KITAB
AMOS
DALAM HUBUNGAN DENGAN P.I DIMASA KINI

PENDAHULUAN
Israel (kerajaan Utara) mengalami masa kejayaan pada zaman Yerobean V (1:1) namun kondisi ini tidak dibarengi dengan keadaan agama (kerohanian yang baik) ibadah yang munafik, menjadi matrialistis.
Amos tampil sebagai nabi Allah,
Dalam makalah ini dipaparkan prinsip-prinsip ilahi. Kitab Amos dalam hubungan dengan P.I masa kini, Amos dan kondisi bangsa Israel dan Yehuda, juga bangsa-bangsa disekitar Israel yang berdosa kepada Israel.
Pola pelayanan Amos yang masih relevan bagi P.I masa kini, memberikan gambaran yang terang bahwa P.I dapat berhasil efektif dimanapun dan kapanpun, ketika seorang pemberita Firman (Injil) memahami dirinya, berita yang disampaikan dan sasaran P.I.
Sekalipun pribadi Amos tidak berpendidikan (tidak keluaran sekolah nabi) bahkan dari keluarga yang miskin, Amos tidak boleh dihakimi sebagai pribadi yang bodoh dan tidak berhikmat. Justru efektifnya pelayanan Amos dikarenakan, dia memahami dirinya beritanya dan sasarannya. Keyakinan panggilannya dan semangat kerjanya, mampu menutupi segala keterbatasannya, sehingga Amos menampilkan sebuah fenomena besar, apa yang bodoh bagi dunia dipakai Allah untuk menyatakan kemuliannya.
Penulis hanya memberikan sebuah kerangka besar, Kitab Amos dalam hubungan dengan P.I masa kini dan prinsip-prinsip ilahi yang tidak dibatasi oleh keterbatasan manusia untuk melaksanakan kehendaknya, Allah yang tak terbatas mengatasi segala keterbatasan.
I
AMOS DAN KONDISI BANGSA ISRAEL
Israel adalah umat pilihan Allah yang jatuh bangun dalam kesetiaan mereka kepada Allah, terlihat nyata mulai pelayanan para hakim (dalam kitab hakim-hakim) Israel mengalami kondisi yang merosot, namun dilain hari Israel mengalami pemulihan, hal seperti itu terus terjadi sampai pada pelayanan para nabi yang dipilih oleh Allah.
Pada masa sejarah Israel bila kondisi kerohanian (agama) telah merosot, Allah memunculkan utusanNya untuk menegur, menyampaikan pesan Allah, sehingga umat Allah tidak jauh tersesat mengikuti ilah-ilah lain dan melalui para nabi Allah menyatakan penghukuman sebagai pendisiplinan untuk membawa umat Allah (Israel) kepada kebenaran Allah.
Pada suatu masa sejarah Israel, bagaimana masyarakat dan agama telah merosot, muncullah seorang yang aneh dari padang belantara Yehuda untuk mencamkan berita Allah kepada pikiran rakyat kerajaan sepuluh. Sepuluh suku bangsa di sebelah utara, beritanya sangat keras, suatu tuduhan yang dasyat terhadap dosa-dosa pada masa hidupnya itu.[1]
Kondisi spiritual / kerohanian bangsa Israel (khususnya 10 suku) di kerajaan utara mereka tenggelam dalam ke dalam kejahatan-kejahatan, maka Allah menunculkan seorang nabiNya bagi bangsa utara.
i. Pribadi Amos dan Beritanya
Amos, seorang peternak domba dari Tekoa, (1:1;7:14, 15), berasal dari keluarga sederhana, bahkan mungkin miskin. Amos seorang pemungut buah ara hutan (7:14) buah-buahan yang biasanya dimakan oleh orang-orang miskin, berasal dari daerah pedusunan di sebelah selatan, kira-kira 10 km disebelah selatan betlehem, sebuah yang tandus disebelah barat laut mati yaitu tanah terbuka yang juga disebut padang Gurun Yehuda.
