapat mencapai hasil yang diharapkan semaksimal mungkin.[11]

iv.    Prinsip P.I
Kitab Amos dalam hubungannya dengan P.I masa kini, memberikan prinsip-prinsip kebenaran sangat relevan bagi para pelayan kebenaran (Injil)
1.      Keyakinan akan panggilan Allah
2.      Metode pelayanan
3.      Penginjilan sebagai mandat ilahi

1)      Keyakinan akan panggilan Allah
Allah berkenan memakai siapa saja (1 kor 1:26 – 27) bahkan orang-orang yang sederhana Allah berkenan memakainya, Amos memahami hal ini, keyakinan akan panggilan Allah ini menjadikan Amos seorang komunikator yang efektif berintegritas tinggi.
Tanpa mengesampingkan mutu pendidikan, namun Allah berkenan memakai siapa saja yang dia kehendaki. Status pendidikan dan status sosial (yang dibawah rata-rata) hal itu juga menyulitkan ruang gerak Amos, Amos tidak dapat langsung menyampaikan berita utama bagi israel, bisa jadi kehadiran Amos ditolak dan berita Amos menjadi sia-sia.
·         Betapa pentingnya “pendidikan”, (kualitas seorang pemberita Injil) namun Amos mampu menutupi semua itu dengan sebuah keyakinannya akan panggilan ilahinya.

2)      Metode Pelayanan
Menyingkapi segala kelemahan Amos, Amos memakai metode pelayanan pola-pola pelayanan Amos, sangat efisien untuk ruang geraknya.
Hal yang harus diperhatikan bagi para pemberita Injil adalah (1) Keberadaanya, (2) dan apa yang disampaikan, (3) budaya – tempat sasaran – para komunikan. Para pemberita Firman (Injil) harus memperhatikan keberadaanya, bukan hanya kualitas dari pemberita (karena Allah, Allah juga berkenan memakai orang-orang lemah (sederhana) (1 kor 2:16, 17), namun integritasnya dan apakah pemberita Injil, keberadaannya bisa diterima, pemberita Firman (Injil) bukan hanya memahami “materi” yang disampaikan, keberadaannya dipastikan diterima, komunikator akan sangat kesulitan untuk menyampaikan beritanya, jika keberadaannya ditok. maka yang harus diperhatikan para pemberita Firman mampu “menjalin hubungan” dengan para komunikan – hal itu tidak lepas dari para komunikator memahami, tempat, budaya (sasaran para komunikan).

3)      Penginjilan sebagai mandat ilahi
Terlepas metode dipakai oleh komunikator, memahami budaya komunikan, peran Allah tidak boleh dilupakan, Allah yang memanggil, dia yang menyempurnakan panggilannya (yohanes, 15:16) Allah yang “menetapkan”, Dia bukan sekedar mengutus Dia juga memperlengkapi.
Allah sebagai pemberi mandat, (melibatkan umatNya, dalam tanggung jawab untuk melaksanakan rencana dan karyanya) sebagai inisiator penginjil, sebab dimana penginjilan harus dan berpusat pada Allah, Allahpun sebagai pelaksana dan penggenap dari penginjilan.



III
PENUTUP

Tentulah pribadi Amos memberikan kehebohan besar, fenomena rohani yang terjadi , disinalah prinsip kebenaran ditampilkan dalam kitab Amos.
(1 Korintus. 1:25 – 29), yang bodoh, yang lemah, yang tak terpengaruh, tidak berhikmat, tidak terpandang, hina tidak berarti – bagi dunia – dipanggil Allah menjadi alatnya – supaya tidak ada orang yang menyombongkan diri, (1 Korintus. 1:30) dalam kesemuanya, Allah memanggil – menguduskan – sehingga dapat bermegah dalam Kristus.
Prinsip-prinsip kebenaran ilahi yang ditampilkan dalam kitab Amos dalam hubungannya dengan P.I masa kini, memberikan pelajaran rohani tanpa mengesampingkan mutu / kualitas pribadi / pelayanan firman, Allah berkenan memakai orang-orang tidak dipandang (bodoh menurut dunia) pola pelayanan – pemberitaan amas – menampilkan sebuah metode yang menarik untuk dapat mencapai sasaran utama (Israel).
Penekanan kitab Amos dalam hubungan dengan P.I masa kini, bukan hanya sebuah tanggung jawab (memenuhi panggilan Allah) untuk menyampaikan pesan Allah, namun hikmat / metode komunikator untuk dapat menyampaikan berita kepada komunikan menjadi suatu yang penting sehingga sebagaimana Amos menjadi pelayan firman yang efektif dan berintegritas tinggi, tanpa kehilangan esensi dari pemberitaannya.
Para pemberita Firman (Pelaksana P.I) harus memperhatikan atau memiliki langkah-langkah praktis dalam melaksanakan P.I (1) pribadi komunikator, (2) berita yang akan disampaikan, (3) sasaran – komunikan. Dalam kesemuanya Allah yang menghidupkan pemberitaan itu dalam kedaulatannya.




DAFTAR PUSTAKA

1.      Frank. M.Boyd “KITAB NABI-NABI KECIL” Gandum mas – cet 7. 1999

2.      J. Sidlow Baxter “MENGGALAI ISI ALKITAB 2”. Yayasan Komunikasi Bina Kasih /OMF diterjemahkan oleh Sastro Sudirdjo – cet. 8. 2002

3.      Tafsiran Alkitab masa Kini” cet. 9 – YKBK / OMF, 2004

4.      Ensiklopedi Alkitab masa Kini, cet 5 – YKBK / OMF, 1998

5.      Nico Lomboan, S.Th. MA “TAFSIR PL NABI-NABI KECIL” (Hosea, Amos, Yunus) STT Pentakosta – Magelang, th. 2009

6.      Robinson Hutapea, S.Th. “PERTUMBUHAN GEREJA” GPdI, editor Denny Roemokoij – 1995

7.      Timotius Agus Suryanto, M.Th. “Misiologi II” (Penginjilan Lintas Budaya) S.Am.GPdI – 2008 - 2009






[1] Frank. M. Boyd :KITAB NABI-NABI KECIL”, Gandum mas, cet 7. 1999, hal 39
[2] J. Sidlow Baxter, “MENGGALI ISI ALKITAB 2”. Yayasan Komunikasi Bina Kasih / OMF, diterjemahkan oleh Sastro Soedirdjo – cet – 8, 2002, hal 378
[3] Tafsiran Alkitab Masa Kini, cet – 9. Yayasan Komunikasi Bina Kasih ? OMF, 2004, hal 614.
[4] Frank. M. Boyd. “KITAB NABI-NABI KECIL” Gandum Mas, cet – 7 . 1999, hal 43.
[5] Tafsiran Alkitab Masa Kini, cet-9. Yayasan Komunikasi Bina Kasih/OMF, 2004, hal 616
[6] Ensiklopedi Alkitab Masa Kini, cet-5. Yayasan Komunikasi Bina Kasih/OMF, 1998, hal 44.
[7] Frank. M. boyd, “KITAB NABI-NABI KECIL”, Gandum Mas. Cet-7. 1999, hal 42
[8] Nico Lomboan, s.Th, M.A. “Tafsir PL Nabi-Nabi Kecil” (Hosea, Amos, Yunus) STT Pentakosta – Magelang, hal 24, th. 2009
[9] Frank. M. boyd, “KITAB NABI-NABI KECIL”, Gandum Mas. Cet-7. 1999, hal 42
[10] Robinson Hutapea, S.Th, “Pertumbuhan Gerja” GPdI – Editor Denny Roemokoij – 1995, hal 117
[11] Timotius Agus Suryanto, M.Th, “Misiologi II” (Penginjilan Lintas Budaya) SAM. GPdI, 2008-2009 – hal 23.