Para penulis, mengatakan Amos adalah nabi yang “aneh” tidak dijelaskan mengapa mereka menyatakan bahwa Amos adalah tokoh yang aneh.
Amos, gembala yang menjadi nabi, adalah tokoh aneh, diantara nabi-nabi PL.[2]
Mereka memang tidak menjelaskan secara terperinci mengapa Amos disebut aneh, mungkin Amos panggil sebagai nabi bukan dari sekolah nabi, dia adalah kaum awam dari pedusunan, menjadi nabi untuk Israel (sepuluh suku) di sebelah utara, Amos adalah nabi yang berasal dari luar Israel. (7:14, 15).
(7:14, 15) Amos seorang nabi dengan keyakinan yang pasti pada Allah bahwa dia dipanggil menjadi nabi Allah, sekalipun dia memiliki latar belakang, pendidikan, ekonomi yang tidak dipandang rendah oleh masyarakat zaman itu, bukan dari keluaran nabi dan dari keluarga yang miskin, status yang dibawah.
Keyakinan akan panggilanNya sebagai seorang nabi, membuat dia menjadi yang efektif, semangat bekerja (kerja keras) kuat dalam penderitaan.
Dalam terang perjanjian baru Paulus (balatia 1:1) memiliki keyakinan akan panggilanNya – itu menjadikan Paulus, Rasul yang efektif, mampu melayani dengan baik (menjadikan dia pribadi / pelayan yang berkualitas) (balatia 1:15 – 18) Paulus mampu mempersiapkan diri dengan baik sebelum terjun dalam pelayanan, (1 Korintus 15:10) mampu bekerja keras (2 Korintus 2:17) seorang rasul yang tampil beda, (Rom 16:12 – 14) (2 Kor 11:25- 28 ; Pil. 4:13) kuat dalam penderitaan.
Latar belakang Amos mempengaruhi pemberitaannya, (namun tidak kehilangan esensi dari pesan Allah) gaya bahasanya yang sederhana, tegas dan jelas, gaya pedusunan dan penggembalaan memiliki ciri khas tersendiri, (4:1).
Amos menyampaikan pesan ilahi kepada 10 suku Israel di kerajaan utara, bangsa dalam kondisi (3:1, 12;7:10, 14, 15), sekalipun pelayanan Amos bisa dikatakan pelayanan antar negara (kerajaan utara dan selatan berdiri sendiri-sendiri). Namun kedua negara ini adalah keluarga (2:4, 5) berita Amospun ditujukan kepada orang-orang sebangsanya (1:1). Amos hidup pada masa pemerintahan Uzia, raja Yehuda (779 – 740 sM) dan pada masa pemerintahan Yorebeam II di israel, diperkirakan Amos hidup pada Yorebeam dan Uzia bersama-sama memerintah.
Berita Amos ini secara khusus dutujukan kepada Israel juga Yehuda. Pertama : adanya orang-orang miskin yang disiksa, perlakuan kepada para janda dan yatim piatuyang semena-mena. Kedua : adanya penyembahan berhala (perzinahan) yang menyakitkan hati Allah. Ketiga : memberitakan janji-janji pemulihan pada zaman mesias (Amos. 9:11 – 15), tidak bisa diabaikan bahwa berita Amos juga ditujukan kepada bangsa-bangsa bukan Yahudi, karena kejahatan, pelanggaran-pelanggaran mereka.
Pemerintahan Yerobeam adalah luar biasa makmuraya, segala-galanya menyebabkan perluasan Israel dan raja yang penuh energi ini tidaklah lamban untuk mempergunakan kesempatan. Pada tahun 805 sM. Adad – niraniIII dari Asyur menghancurkan Damaskus, dan dengan demikian menyingkirkan Siria sebagai ancaman terhadap negara-negara Palestina lainnya.[3]
Pokok berita Amos teguran atas dosa, kejahatan, serta hukuman atas pelanggaran mereka.