Senin, 19 Maret 2012

EKLESIOLOGI DALAM PENDIDIKAN AGAMA KRISTEN


EKLESIOLOGI DALAM PENDIDIKAN AGAMA KRISTEN
                              


Pendahuluan

Eklesiologi (dari bahasa Yunani ἐκκλησια,ekklesia: gereja; dan λογος, logos: perkataan, firman, atau ilmu) merupakan salah satu sub-disiplin ilmu teologi yang membahas mengenai hakikat dan fungsi gereja, berkaitan dengan identitas dan misi gereja di dalam dunia. Dalam ranah gerejawi, eklesiologi adalah rumusan teologis-sistematis mengenai pemahaman gereja tentang dirinya. Dalam makalah ini penulis akan menjelaskan eklesiologi dalam hubungannya dengab Pendidikan Agama Kristen. Pendidikan Agama Kristen yang paling dasar adalah ketika seseorang dibesarkan dalam keluarga yang mengamalkan iman Kristen. Dengan demikian, pendidikan agama Kristen adalah pelayanan pedagogis dari pihak orangtua dan gereja yang secara khusus melibatkan pelayanan gerejawi dengan cara yang wajar dan alkitabbiah dalam pengalaman keluarga Kristen dan komunitasa jemaat.
Dalam makalah yang berjudul Eklesiologi dalam Pendidikan Agama Kristen (PAK), penulis akan menyajikan, Deskripsi Gereja,Unsusr-unsur Pendidikan Agama Kristen dalam gereja, Strategi Pendiddikan Agama Kristen dalam Gereja yang penulis uraikan sebagai berikut:

1.      Deskripsi Gereja
Dalam bahasa ingris kata gereja yaitu Church, dan bahasa serumpunnya adalah krik, berasal dari bahasa gerika kuriakon yang “berarti milik Tuhan”.[1] Charles c.Ryrie menambahkan, kata gereja yang dalam bahasa inggrisnya “church” diambil dari bahasa yunani ‘’EKKLESIA’’ yang berarti “dipanggil keluar.” Kata ekklesia merupakan gabungan dari kata depan “ek” yang berarti keluar dan kata kerja “kaleo” (Klesia) yang berarti dipanggil. Secara khusus kata ini digunakan untuk menggambarkan kelompok orang yang dipanggil keluar untuk tujuan khusus dan pasti.[2] Artinya; kelompok/komunitas orang-dalam gereja mereka adalah orang-orang yang dikhususkan Tuhan untuk tujuan yang khusus, dan dalam Tujuan khusus Tuhan inilah sesuai dengan amanat  Agung Tuhan Yesus, umat untuk diajar melakukan segala sesuatu yang perintahkan oleh Yesus Kristus, maka dalam hal ini gereja menjadi salah satu wadah/tempat pembinaan-pemuridan. (Matius. 28:20). Gereja yang dipahami sebagai perhimpunan dari individu-individu untuk satu tujuan.[3]

2.      Unsur-unsur Pendidikan Agama Kristen Dalam Gereja
Dilihat dari tujuan penerapan PAK ini, gereja sebagai Tubuh Kristus merupakan sebuah lembaga yang mempunyai tugas dan bertanggung-jawab dalam menerapkan PAK kepada jemaat-Nya. Ditengah-tengah banyaknya tugas yang harus dilaksanakan oleh gereja seperti mengadakan kebaktiam umum, sakramen, menyampaikan firman kepada jemaat yang menjauh dari-Nya, melakukan penggembalaan dengan visitasi pastoral kepada jemaat-Nya, gereja juga perlu melakukan tugas pengajaran. Tuhan sendiri telah memberi amanat ini kepada gereja, yakni supaya mengajar. PAK  tak lain dan tak bukan hanyalah suatu pemberian dan amanat Tuhan sendiri kepada jemaat-Nya. Dalam Efesus 4:11, Tuhan telah memanggil dan mengangkat dari antara anggota-anggota gereja “baik rasul maupun nabi-nabi, baik pemberita-pemberita Injil maupun gembala-gembala dan pengajar-pengajar. Pelbagai tugas diletakkan Tuhan atas bahu jemaat, beberapa pelayanan dipercayakan-Nya kepada Gereja-Nya diantaranya termasuk tugas mengajar dan mendidik orang dalam agama Kristen. Dibawah ini beberapa praktek PAK yang dipraktekkan dalam pembinaan-pemuridan. Antara lain:

i.                    PAK pada Anak Sekolah minggu
Pendidikan Agama Kristen kepada Anak. PAK Anak merupakan suatu pengajaran yang ditujukan secara khusus kepada anak-anak dari balita sampai pra remaja. Oleh karena di dalam gereja, PAK Anak berkaitan dengan Komisi Anak atau Pelayanan Anak Pantekosta (PELNAP), secara teknis organisasi, Sekolah Minggu merupakan salah satu divisi pelayanan PAK kepada anak-anak. Fungsinya adalah “meneruskan” pemberitaan (kerygma) dan pengajaran (didache) Kabar baik (Injil) tentang Kerajaan Allah yang sudah, sedang dan akan digenapi.  Melihat fungsi ini, maka dapat disimpulkan bahwa penerapan PAK Anak melalui Sekolah Minggu bertujuan untuk menjadikan anak-anak sebagai murid Kristus yang baik. Menjadi murid Kristus yang baik, artinya:
a.    Anak-Anak mengenal Allah Bapa, Yesus Kristus dan Roh Kudus dalam kehidupannya.
b.    Anak-Anak mengerti akan kedudukan dan panggilan mereka sebagai anggota-anggota gereja Tuhan (Anak-Anak Allah) dan turut bekerja bagi perkembangan gereja (mau ambil bagian dalam pelayanan sesuai dengan talenta mereka).
c.    Anak-Anak dapat mengasihi sesamanya oleh karena Tuhan telah mengasihi mereka sendiri.
d.    Anak-anak tahu dan insaf akan dosanya dan meminta ampun dan melakukan pembaharuan pikiran sehingga dapat membedakan kehendak Tuhan (Roma. 12:1,2)
e.    Anak-Anak mau dan suka belajar mengenai berita Alkitab, suka mengambil bagian dalam kebaktian jemaat dan suka melayani Tuhan di segala lapangan hidup mereka.
Inilah arti sebagai murid-murid Kristus sekaligus menjadi tujuan PAK yang harus diberikan oleh gereja kepada anak-anak di dalam komunitas jemaat. Untuk mewujudkan tujuan tersebut di atas maka PELNAP merupakan unsur penting yang dapat dikatakan bertanggung-jawab dalam memberikan pendidikan agama Kristen kepada Anak. Pelayanan PAK kepada anak ini sangat diperlukan untuk mendukung perkembangan iman spiritualitas anak. Spiritualitas diturunalihkan dari dari kata sifat dalam bahasa yunani pneumatikos, (spiritual), berasal dari kata pneuma yang berarti spirit atau angin,nafas, roh. Pneuma mengacu pada unsur supranatural atau sesuatu yang tidak dapat diraba (non materi), tetapi dapat dilihat melalui cara kerjanya.[4] Sedangkan spiritualitas adalah mutu kehadiran orang-orang percaya  memperagakan nilai-nilai kehidupan kristen dalam hidup keseharian.[5]
Sekolah Minggu memang menjadi wadah dimana anak-anak dididik untuk bertumbuh dalam iman Kristian. Walaupun guru sekolah minggu merupakan “Si Pemegang Kunci” keberhasilan PAK anak dalam Sekolah Minggu, unsur keterlibatan orangtua adalah suatu keharusan. Orangtua perlu mengetahui perkembangan anak dalam proses pendidikan iman di Sekolah Minggu. Oleh sebab itu, komunikasi secara teratur dan berkualitas antara orangtua dan pelayan Sekolah Minggu penting untuk dilakukan. Untuk mendukung keterlibatan orangtua anak dalam perkembangan anak di Sekolah PELNAP.
ii.                  PAK Pada Pertemuan-pertemuan ibadah Ibadah
Dalam (Ibrani.10:25) Umat Tuhan ditegaskan untuk tidak meninggalkan pertemuan-pertemuan ibadah menjelang hari Tuhan yang mendekat. Dalam pertemuan-pertemuan ibadah di gereja adalah tempat pembinaan-pemuridan, sebab semua orang kristen adalah murid (disciple) yang berarti pengikut (follower) dari Kristus. Artinya dalam hal ini anggota jemaat bukan sekedar pengikut tetapi yang memiliki disiplin dalan mengikuti semua perintah Kristus. Donald Guthrie dalam bukunya menuliskan; bahwa Yesus mengumpulkan sekelompok orang yang dalam arti khusus dapat disebut sebagai murid-murid-Nya.[6] Artinya; Yesus mengganggap bahwa orang-orang (jemaat) yang mengikuti Dia sebagai “murud-murid” yang selalu di ajar untuk menjadi seperti gurunya (Yesus).
Dalam pertemuan-pertemuan ibadah jemaat yang adalah murid-murid mendapat pengajaran melalui berita firman/khotbah yang disampaikan oleh gembala sidang tau para pengajar/pengkhotbah yang lain.
iii.                Tujuan Pendidikan Agama Kristen Dalam Gereja
Tujuan pendidikan agama Kristen terjadi dalam komunitas berjemaat dimulai dari usia anak-anak, dewasa dan yang terakhir adalah warga jemaat. Pendidikan agama kristen bagi anak-anak(sekolah minggu) agar anak tersebut dapat menerima kepercayaan dan pewarisan nilai-nilai rohani yang dianut oleh orangtuanya, misalnya belajar bertindak baik, bertumbuh secara wajar dalam iman Kristen. Pendidikan agama kristen bagi orangtua/jemaat dewasa (remaja-manula) adalah untuk menyediakan pengalaman belajar yang menolong jemaat mempertimbangkan sejumlah cara untuk mengurus rumah tangga dan juga dampaknya bagi pertumbuhan anak.Tujuan pendidikan agama Kristen untuk warga jemaat adalah untuk menyediakan pengalaman belajar secara teratur sepanjang umurnya melalui seluruh tata cara ibadah/kebaktian, khususnya melalui khotbah dan pembacaan alkitab/firman Allah.
3.      Penutup
Pendidikan Agama Kristen merupakan perintah dari Tuhan Yesus Kristus yang disebut Amanat Agung dalam Matius 28:18-20. Pendidikan Agama Kristen itu unik, berbeda dengan pendidikan umum karena prosesnya tidak hanya dikerjakan manusia, tetapi juga melibatkan Allah. Keterlibatan-Nya mutlak diperlukan karena Pendidikan Agama Kristen bukan hanya mendidik secara ilmu pengetahuan, namun  juga membentuk karakter. Untuk memberikan gambaran tentang Pendidikan Agama Kristen.
PAK adalah suatu yang harus terjadi dan dilakukan di kelompok umat/gereja. Untuk umat dapat bertumbuh menjadi seperti Yesus harus melalui pembinaan-pemuridan sehingga umat dapat meniru apa yang dilakukan oleh Yesus atau umat Tuhan menjadi peniru-peniru Kristus. Seperti paulus yang telah menjadi peniru Kristus demikian juga Timotius yang telah mengikuti (menjadi peniru) cara paulus 1 korintus 11:1; 2 Timotius. 3:10, Artinya persekutuan antara Paulus dan Timotius menjadikan Timotius meiliki gaya gidup seperti Paulus seperti Paulus telah menjadi seperti Yesus.
Pembinanan pada komisi anak (PELNAP) dan pertemuan-pertemuan ibadah adalah menjadi suatu cara dan tempat untuk orang-orang percaya dibina/diajar menjadi seperti Kristus dalam pertemuan-pertemuan ibadah inilah menjadi tempat untuk mengevaluasi diri orang percaya. Mulyasa menjelaskan dalam bukunya; “Evaluasi atau penilaian merupakan aspek pembelajaran yang paling kompleks, karena melibatkan banyak latarbelakang dan hubungan, serta variabel lain yang mempunyai arti apabila berhubungan denhan konteks yang hampir tidak mungkin dapat dipisahkan dengan setiap segi penelitian. Tak ada pembelajaran tanpa penelitian, karena penelitian merupakan proses menetapkan kualitas hasil belajar, atau proses untuk menentukan tinglkat pencapaian tujuan pembelajaran oleh peserta didik”. Artinya dalam gerejalah tau pertemuan-pertemuan ibadah lainnya umat Tuhan bukan sekedar diajar melainkan gereja menjadi tempat mengevaluasi diri untuk menstandarkan hidup sesuai standar Alkitab/ajaran Yesus Kristus.



Daftar Pustaka:

Alkitab, LAI 2007

 Donald Guthrie,Teologi Perjanjian Baru 3, Bpk Gunung Mulia, Jakarta: 2001

Jurnal Teologi PENGARAH, STTA Tiranus, Bandung, juli 2010

Martin B.Daiton, Gereja milik siapa?(Jakarta :YKKBVK/OMF.1994)

Charles C.Ryrie, Teologia Dasar 2 (Yogyakarta: Andi offset,1998)

Narthtop, Chuck, Bibically Speaking about the church, (Charles A. Nortop Jr. 1997)


[1]Martin B.Daiton, Gereja milik siapa?(Jakarta :YKKBVK/OMF.1994), hal. 10
[2] Charles C.Ryrie, Teologia Dasar 2 (Yogyakarta: Andi offset,1998), hal 184
[3]Narthtop, Chuck, Bibically Speaking about the church, (Charles A. Nortop Jr. 1997) hal 2
[4] Jurnal Teologi PENGARAH, STTA Tiranus, Bandung, juli 2010,hal 30
                                 
[5] Ibid, hal 2
[6] Donald Guthrie,Teologi Perjanjian Baru 3, Bpk Gunung Mulia, Jakarta: 2001, hal 29

Jumat, 16 Maret 2012

Kanna Ministry Jakpus

SISTEMATIKA THEOLOGIS

DALAM PERSPEKTIF PETRUS WINARWATO

Pendahuluan
Dalam penulisan makalah ini, penulis mencoba menjelaskan sistematika teologi dalam perspektif penulis, maksudnya adalah penulis menjelaskan pandangannya tentang teologi. Teologi sistematka adalah teologi yang berusaha menjelaskan iman kristen dengan melakukan sistematika/tata urutan dogma yang berorientasi pada alkitab. Teologi sistematika yang penulis sajikan pada mklh ini meliputi: Allah (Teologi) , Kristus (Kristologi), Keslamatan (Soteriologi), dan Manusia (Antropologi).
Pengertian Teologi sistematika
Alkitab secara keseluruhan tidak dituliskan berdasarkan dogma-dogma dalam setiap peritiwa historis, para penulis alkitab menuliskan tulisannya sebatas pemenuhan kebutuhan jemaat pada waktu itu, sehingga dalam memahaminya harus dilakukan sistematisasi bagian-bagian alkitab pada kejelasan makna bukan pada definisi makna. Untuk mendapatkan kejelasan membutuhkan penalaran, penalaran berkaitan dengan proses kritis. Hal ini berarti teologi dibangun berdasarkan proses kritis subjektif yang meliputi analisis definisi dan sintesis empiris.
Sumber teologi sistematika adalah alkitab yang menjadi sumber utama, sedangkan kredo, tradisi, penalara/sistem logika (sumber sekunder). Artinya; sistematika theologis penulis dikonstruksikan berdasarkan tanggung jawab yang berorientasi pada ima kristen yang tunduk kepada Alkitab sebangai penyataan Allah dan kebenaran tertinggi dalam dimensi ruang, waktu dan gerak sebagai dimensi terbatas.
Bab 1
ALLAH (TEOLOGI)
Iman kristen tidak lepas dari pemaknaan tentang Allah dan konsep Allah yang bersumber dari Alkitab. Secara prinsip`alkitab mengajarkan tentang apa yang harus dipercayai dan dipahami dengan benar. Hasil dari percaya adalah hidup yang kekal dalam Kristus Yesus. Alkitab menjelaskan mengenai apa yang harus dipercayai manusia mengenai eksistensi Allah dan karya-Nya serta tanggung jawab manusia kepada Allah. Se bab segala seuatu berkaitan dengan Allah, sang pencipta. Hal ini menjelasakan adanya perbedaan antara Pencipta dan ciptaan-Nya.`
Asumsi dasar tentang Allah terdapat dalan Yohanes. 4:24 “Allah itu Roh.....” Artinya; Allah bukan konstruksi material yang dapat dilihat /diamati sehingga mendaptkan kesimpulan yang benar tentang Allah. Sebaliknya alkitab menyatakan bahwa Allah adalah Roh adanya (Allah yang tak terbatas, yang memiliki kedaulatan otoritas yang mutlak). Hal ini dinyatakan dalam eksistensi-Nya yang berbeda dengan ciptaan-Nya. Allah tidak dibatasi oleh segala keterbatasan dalam dimensi terbatas, tetapi Allah mampu menggunakan keterbatasan dalam ruang waktu dan gerak untuk menyatakan diri-Nya. Allah berdaulat, berotoritas dan maha hadir adalah Allah pencipta yang menciptakan langit dan bumi beserta isinya. Allah pencipta yang memiliki perbedaan yang tetap dan baku dengan ciptaan-Nya. Hal ini berarti sampai kapanpun Allah tetap Allah pencipta. Allah pencipta yang berbeda dengan ciptaan-Nya. Allah yang tak terbatas mengatsi mengatsi dan melampaui dimensi terbatas, Ia adalah Allah yang mampu harmonis serasi dengan hukum-hukum keterbatasan atau hukm alam semesta. Allah tudak tunduk pada hukum alam namun Allah mampu menggunakan hukum alam untuk menyatakan kemuliaan-Nya.
Allah yang adalah Roh, tidak berhubungan dengan suatu perubahan tetapi melampaui tindakan dan proses perubahan. Allah tidak berubah, Artinya; Allah mengatasi perubahan dan sumber perubahan yang tidak berubah, tidak berubah berkaitan dengan realitas tak nampak, tak berubah sehingga Allah tidak dapat menyangkal diri-Nya sendiri. (2 Tim 1:13). Allah adalah Roh yag tidak akan mengalami perubahan, perubahan didasarkan pada potensi berubah dan bergantung pada sesuatu yang lain yang berasal dari luar dirinya untuk mewujudkan potensi berbah.

Pengakuan iman injili tentang Allah (didasari dari pengakuaniman Rasuli)
Kami percaya kepada satu-satunnya Allah yang hidup dan benar , yang kekal dan keberdaan-Nya tergantung pada diri-Nya , yang melampoi dan mendahuui semua ciptaan, yang dalam kekekaan-Nya ada dalam tiga pibadi , Bapa, Putera, Roh Kudus, yaitu yang ekhad, yang menciptakan alam semesta dari ketiadaan oleh Firman-Nya yang berkuasa, yang menopang dan memerintah segala sesuatu tang telah diciptakan-Nya serta memelihara ketetapan-ketetapan-Nya yang kekal.