Amos dengan sangat tegas mencela zamannya yang mewah dan suka memuaskan keinginan jasmani itu.[4]
ii. Kondisi Rohani Bangsa Israel
Masa keemasan pada zaman Yorebeam, tidak dibarengi dengan kondisi kerohanian (agama) yang baik, Israel ada pada kemerosostan rohani, moral dan spiritual (2:6 – 7) dosa karena uang, (2:76) adanya kenajisan (2:8) penyembahan berhala (3:10) kebohongan (5:12 – 24) berbagai macam kejahatan, (5:26, 6:4 – 6)
Dosa dan kemunduran rohani nampak dari dua hal yang khusus (1) ketidak adilan dalam sosial (2) ibadah yang munafik dan penuh kenajisan.
Secara lahiriah Israel di zaman Amos adalah luar biasa beragama tampaknya – tidak memiliki kemanfaatan rohani, tidak menghasilkan keadaan moral dan sosial.[5]
Bangsa yang beragam agama , banyak berdiri kuil-kuil penyembahan berhala, hal itulah yang turut rohani Israel, bahkan mereka turut dalam penyembahan berhala, kemerosotan moral para imamnya.
Amos dengan sangat tegas menegur kondisi kerohanian yang merosot, dalam kemewahan dan suka memuaskan keinginan jasmani.
Betel – suatu tempat penyembahan berhala, penuh kenajisan disitulah Amos tampil menyampaikan pesan.
Agama tidak diabaikan tetapi diputar balikkan, ditempat-tempat suci agama nasional (5:5) upacara-upacara terus dipelihara (4:4 – 5) tapi hal itu diadakan bergandengan tangan dengan sifat kefasikan yang tak mengenal Allah dan menyalahi kesusilaan : justru ritus itu harus dibasmi, bukan diperbaharui (3:14; 7:9; 1 – 4) sesungguhnya ini bukanlah penyembahan kepada Allah, tapi pendurhakaan. (4:4).[6]
Kondisi para pelayan (Imam) yang telah kehilangan esensi dari pelayanannya, orang-orang benar dibenci, ditentang, kemerosotan / kebutuhan rohani nyata sekali pada masa pelayanan Amos.
Imam-imam ini hanya secara jabatan, kesusilaannya rusak dan mereka mendukung segala kecurangan, kelalaian susila dan takhayul yang merajalela di negeri ini.[7]
II
KITAB AMOS DALAM HUBUNGAN DENGAN P.I MASA KINI
Kitab Amos menampilkan suatu fenomena rohani, yang indah untuk direnungkan dan dipelajari dan relevansinya bagi pelayanan masa kini, menarik sekali untuk dipahami, seorang pemberita Firman Allah dalam kitab Amos. Seorang yang berasal dari pedusunan, yang terlindung dinatara bukit-bukit batu kapur dan bentangan padang berantara suatu dusun yang sunyi sepi.
Seorang dari kerajaam selatan (Yehuda), dari keluarga yang miskin, (pemungut buah ara hutan – yang biasanya dimakan oleh orang miskin) seorang gembala domba dari Tekoa, ia bukanlah seorang lulusan sekolah nabi.
Tentulah pribadi Amos menentukan sebuah fenomena rohani yang menghebohkan ketika ia muncul sebagai nabi Allah, bernubuat tentang akan diangkutnya Israel kepada pembuangan dan menyatakan hukuman atas Amazia dan keluarganya. Fenomena ini memberikan suatu prinsip rohani, yaitu Allah yang juga berkenan memakai orang-orang yang tampaknya kecil, dan berlatar belakang yang tak berpendidikan (sekolah Nabi – tidak dididik dalam sekolah teologi) 1 Korintus 1:26 – 27.
i. Kitab Amos dalam Hubungan dengan P.I
Apakah dan bagaimanakah hubungan kitab Amos dengan P.I (Pengabaran Injil – pemberitaan Firman Allah). Dalam kitab Amos dimunculkan prinsip-prinsip rohani yang sangat menarik bagi pelayan-pelayan injil masa kini.