  1. Allah adalah Pribadi (Keluaran. 3:14)
Allah memiliki kepribdian. Artinya Allah bukan zat atau kekuatan, bukan simbolkekuatan, bukan metafora kristen. Allah adalah Allah yang berpribadi. Artinya; Ia memiliki rasio, sehngga dapat memetapkan da mengadakan perjanjian (cavenant) . “Aku adalah Aku” (kel 3:14) Menjelaskan dan menegaskan kemaha hadiran Allah, Allah ada dalam keberadaan-Nya yang rasional (bertindak sesuai dengan rasio/akal-Nya).
Pribadi Allah tidak disebabkan oleh seuatu diluar diri-Nya. Pribadi Allah menegaskan Dia ada, hadir dan bertindak. Allah berpribadi menegaskan bahwa Ia bukan Allah yang pasif ( yang tidak melakukan apa-apa) melainkan Allah yang aktif dalam diri-Nya. Aktifnya Allah tidak dapat diukur dari perspektf atau sudut pandag manusia yang terbatas adanya. Allah berpribadi bukan hasil kesimpulan manusia
melainkan Allahlah yang menyatakan-Nya dalam A. Allah berpribadi bukan hasil kesimpulan manusia melainkan Allahlah yang menyatakan-Nya dalam Alkitab.
Allah berpribadi menyatakan diri-Nya dalam sejarah kehidupan manusia dalam Yesus Kristus. Yesus Kristus adalah Allah yang menjadi daging.
  1. Allah adalah sempurna dan tak terbatas
Allah yang sempurna dan tak terbatas menegaskan bahwa Allah berbeda dengan ciptaan-Nya. Hal itu berarti keberadaan Allah yang sempurna bebas nilai dari semua yang terbatas dan yang tak sempurna.
Kesempurnaan Allah dinyatakan dalam sifat-sifat-Nya. 1 Raja 8:27; Maz 90:2-4; Yer 23:24; Yes 40:28; 1 Yoh 30:20. Kesempurnaan Allah tidak berasal dari luar diri-Nya melainkan dari diri-Nya sendiri. Kesempurnaan dan tak terbatasnya Allah tidak ditentukan oleh bahasa ungkapan tetapi berdasarkan penyataan-Nya melalui bahasa manusia. Allah sempurna dan tak terbatas tidak dapat berubah atau berkurang (kualitas tidak berkurang) saat berada dalam dimensi terbatas. Dimanapun Allah ada, Allah tetap Allah yag sempurna dan tak terbatas. Allah tidak dapat dipenjara dalam pikiran, perkataan dan perbuatan (dimensi ruang , waktu, gerak dan semua benda terbatas) melainkan Allah mengatasi segala hal. Allah yang sempurna dipahami sebagia Allah yang engatasi segala sesuatu bukan segala sesuatu mengatsi Allah.
  1. Allah adalah Allag yang bebas, harmonis dan serasi
Keberadaan Allah tidak bergatung pada sesuatu yang diluar diri-Nya. Hal ini menegaskan hanya Allah yang memiliki kebebasan dan kehendak bebas, manusia ciptaan-Nya tidak memiliki kebebasan, maksudnya manusia tetap terikat pada hukum keterbatasan. Allah adalah Allah yang absolute dan tidak terikat pada sesuatu duluar diri-Nya. Allah adalah Allah yang tidak dan tidak akan berubah-Allah bebas dari perubahan, proses ada-menjadi tidak mengikat diri-Nya –karena perubahan menerupakan suatu proses dalam dimensi terbatas. ( dulu ‘Ada’ sekarang ‘Ada’ dan yang akan datang ‘Ada’).
  1. Transendi dan imanensi Allah
Allah transenden dipahami sebagai Allah yang mengatasi segala hal dan memiliki kemisteriusan. Allah yang kekel, sangat jauh, berbeda dan tersembunyi. Transendendi Allah menegaskan bahwa tidak ada satupun yang dapat mencapi-menghampiri Allah selain diri-Nya sendiri. Allah transenden yang memiliki control, otoritas dn kedaulatan-Nya.
Allah Imanen dipahami sebagai Allah yang terlibat dalam sejarah kehidupan manusia dan ciptaan lain. Allah yang memberikan janji-janji kepada umat-Nya. Adanya solidaritas Allah. Allah berinisiatif mengunjungi manusia dengan menggunakan bahasa, pengertian dan waktu yang dapat dimengerti dan dipahami manusia.
  1. Allah Trinitas.
Bahasa matematis tidak dapat digunakan dalam bahasa theologis. Bahasa theologis merupakan media untuk manusia (orang percaya) memahami Allah yang tak terbatas, yang tidak terikat dengan bhasa manusia. Istilahtrinitas/trituggal bukan menjelaskn relasi relasi dari tiga Allah melainkan satu Allah yang memiliki tiga pribadi. Trinitas bukan berarti triteisme. Trinitas/tritunggal memiliki makna Allh adalah satu hakekat/esensi dan tiga pribadi. Istilah trinitas bukan berasal dari Alkitab, sedangkan konsep trinitas bersumber pad Alkitb (ulangan 6:4). Ajaran trinitas tidak secara lengkap dan utuh menjelaskan tentang karakter Allah yang bersifat misteri. Ajarain ini meneguhkan bahwa batas rasio manusia yang terbatas. (mat 3:19; 28:19; 2 Kor 13:13; 1 Petrus 1:2 ).Trinetas adalah tiga pribadi ( Bapa, Anak dan Roh Kudus ), satu Allah.Masing-masing pribadi tidak dapat dipisahkan, tidak melebur dan tdak sederajat (tidak salah satu yang mengatasi yang lain).
Allah adalah ekhad (Tunggal-jamak) yang dimaknai sebagai singularitas Dei. Artinya ; Tidak ada Allah lain selain Allah yang keberadaan-Nya tunggal-jamak / jamak-tunggal. Singularitas Dei berorientasi pada simplicitas Dei (simple/sederhana). Artinya ; tidak ada sifat kejamakan dalam diri Allah. Tidak ada Allah lan yang dapat menyama Allah Alkitab yang berpribadi dan berdaulat mutlak. Allah adalah suci, adil (memelihara norma-norma) dan benar,kasih.
Konsep Allah Trinitas adalah tiga pribadi dalam satu kesatuan eksistensi keilahian. Trinitas dibedakan dengan Tri-teisme (percaya pada 3 Allah) , modalisme (sabelius : satu Allah dalam 3 manifestasi/eksistensi ) , arianisme-Allah yang bertingkat-tingkat/struktural (Anak subordinasi pada Bapa. Allah tidak diciptakan, anak lebih rendah dari Bapa, kristus diciptakan oleh Bapa ). Konsep Trinitas memiliki makna teologis bukan matematis. Makna teologis adalah makna yang berkaitan dengan eksistensi dan esensi Allah. Hal itu konsep Trinitas menyatakan bahwa Allah yan berdaulat tidak dibatasi oleh konsep sebaliknya konsep trinitas dimaknai dalam perspektif dan persepsi teologis, sehingga makna teologis Trinitas yang dihasilhan berorientasi pada kemuliaan Allah yang mengatasi dimensi terbatas dan kemuliaan Allah yang hadir dalam dimensi terbatas yaitu di dunia ini.
Allah tidak dapat dipahami dengan tuntas utuh berdasarkan cara berpikir yng ada didalam dunia terbatas yang terikat oleh ruang dan waktu. Allah tiga pribadi bukan berarti tiga Allah, melainkan satu Allah. Tiga pribadi Bapa, Anak dan Roh Kudus bukan urutan kedudukan yang terikat dengan waktu. Bahwa Bapa lebih dahulu dari Anak dan Roh Kudus. Anak lebih dulu dar Roh Kudus dan terakhir Roh. Konsep berpikir diatas, dipengaruhi oleh kontek manusia yang berpikir dalam keterikatannya dengan ruang dan waktu suatu dimensi terbatas. Bukti-bukti dalam alkitab: Allah berbicara tentang diri-Nya dalam bentuk jamak (kj 1:26; 18:1-21; 19:1-21). Roh Kudus adalah pribadi nyata (Yes 48:16; 63::10). Mesiah (Yes 61:6; 13:13; Lukas 3:21-22; 1:35; 1 Kor 12:4-6; 1 Pet 1:21).
Allah tritunggal adalah Allah berpribadi yang membuktikan ada pluralitas dalam diri Allah yang tidak dapat dipasah-pisahkan. Allah berpribadi bukan Allah sebagai suatu pribadi. Allah Tritunggal adalah tiga pribadi (hupostastis/persona) Bapa, Anak dan Roh Kudus memiliki dererajat keAllahan yang seimbang dan tak terpisahkan satu dengan yang lainnya atau menguasai satu dengan yang lainnya. Allah tritunggal bukan susunan atau urutan melainkan kesatuan.
  1. Hal yang harus diperhatikan saat memahami Allah
Dalam memahami Allah dalam kesempurnaa-Nya, prinsip penting yang harus diperhatikan sehingga tidak terjebak dalam usaha untuk merekonstruksi Allah dalam pikiran manusia yang terbatas. Hal itu adalah sebagai berikut:
  1. Pikiran-pikiran Allah tidak diciptakan, sedangkan pikiran manusia diciptakan. Hal ini menjelasakan bahwa ada perbedaan yang jelas antara Allah dan manusia.
  2. Pikiran Allah bersifat menentukan dan menetapkan edangkan pikiran manusia disebabkan.
  3. Allah sebagai sumber nilai, manusia adalah pengguna nilai.
  4. Allah tidak menytakan diri-Nya secara tuntas kepada manusia sehingga masih ada sisi lain dari Allah yang masih menjadi misteri bagi manusia.
  5. Allah tidak dibatasi oleh batasan yang ada, karena Allahlah yang memiliki dan menjadikan batasan-batasan yang ada. Allah melampaui dan mengatasi yang terbatas.
  6. Allah sempurna dan kesempurnaan-Nya yang dalam dimensi terbatas, pemahaman tentang Allah menggunakan bahasa dan symbol-simbol yang tebatas sehingga tidak menjadi kesempurnaan dalam dimensi tak terbatas.
Allah mengizinkan diri-Nya dipahami degan bahasa manusia, tetapi Allah tetap subjek yang mengatasi objek. Dalam pemahaman teologi Allah harus diempatkan pada poros yang benar. Jangan menurunkan Allah menjadi ciptaan, dan manusia menjadi pencipta.
Bab II
KRISTUS (KRISTOLOGI)