Sudah seharusnyalah para pengabar kebenaran (Injil) muncul ditengah-tengah angkatan yang bengkok, kemerosotan rohani untuk menyatakan kebenaran dan teguran Allah.
· Sangat memprihatinkan, kondisi para imam pada masa pelayanan Amos mereka tidak menjadi terang dalam kegelapan, kebutuhan rohani yang dialami orang-orang Israel, justru mereka menyelewengkan kebenaran Allah, berkompromi dengan dosa umat, untuk mencari keuntungan diri sendiri.
· Para rohaniawan (pelihat – Iman) (7:12) melayani hanya karena makanan-makanan, materi – uang, bukan karena kebenaran Allah. Hal seperti ini menimbulkan asumsi negatis – musuh Allah dan orang-orang tidak rohani, bahwa para iman, pelihat, rohaniawan, melayani hanya karena uang (7:12).
ii. Strategi Pelayanan Amos
Amos yang datang dari luar Israel dari Yehuda (kerajaan selatan) Nico Lomboan, S.Th, MA memberi pernyataannya, “bahwa Amos adalah sebagai WNA, pergi ke betel di Israel,[8] mungkin ini dijelaskan bahwa Israel telah pecah mernjadi dua kerajaan, utara dan selatan dan pelayanan Amos bisa dikatakan pelayanan (P.I) lintas negara, (negara Israel – Yehuda).
Menyadari bahwa Amos bukanlah dari Israel (kerajaan utara) bahkan orang asing (dari Yehuda). Amos menyusun strategi pelayanan dengan hikmat Allah dengan bijak. Amos mulai masuk menyatakan kebenaran Allah.
Pelayanan Amos bukan hanya untuk Israel (kerajaan utara) namun Amos menyatakan penghukuman bagi bangsa-bangsa diluar Israel yang tinggal disekitar Israel.
Amos tidak langsung menyampaikan pemberitaannya kepada Israel, hal itu dimungkinkan karena faktor-faktor yang ada pada Amos sendiri.
· Warga kenegaraan Amos (dia orang Yehuda)
· Latar belakang pendidikan Amos (bukan lulusan sekolah nabi)
· Status ekonomi (Amos sekarang miskin – pemungut buah ara hutan)
Hal ini yang siasati oleh Amos, supaya yang menjadi inti beritanya dapat diterima oleh semua lapisan masyarakat.
· Amos memulai dari pinggiran Israel, mulai dari Damsyik (1:3 – 5) Filistin (1:6 – 8), Tirus (1:9:10), Edom (1:11, 12), Amon (1:13 – 15), Moab (2:1 – 3) akhirnya Yehuda – pola ini disebur pola geografis.
Ada kemungkinan, jika Amos langsung pada sasaran utam pada Israel maka penolakan yang akan diterimanya akan menjadi sia-sia, mereka akan menjadi keras, dilihat dari kejayaan materialistis segala sesuatu diukur oleh uang, sampai dengan hal-hal rohani, ukurannya adalah materi, uang (7:12).
Kini nabi itu beralih dari bangsa-bangsa asing, melalui Yehuda, bangsa yang paling disenangi, ke Israel menyampaikan berita yang utama.
Bangsa-bangsa lain dituduh karena dosanya, terhadap Yehova sendiri. Mereka tidak setia kepada dia, yang dengan penuh kasih sayang, telah mengangkat mereka menjadi suatu bangsa. Bangsa lain berdosa terhadap hati nurani dan terhadap pernyataan Allah dalam hal ciptaan-Nya, tetapi Yehuda berdosa terhadap kehendak Yehova sendiri yang telah dinyatakan (ayt.4). kata-kata kebohongannya menunjuk kepada kebiasaan penyembahan berhala-berhala lain, yang telah dicontoh Yehuda. Kebinasaan Yerusalem yang akan datang orang Kasdim dinubuatkan dengan singkat. (ayt.5).[9]
Satu hal yang menarik dari pribadi Amos adalah keyakinan bahwa dirinya telah dipanggil Allah (menjadi nabi) menyampaikan pesan-pesan Allah (7:15) betapa yakinnya Amos – menjadikan Amos pelayan yang efektif bagi Allah integritasnya sebagai pelayanan kebenaran tetap nyata dalam tiap pemberitaannya ia mampu tampil beda (tidak sama dengan iman-iman zaman itu) namun yang penting Amos tidak kehilangan esensi dari pemberitaannya.
· Kerendahan hati Amos
Dalam tiap gerak pemberitaanya Amos tidak menyembunyikan hidup masa lampaunya. (7:14. 15).
· Bukan pemalas (rajin) seorang pekerja keras (lihat pekerjaannya) dalam pelayananpun Amos mulai dari negara-negara luar Israel – sampai pada inti sasaran utamanya (Israel – Yehuda) Amos tetap semangat bergairah dalam bekerja.
· Berhikmat dalam pemberitaannya (Bijaksana) lugas dan jelas, jujur, tepat sasaran, ia menggunakan lukisan / gambaran yang tepat.
· Setia pada panggilan Allah.
· Tahan dalam penderitaan, ketabahan hatinya nyata sekalipun dirinya dikesampingkan. (7:10 – 17).
iii. Metode P.I Masa Kini
Kitab Amos adalah suatu kitab yang menarik dan relevan bagi Pengabaran Injil (P.I) masa kini.
Oleh karena kemerosotan rohani, banyak umat Allah yang “tersesat”.
Kitab Amos memiliki dua perspektif dalam penginjilan (P.I)
· Keluar (kepada bengsa-bangsa yang tidak mengenal Allah) yang ada disekitar Israel.
· Kedalam (kepada Israel dan Yehuda) menyampaikan teguran – dan pemulihan.
Dalam perspektif gereja masa kini, P.I keluar memenangkan / membawa jiwa kepada Kristus, kedalam – pemulihan (pendewasaan) jiwa-jiwa yang telah dimenangkan dalam wadah gereja.
Gereja yang hidup – bertumbuh, adalah gereja yang memiliki dua mata padang” dalam P.I, memenangkan jiwa baru dan membawa mereka kepada pertumbuhan rohani kearah kristus.
Penginjilan adalah dasar dalam mendirikan gereja, pertumbuhan gereja selalu berkait dengan penginjilan. Berkembangnya gereja dilihat dalam empat pertumbuhan : (1) pertumbuhan kuantitatif – Gereja berkembang dengan pertumbuhan jumlah anggota., kadangkala karena perpindahan Jemaat. (2) Pertumbuhan Extensium – Gereja berkembang dengan membuka cabang-cabang, (3) Pertumbuhan Kualitatif – gereja memusatkan diri dalam pendewasaan Jemaat, sehingga jemaat itu kelak menjadi dewasa, (4) Pertumbuhan organik – gereja berkembang dalam organisasi dan disiplin yang baik.[10]
Dalam kesimpulan umum P.I memiliki dua visi dan misi, pemenangan jiwa-jiwa dan pendewasaan rohani sesuai dengan amanat agung (mat. 28:18, 19).
Amos menampilkan metode penginjilan bagi pelayan-pelayan pemberita Injil masa kini, sebagai komunikator (pembawa berita) Amos mampu menyampaikan beritanya dengan baik, keberhasilannya (7:10) “negeri” itu tidak dapat lagi menahan segala perkataannya.