Tidak ada nama lain yang lebih mendapatkan perhatian serius yang diperlihatkan dalam riwayat hidup Yesus Kristus. Kekristenan selalu memberi penghormatan kepada Yesus Kristus sebagai pusat/pokok sejarah dan thologianya. Dalam memahami Kristologi, seseorang harus lebih memperhatikan esensi dari ajaran dari pada hanya melibatkan diri pada persoalan-persoalan theologis yang kurang penting.
Kristologi berarti ilmu pengetahuan yang menylidiki tentang Kristus atau teologi Kristus. Pemahaman Kristologi berdasarkan rasional, empiris dan iman sebagai dasar teologi. Teologi merupakan usaha untuk merenungkan, memikirkan secara metodis, sistemais dan konsisten tentang Allah ( Kristus ). Kitab Injil tidak hanya berdifat sejarah saja atau pewartaan semata, tetapi bersifat ‘sejarah yang dikerygmatiskan’ Sejarah yang dikerygmatikan artinya unsur sejarah dan kerygma berkaitkan saling meneguhkan dan menjelaskan. Kristologi menyatakan natur ilahi dan natur manusiawi berada dalam satu pribadi-dua hakekat dalam satu pribadi-yaitu Yesus Kristus.
Teologi adalah ilmu pengetahuan yang didasarkan kepada Allah. Kristologi adalah ilmu tentang kristus yang berdasarkan wahyu dan rasio manusia, tetapi juga pada penyataan Allah (dasar dasar dari teologi). Kristologi yang penulis maksud adalah Kristologi yang berpusat pada Yesus Kristus. Yesus dari Nazaret adalah Kristus dan Tuhan.
Asumsi iman kristen : Yesus Nazaret dalah Kristus dan Tuhan. Yesus : nama diri, Kristus : gelar fungsional Yesus dalam sejarah keselamatan. Pokok perawatan/berita/kerigma Kristen pada abad pertama adalah Yesus itu Kristus. Orang Kristen Roma pada masa aniaya berlindung dibawah kota Roma dengan memberikan symbol ‘ ikan ‘ = ikhthus sebagai tempat komunitas Kristen. Ikhthus juga berarti Ieschus Khristhos Theo Uios Soter : Yesus Kristus Putra Allah penyelamat. Yesus (Yoshua, Yeshua) yang berarti juruselamat. Dalam Matius 1:21 Juruselamat menunjuk pada Yesus Kristus. Eksistensi Yesus Kristus memiliki dua sifat yaitu Allah dan manusia ( theantropis : Theos : Allah, antros = manusia).
Kristus dipahami dalam metode kristologi dari atas ( Yesus sebagai Allah ) dan kristologi dari bawah ( Yesus adalah manusia ), Kristus yang kerygmatis ( interpretasi Yesus dari Nazaret sesuai dengan pewartaan dan kesaksian iman umat purba ) dan Yesus yang histories berdasarkan peristiwa histories-Nya. Secara singkat dapat dikatakan bahwa kerygma Kristus adalah suatu interpretasi Yesus dari Nazaret sehingga iman kristen pada dasarnya hanya berdasarkan pada Yesus. Yesus adalah Kristus dan Kristus adalah Yesus. Dua hal ini tidak dapat dipisahkan. Kristologi dari bawah adalah mendekati Yesus sebagai pribadi yang sungguh-sungguh manusia. Yesus yang pernah hidup di daerah Palestina. Hal ini berarti memahami Yesus melalui kemanusian-Nya atau manuia Yesus dari Nazaret. Kristologi dari atas yaitu mendekati Yesus sebagai Yesus yang benar-benar Allah. Bagi gereja mula-mula, paskah menjadi iman kepada Yesus Kristus sebagai Anak Allah sehakekat dengan Allah. (Gal 4:4; Rom 8:3, Fil 2:6-11) adanya gagasan pra-eksistensi Yesus menghasilkan konsep inkarnasi : Allah menjadi manusia. (Yoh 1:14). Memahami Yesus adalah Allah harus menggunakan metode kristologi yang harus tetap mempertahankan ketegangan antara Kristologi dari bawah dan Kristologi dari atas.
Yesus adalah Allah yang berinkarnasi jadi manusia atau firman yang menjadi daging. Ia adalah Allah, memliki sifat-sifat ke-Allah-an, setara dengan Bapa, Ia tidak berdosa ( jika Yesus berdosa, Maka kelahiran-Nya diragukan). Yesus memiliki dua natur yatitu illahi dan manusiawi dalam satu kesatuan hipostatik . Dua natur dalam Yesus tidak bercampur atau mendominasi satu terhadap yang lain dalam satu pribadi. Kekekalan atau ketidak-terbatasan Allah tidak dapat berubah menjadi terbatas. Sebaliknya keterbatasan daging tidak dapat berubah menjadi tak terbatas.
  1. Pemahaman Kata ‘Yesus Kristus’
Yesus adalah nama diri atau pribadi, yang menunjukkan keberadaan didri-Nya. Nama yang membedakan pribadi satu dengan pribadi yang lain. Kata ‘Kristus/Khrsthos’ adalah gelar yang dikenakan pada diri, yang mengacu pada terjemahan kata ibrani ‘Mesias’ yang berarti ‘Yang diurapi’. Yesus Kristus berarti Yesus yaang telah diurapi oleh Allah menjafi juru selamat umat-Nya.
‘Yesus Kristus’ merupakan kalimat pengakuan iman/syahadat singkat orang percaya. Artinya dengan menyebut Yesus Kristus memiliki makna percaya Yesus Menyelamatkan. Yesus Sang Mesias. Secara utuh pengakuan iman Kristen tentang Yesus Kristus adalah Yesus dari Nazaret adalah Sang Kristus dari Allah. Yang selanjutnya disebut Yesus Anak Allah, Yesus adalah Tuhan. Mat 14:33; Mark 15:39; Kis 9:20; 2:36; Rom 10:9; 1 Kor 8:6.
  1. Siapakah Yesus Kristus itu?
Eksistensi Yesus adalah Allah sesusai Yoh 1:1 “Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah” Firman itu adalah Allah, Yesus adalah Allah. Inilah awal yang tak berawal. Yesus adalah Ada yang tidak diadakan dan tida mengalami proses berada. Keilahian Yesus tidak dapat dipisahkan dari Allah Bapa dan Roh Kudus. Keberadaan Yesus sebelum Firman menjadi daging pada dimensi yang tak terbatas adalah Roh karena Allah adalah Roh (Yoh 4:24) Roh tidak dibatasi oleh batasab-batasan yang ada dalam dimensi terbatas.
Eksistensi keilahian Yesus –Firman sebelum menjadi manusia/daging- adalah kekal tidak terikat oleh sesuatu dari luar diri-Nya. Yesus tetap Allah tanpa atau dengan pengakuan manusia. Yohanes 8:58 “.....sesunggungnya sebelum Abraham jadi, Aku ada. “ Hal ini menjelaskan eksistensi Yesus ada sebelum Abraham jadi. Dan Yesus mengatakan ‘Ada’ bukan ‘jadi’
  1. Keilahian Yesus Kristus
Berdasarkan Kolose 2:9 “ Dalam Dialah berdiam secara jasmaniah seluruh kepenuhan Allah.” Hal ini menjelaskan bahwa segala keberadaan Allah ada pada Yesus. Sifat keilahian yang berkaitan dengan Allah Bapa dan Roh Kudus. Sifat-sifat itu antara lain:
  1. Kekal (tidak terikat oleh waktu atau melampaui/ mengatasi waktu)
  2. Ada tanpa diadakan . keberadaan tanpa dijadikan atau diusahakan melainkan keberadaan yang yang ada yang menjai ada.
  3. Maha hadir (omnipresent). Matius 28:20. Jika Yesus adalah Allah maka Ia maha hadir. Jika Ia maha hadir maka Yesus adalah Allah.
  4. Yesus Maha Tahu (Yohanes 2:24-25) Jika Yesus Allah, maka Ia maha tahu, jika Ia maha tahu, maka Dia adalah Allah.
  5. Maha Kuasa (omnipotent) Matius 9:6; 28:18; Lukas 8:25; Yohanes 10:18
  6. Tidak berubah. Adanya perubahan hanya terjadi dalam keterbatasan ruang dan waktu. Segala esuatu yang ada dalam dimensi terbatas pasti dibatasi oleh perubahan atau process perubahan/process menjadi. Yseus Krisus tidak berubah dijelaskan ahwa Yesus Kristus tidak terikat oleh ruang dan waktu dalam dimensi terbatas. Hal ini menjelaskan Yesus Kristus adalah Allah.
  7. Kedaulatan. Yesus memiliki otoritas Ilahi (Matius 28:18, 1 Petrus 3:22;Yohanes. 5:27). Jika Yesus adalah Allah, maka Ia memiliki kedaulatan. Jika Yesus memilii kedaulatan maka Yesus adaadalah Allah.
Keilahian Yesus Kristus ditegaskan dalam beberapa ayat Alkita antara lain: Yohanes 1:1, Pada mulanya adala Firman dan Firman itu adalah Alla. Yohanes 20:28 “Tomas mwnjawab Dia: “Ya Tuhanku dan Allahku,” Roma 9:5 “Ia adalah Allah yang harus dipuji sampai selama-lamanya.” Ibari 1:8 “Tentang Anak Ia (Allah berkata: Takhta-Mu, ya Allah tetap ntk selama-lamanya.” 1 Petrus 1:1 “Keadilan Allah dan Juruselamat kita, Yesus Kristus,”
Hal tersebut diatas berarti, Yesus Kristus adalah Allah yang mengatasi keterbatasan yang bersumber dari batasan-batasan yang ada berkaitan dengan proses ‘menjadi’ atau berubah menjadi. Yesus Ilahi yang keberadaan-Nya tidak dapat dipisahkan dari konsep Allah Tritunggal. Keilahian Yesus dikaitkan dengan Pencipta, Penebus, Pemelihara dan dapat melakukan intervensi pada dunia terbatas. Keilahian Yesus dapat berjalan harmonis dan serasi dalam dimensi tak terbatas dan terbatas. Keilahian Yesus sungguh-sunggung meneguhkan bahwa Yesus adalah Kristus, Kristus adalah Yesus.
  1. Kemanusiaan Yesus Kristus
Konsili Chalcededon 451: Yesus adalah benar-benar manusia dan benar-benar Allah dan kedua nature dari Kristus merupakan satu kesatuan yang tanpa percampuran, pemisahan tau pembagia, dengan demukian setiap natur memiliki atributnya masing-masing
Kemanusian Yesus dinyatakan dan diteguhkan melalui kelahiran-Nya dari anak dara Maria, memiliki darah dan daging (Yohanes 19:1,18) mengalami perkembangan dan perkembangan fisik dan psiologis. Kemanusiaan Yesus hanya berlaku dalam keterbatasan ruang dan waktu yaitu dunia atau sejarah manusia. Kemanusiaan Yesus bertumbuh normal. (Likas 2:52). Kemanusiaan Yesus/Yesus Insani berkaitan dengan kematian-Nya di kayu salib dan peneguhan fungsional jabatan ‘Yang di urapi’ dalam Perjanjian Lama adalah Nabi, Imam, Raja, dalam diri Yesus Kristus. Menolak kemanusiaan Yesus sama halnya dengan keilahian Yesus.
Kemanusiaan Yesus berhenti pada kayu salib hal ini tidak berarti Allah mati. Kemanusian Yesus menegaskan bahwa Allah tak terbatas itu mnyatakan diri-Nya dalam dimensi terbatas melalui yang terbatas pula. Hal itu terjadi karena yang terbatas tidak dapat atau mampu menerima selururuhnya atau slenkapnya yang ‘sempurna’ itu sehingga Allah yang sempurna itu berinisiatif menyatakan diri-Nya melalui yang terbatas walam wujud menjadi daging/manusia.
Kemanusiaan Yesus membawa tanggung jawab keslamatan dari Allah . Kemanusian Yesus berkaitan dengan dosa manusia/umat-Nya. Dosa ditanggungkan atas Yesus dan kebenaran-Nya ditanggungkan atas umat-Nya. Yesus insani terbatas seperti halnya manusia namun Ia tidak dan tidak berpotensi untuk berdosa karena Dia adalah Allah. Kemanusian dan keilahian Yesus tidak dapat dipisahkan. Jika hanya meneankan satatu nature maka itulah pemikiran seorang bidat.
Silsilah Yesus Kristus
Dalam Matius 1:1-17 dicatat mengenai silsilah Yesus Kristus. Matius menjelaskan keturunan secara hukum dari Yesus, yang harus melalui keturunan laki-laki (ayah) yaitu Yusuf. Hal ini disebut keturunan Yusuf.
Yesus Tidak berdosa
Kemanusian Yesus tidak berdosa karena Yesus memiliki nature ilahi. Yesus tidakmemiliki tabiat atau potensi utuk berdosa. Kemanusiaan Yesus tidak menutup kemngkinan mengalami pencobaan. Data dlam Alkitam menjelaskan bahwa Yesus Kristus dicobai di padang gurun, taman getsemani dan kematian-Nya pada kayu salib. Ketidak berdosaan Yesus berkaitan dengan Allah yang tidak berubah. Ketidak berdosaan Yesus menjadi bukti bahwa Dia adalah Allah. Jika Yesus tidak memiliki nature ilahi maka Yesus dapat berdosa, karena Allah tidak berdosa atau tidak ada potensi untuk berdosa. Sebaliknya, jika Yesus memiliki nature ilahi, maka Yesus tidak berdosa dan tidak berbuat dosa.
Pengosongan Diri Yesus (Kenosis)
Teori kenosis/pengosongan diri-Nya (Filipi 2:7) berkaitan dengan inkarnasi Yesus. Kenosis yang berarti mengosongkan, meniadakan/tidak menggunakan, membuat tidak berpengaruh, menyerahkan / meninggalkan hak. Kenosis mengacu kepada ‘penolakan’ Yesus untuk tetap tinggal dalam kemulian-Nya (dalam rupa Allah: yang Roh adanya) selanjutnya mengenakan kerendahan hati/nilai, rupa seorng hamba yang tiada terhormat, tidak ditinggikan/dimuliakan, dibatasi. Teori Kenosis dimunculkan oleh teolog Jerman (Charles Gore) dan Inggris (P.T Forsyth). Mereka menyatakan bahwa teori kenisis berkaitan dengan kemanusiaan Yesus yang terbatas.
Beberapa hal yang keliru tentang kenosis
  1. Yesus melepaskan sifat-sifat relatif-Nya saja. Misalnya mahakuasa, mahatahu dan maha hadir. Sedangkan kudus, benar dan kasih tidak.
  2. Yesus melepaskan seluruh sisat keilahian-Nya. Kesadaran ilahi Yesus berhenti sementara dan kembali pada umur 12 th.

Pandangan diatas tidak sesuai dengan dengan Filipi 2:7 Pendapat yang dapat dipertanggung jawabkan adalah Kenosis berarti mengosongkan, membuat tidak berpengaruh. Apakah yang dikosongkan? Hal ini dihubungkan dengan ‘rupa Allah/ksetaraan-Nya dengan Allah. Rupa Allah adalah identitas Yesus yang Allah ada-Nya.
Kenosis Yesus adalah
  1. Usaha penyelubungan kemuliaan-Nya. Kemulian yang dimiliki oleh Yesus didelimuti/diselubungi sehingga tidak nampak, namun tetap ada.
  2. Perendahan diri. Artinya; pengosongan diri berkaitan dengan perendahan diri selanjutnya merupakan rupa hamba.
  3. Usaha melepaskan penggunaan bebas sifat-sisat ilahi-Nya. Artiny; Pengosongan diri berkaitan dengan keterbatasan Yesus menggunakan dengan bebas sifat-sifat ilahi-Nya. Inkarnasi Yesus mengharuskan Yesus membatasi eksistensi-Nya sendiri. Dalam inkarnasi Yesus, Keilahian Yesus Kristus terus tidak berubah atau permanent.
Pengosongan Diri Yesus berarti tidak melepaskan keilahian Yesus-dalam perspektif Allah – sedangkan dalam perspektif manusia umat-Nya, pengosongan diri berarti ketiadaan aspek diri yang berkaitan dengan keilahian-Nya kemudian mengenakan rupa atau bentuk hamba, artinya Yesus adalah Allah yang menjadi manusia/Fiman menjadi daging menyelubungi kemuliaan-Nya sebagai Allah, kemudian mengenakan rupa hamba yang tak berilai.

  1. Kematian Yesus Kristus.
Kematian Yesus di kayu salib membuktikan dalam diri-Nya memiliki nature manusiawi.Jika Yesus bukan manusia maka Yesus tidak dapat mati. Kematian Yesus adalah ketetapan Allah adan inisiatif Allah yang berkaitan dengan umat yang berdosa. Kematian Yesus memberikan makna Yesus ‘menebus’ (Kis 3:25; Ibr 2:27; 1 Yoh 2:2-4:10), ‘mendamaikan’ (Rom 5:11; 2 Kor 5:17-20; Efs 2:16; Kol 1:20-22), ‘memerdekan’ (Rom 3:25), Kematian Yesus berkaitan juga dengan kurban pendamaian (grafirat), penanggungan hukuman dosa (Expiation), pengampunan (Forgiveness), pembenaran (Justification), hukuman (Penalty), pendamaian (Reconciliation) dan pengudusan (Sanctification). Hal tersebut diatas berorientasai pada karya keselamatan.
  1. KebangkitanYesus Kristus
Kebangkitan Yesus dari antara orang mati membktika bahwa Dia adalah Kristus. Yesus adalah Allah. Kebangkitan-Nya menegaskan bahwa Dia tidak dapat dibatasi oleh batasan-batasan hukum yang ada pada demensi terbatas. Sebab jikaa Yesus tidak bangkit maka Dia adalah pendusta karena Yesus mengatakan bahwa diri-Nya akan bangkit setelah kematian-Nya (20:19).
Kebangkitan Yesus dibutikan kubur yag kosong dan jasat Yesus yag tidak ada dalam kubur. Jika kebangkitan-Nya tidak nyata atau hanya suatu mitos, maka baagaimanakah memaknai kata ‘kebangkitan’? apakah ada kebangkitan tanpa sesuatu yang bangkit?. Data dalam alkitab jelas memberi laporan bahwa Yesus Kristu benar-benar bangkit dari antara kematian. Kebangkitan Yesus merupakan kemulian Allah. Hal ini berarti baik kematian maupun kebangitan berorientasi pada kemulian Allah.
Bab III
KESLAMATAN (SOTERIOLOGI)

Karya Allah selain menciptakan dan memlhara adalah menyelamatkan. Kemulian Allah dinyatakan dengan tindakan-Nya menyelamatkan umat-Nya (Matius 1:21). Keslamatan pada awalnya ( pada Pl/manusia pada umumnya) memiliki makna yaitu terhindar dari bahaya/malapetaka. Keselamat juga berkaitan dengan keadaan bebas/mendapatkan kebebasan/kemerdekaan dari pendritaan dan kejahatan. Selanjutnya dalam perkembangan, makna keselamatan, -keselamatan jasmani dan rohani- berkaitan dengan kerajaan Allah. Keselamatan merupakan karya Allah yang maha mulia yang berorientasi pada kerjaan Allah.
Keselamatan merupakan karya Allah yang maha mulia yang berorientasi pada kerajan Allah. Kemuliaan Allah adalah kemuliaan-Nya yang tidak dibatasi dan didebabkan dari luar diri-Nya. Kemulian Allah harus dinyatan sehingga umat-Nya dimampukan untuk memahami bahwa Allah yang telah memilh, menetapkan dan menyelamatkan adalah Allah yang maha mulia. Keselasmatan tidak dapat dipisahkan dari umat-Nya dan umat-Nya tidak dapat dipisahkan dari keselamatan.
  1. Difinisi kata keselamatan
Teshuh (Ibr): aman, stabil, sejahtera, tenang, bebas, tidak terikat (Kej 49:18; Kel 14:13; Yes 12:2). Yesha (Ibr): menyelamatkan, selamatkan, keselamatan (2 Sam 22:3,36,47; Yes 17:10, 45:8, 51:5; Hab 3:13) Moshaot (Ibr): Keselamatan (Maz 68) Soteria (yn): Setia, benar, menyelamatkan/keelamatan. Keselamatan meliputi pendamaian ((khapar/hilasmos atau Lutron: ‘penebusan’). Keselamatan bertanggung jawab dalam hidup yang memliakan Allah.
  1. Alasan Keselamatan
Asumsi dasar: Yunus 2:9 “....Keselamatan adalah dari Tuhan.” Lukas 19:10 “ Sebab Anak manusia mencari dan menyelamatkan yang hilang.” Yohanes 3:16 “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang percaya kepada-Nya tidak binasa melainkan beroleh hidup yang kekal.” Kisah Rasul 2:22 “...Yesus dari nazaret , seorang yang telah ditentukan Allah dan yang dinyatakan kepadamu dengan kekuatan-kekuatan dan mujizat-mijizat dan tanda-tanda yang dilakukan oleh Allah dengan perantaraan Dia di tengah-tengah kamu, seperti yang kamu tahu,” Kisah Rasul 4:12 “Dan keelamatan tidak ada didalam siapapun juga selain di dalam Dia....” Efesus 2:8-9 “Sebab oleh kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman, itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada yang memegahkan diri.”
Dari perspektif Allah, alasan keselamatan bagi umat-Nya tidak dapat secara mutlak diketahui manusia. Keselamatan orang percaya karena anugrah. Anugrah diberikan berdasarkan kerelaan kehendak-Nya (Efesus 1:5). Berdasarkan ayat-ayat asumsi dasar diatas seluruhnya merupakan inisiatif dan ketetapan Allah. Semua orang yang ditentukan Allah untuk hidup yang kekal, menjadi pecaya, (Kisah 13:48).
  1. Tanggung jawab Keselamatan
Keselamatan-jaminan kekal- yang Allah berikan kepada umat-Nya sebagai kepastian akan jaminan kekal. Tuhan telah menetapkan kebahagiaan yang kekal bagi umat-Nyadan itu pasti tercapai. Allah berjanji kepada umat-Nya “roti akan derikan” kepada merka “ air minumnya terjamin” (Yes 33:16) tetapi, hal ini tidak melapaskan umat Tuhan dari tanggung jawab akan tugas-tugas mereka atau memberikan kesempatan kepada mereka utuk bermalas-malasan dan sikap masa bodoh. Tuhan memberi persediaan manna dengan jumlah yang sangat besar dari surga, tetapi orang-orang israel harus mengumpulkan mana itu pagi-pagi sebelum terkena sinar matahari. Arinya dalam hal ini umat Tuhan diminta untuk”bekerja untuk makanan yang bertahan sampai pada hidup yang kekel” (Yoh 6:7). Janji-janji pemeliharan Allah tidak dibuat bagi orang-orang yang bermalas-malas dan yang tidak mau bekerja.
Jaminan keselamatan dan pemeliharan Allah terhadap umat-Nya tidak membuat kegiatan-kegiatan, perhatian-perhatian dan usaha tidak menjadi berguna. Pemeliharaan mereka sendiri dalam iman dan kekudusanlah yang menjadi hal yang pasti; karena itu umat Tuhan harus hidup berdasarkan iman dan dengan melatih ketaatan, karena umat Tuhan tidak mungkin bertekun dengan cara yang lain selain dengan berjaga dan berdoa, dengan berhati-hati pada tipumuslihat iblis dan bujukan–bujukan dunia, dengan menolak dan mematikan nafsu-nafsu kedagingan, dengan bertangggung-jawab mengerjakan keselamatan mereka dengan takut dan gentar.
Jaminan keselamatan Allah adalah pasti. Namun kalau ada orang yang mengabaikan tanggung jawab, dengan mengatakn bahwa kekudusan dan keselamatannya sudah dijamin, maka mereka tidak perlu melakukan hidup kristen yang bertanggung-jawab memulikan Allah, mereka bukan hanya bersalah karena teologi yang keliru, tetapi juga menunjukkan bukti bahwa mereka adalah orang asing terhadap kebenaran Allah yang benar.
Umat Allah memiliki orientasi kudus dan tak bercacat di hadapan-Nya. Artinnya Allah yang menytakan diri-Nya adalah Allah yang kudus Maha mulia sehingga umat Allah yang memuliakan Dia harus kudus.

Bab IV
MANUSIA (ANTROPOLOGI))

Antropologi merupakan ilmu tentang manusia. Dalam makalah ini penulis membatasi tentang antropologi kristen, antropologi kristen adalah ilmu yang mempelajari manusia dalam perspektif iman kristen yang berorientasi pada alkitab sebagai standar ukur Allah bagi umat-Nya. Secara umum manusia mamahami dirinya sebahai hasil suatu proses evolusi ateistik-usaha menjelaskan manusia dan kehidupannya yang terlepad dari Allah- yang panjang sekali.
Berdasarkan Alkitab, manusia diciptakan Allah segambar dan serupa dengan Allah. Artinya; gambar dan rupa manusia memiliki kualitas yang tidak sama dengan Allah. Gambar dan rupa berorientasi pada rasio dan kehendak. Rasio dan kehendak Allah adalah sempurna, mutlak dan tidak terikat oleh batasan ruang dan waktu. Rasio dan kehendak manusia ciptaan-Nya adalah terbatas dan terikat pada batasan-batasan, hukum ruang dan waktu atau dimensi terbatas. Hal ini menegaskan bahwa ada perbedaan antara Pencipta dan ciptaan, antara Allah dan manusia.
Rasio dan kehendak manusia dinyatakan dalam dalam tindakan/tingkah laku, manusia adalah pribadai yang di adadkan yang berpikir dan berkehendak terhadap sesuatu hal. Manusia tidak hanya berpikir saja atau hanya berkehendak tan ada usaha untuk mewujudkan apa yang dipikirkan dan apa yang dikehendaki. Manusia adala ciptaan yang memiliki tanggung-jawab terhadap dirinya sendiri. Setiap pribadi memikili tanggung jawab yang berbeda-beda satu dengan yang lain.
Ciptaan selamanya tetap menjadi ciptaan. Selama manusia yang berpriadi tetap menjadi ciptaan dan setelah mati pribadi itu tetap menjadi ciptaan. Ciptaan tidak dapat menjadi pencipta. Ciptaan tidak dapat menciptakan dirinya sendiri. Manusia adalah ciptaan yang terbatas dalam segala hal yang meliputi terbatas terhadap ruang, waktu dan gerak.
Selanjutnya, untuk memahami manusia hendaklah manusia memahami dan mengenal dirinya sendiri. Mengenal diri sendiri tidak dapat secara tuntas mmelainkan hanya bagian-bagian tertentu saja yang manusia ketahui. Anropologi kristen, mempelajari manusia dengan tujuan memahami siapa dan apa manusia berkatan dengan hakekat/esensi kodrat manusai sebagai ciptaan.
  1. Siapakah Manusia itu?
Secara umum manusia ada karena keberadaanya ada atau kebeadaannya di adakan. Artinya manusia ada karena diciptakan. Manusia diciptakan dengan kodrat/martabat manusiawinya yang memiliki rasio dan kehendak. Kodrat manusiawi yang tidak pernah sama antara manusia satu dengan manusia yang lain.
Kejadian 1:26 menjelaskan bahwa Allah yang mencitakan manusia segambar dan serupa dengan-Nya. Jadi manusia adalah gambar dan rupa Allah. Gambar dan rupa Allah mempunayi arti bahwa manusia memiliki rsuo dan kehendak dalam kontek ciptaan. Manusia berdasarkan rasio dan kehendaknya, melakukan tindakan yang terikat dengan ruang dan waktu sehingga manusia dalam tindakannya sealu berurutan ( yang disebut secara keseluruhan tindakan dengan proses) Adanya urutan tindakan, berarti telah terjadi skala pengukuran-berkaitan dngan nilai: adaya skala prioritas/yang diutamakan-dan perbedaan.
Allah berindak secar tidk berurutan, melainkan suatu tindakan terjadi dengan sempurna karena Allah tidak terikat dengan perubahan, dengan prises/waktu, Allah bertindak berdasarkan firman-Nya. Namun jika karya dan tindakan Allah dilihat dari dimensi terbatas ruang waktu – maka tindakan Allah itu nampak berurutan dan terurai. Hal ini berarti, yang terikat dengan urutan atau proses adalah manusia bukan Allah
Allah menciptakan manusia segambar dan serupa dengan dengan-Nya. Hal itu berarti ada aspek esensi- hal yang permanent – Allah dalam diri manusia. Kata ‘menciptakan’ (ibr) ‘bara’ (yastag, asyah). ‘Bara’ berarti menciptakan dari sesuatu yang belum ada, sesuatu yang belum pernah ada. Hal itu berkaian denngan eksistensi bukan esensi. Allah menciptakan- bara- karena sebelumnya belum ada.
Manusia adalah gambar (tselem) dan rupa (demuth) Allah. Gambar memberikan makna berkaitan dengan pola pikir/gagasan/berkaitan dengan rasio, sedangkan rupa/teladan/pola/patokan/model berkaitan dengan kehendak (adanya usaha atau tindakan
Alkitab menjelaskan bahwa manusia diciptakan oleh Allah. Hal ini menjelaskan bahwa manusia dari Allah sehingga manusia mampu berkreasi mengontrol, dan memerintah. Manusia memiliki relasi dengan Allah berarti manusia memiliki tujuan hidup yang berorientasi pada Allah. Orientasi hidup yang mengarah kepada Allah menjadikan manusia berarti. Maarnusia tanpa hubungan dengan Allah akan memiliki kehidupan yang tidak berarti atau kehidupan yang sia-sia.
Manusia merupakan kesatuan antara eksistensi (memiliki aktualitas dan berkaitan dengan materi) Existere (lt): ada/timbul/mincul/memiliki keberadaan actual/materi. Dari Ex (keluar), sistero tampil atau muncul dan esensi/essential (hal yang permanent, hakekat, muncul immaterial: ide/gagasan/rasio atau bentuk-bentuk subsisten). Eksistensi dan esensi manusia dapat dipisahkan dan yang tetap ada adalah esensi, eksistensi (materi) tidak dapat ada tanpa esensi, esensi Allah berhubungan esensi manusia. Hal itu berarti esensi manusia khususnya umat pilihan-bergantung pada esensi Allah.
  1. Kejatuhan Manusia
Kejadian 3 tidak melaporkan asal mula dari dosa, tetapi hanya menjelaskan tentang masuknya dosa pada dinensi manusia. Dosa masuk melalui sejarah manusia dalam dimensi keterbatasan. Jadi peristiwa kejatuhan manusia dalam dosa bersifat sejarah, meskipun waktu berlaku setelah manusia jatuh di taman Eden.
Manusia jatuh dalam dosa berkaitan dengan esensi (rasio dan kehendak= dan rupa Allah) kemanusian manusia. Ular melakukan tindakan memberikan keragan pada firman Allah (Kj 3:1) , berdusta tentang kematian (kj 3:4), memberikan sebagian kebenaran yang dijadan kebenaran mutlak (kj 3:5). Dan melalui esensi yang telah rusak mengakibatkan eksistensi manusia terganggu. Manusia tidak dapat memahami dirinya sendiri dengan baik dan utuh. Secara umum akibat dosa adalah manusia tercemar secara total shingga dari manusia tidak ada hal yang kepadanya Allah memperhitungkankannya. Dosa mengakibatkan manusia memiliki nature dosa. Natur dosa mengakibatkan manusia tidak mampu memuliakan Allah.
  1. Beberapa difinisi tentang dosa
Dosa adalah pelanggaran akan hukum Allah (parabasis: melewati, melanggar) Roma 2:23, 4:15, 5:14; Gal 3;19. Dosa adalah kegagalan untuk selaras dan harmonis dengan standar Allah (Rom 14:23). Dosa adalah pemberontakan terhadap Allah (Titus 2:14), dosa adlah tindakan yang salah terhadap Allah (Rom 1:18, Kel 20:12-17).
Manusia hadir dengan esensi dan eksistensi ang terbatas dan telah rusak oleh karena dosa. Manusia kristen dengan eksistensi dan esensi yang dipulihkan dan memliki tanggung jawab memuliakan Allah.
Amin..........





Daftar pustaka
  1. Milerd j Ericson. Teologia Kristen (1,2,3), Malang, Gandum Mas, 2004
  2. Harun Hadiwijono. Iman Kristen, Jakarta, BPK Gunung Mulia, 1997
  3. R. Soedarmo. Iktisar dogmatika, Jakarta, BPK Gunung Mulia, 1996
  4. Louis Berkhof. Teologia sistematika (1-6), Surabaya LRII,1998
  5. Daniel Lukito, Pengantar teologia Kristen,Bandung Kalam Hidup, 1996
  6. Arthur W. Pink. Jaminan Kekal,Malang, STTT Lawang 1996
  7. Frech L. Arrington. Doktrin Kristen Perspektif Pentakosta (1,2), Jakarta, BPS GBI, 2004