Amos sebaga komunikator mempu memahami para komunikan (penerima berita) sehingga “kelemahan” Amos dapat diatasi. Amos mampu menjadi pemberita yang efektif.
Memikirkan soal metode dalam proses pelaksanaan penginjilan yang kontekstual sangatlah penting untuk tugas misi yang diembannya agar dapat mencapai hasil yang diharapkan semaksimal mungkin.[11]
iv. Prinsip P.I
Kitab Amos dalam hubungannya dengan P.I masa kini, memberikan prinsip-prinsip kebenaran sangat relevan bagi para pelayan kebenaran (Injil)
1. Keyakinan akan panggilan Allah
2. Metode pelayanan
3. Penginjilan sebagai mandat ilahi
1) Keyakinan akan panggilan Allah
Allah berkenan memakai siapa saja (1 kor 1:26 – 27) bahkan orang-orang yang sederhana Allah berkenan memakainya, Amos memahami hal ini, keyakinan akan panggilan Allah ini menjadikan Amos seorang komunikator yang efektif berintegritas tinggi.
Tanpa mengesampingkan mutu pendidikan, namun Allah berkenan memakai siapa saja yang dia kehendaki. Status pendidikan dan status sosial (yang dibawah rata-rata) hal itu juga menyulitkan ruang gerak Amos, Amos tidak dapat langsung menyampaikan berita utama bagi israel, bisa jadi kehadiran Amos ditolak dan berita Amos menjadi sia-sia.
· Betapa pentingnya “pendidikan”, (kualitas seorang pemberita Injil) namun Amos mampu menutupi semua itu dengan sebuah keyakinannya akan panggilan ilahinya.
2) Metode Pelayanan
Menyingkapi segala kelemahan Amos, Amos memakai metode pelayanan pola-pola pelayanan Amos, sangat efisien untuk ruang geraknya.
Hal yang harus diperhatikan bagi para pemberita Injil adalah (1) Keberadaanya, (2) dan apa yang disampaikan, (3) budaya – tempat sasaran – para komunikan. Para pemberita Firman (Injil) harus memperhatikan keberadaanya, bukan hanya kualitas dari pemberita (karena Allah, Allah juga berkenan memakai orang-orang lemah (sederhana) (1 kor 2:16, 17), namun integritasnya dan apakah pemberita Injil, keberadaannya bisa diterima, pemberita Firman (Injil) bukan hanya memahami “materi” yang disampaikan, keberadaannya dipastikan diterima, komunikator akan sangat kesulitan untuk menyampaikan beritanya, jika keberadaannya ditok. maka yang harus diperhatikan para pemberita Firman mampu “menjalin hubungan” dengan para komunikan – hal itu tidak lepas dari para komunikator memahami, tempat, budaya (sasaran para komunikan).
3) Penginjilan sebagai mandat ilahi
Terlepas metode dipakai oleh komunikator, memahami budaya komunikan, peran Allah tidak boleh dilupakan, Allah yang memanggil, dia yang menyempurnakan panggilannya (yohanes, 15:16) Allah yang “menetapkan”, Dia bukan sekedar mengutus Dia juga memperlengkapi.
Allah sebagai pemberi mandat, (melibatkan umatNya, dalam tanggung jawab untuk melaksanakan rencana dan karyanya) sebagai inisiator penginjil, sebab dimana penginjilan harus dan berpusat pada Allah, Allahpun sebagai pelaksana dan penggenap dari penginjilan.
III
PENUTUP
PENUTUP
Tentulah pribadi Amos memberikan kehebohan besar, fenomena rohani yang terjadi , disinalah prinsip kebenaran ditampilkan dalam kitab Amos.
(1 Korintus. 1:25 – 29), yang bodoh, yang lemah, yang tak terpengaruh, tidak berhikmat, tidak terpandang, hina tidak berarti – bagi dunia – dipanggil Allah menjadi alatnya – supaya tidak ada orang yang menyombongkan diri, (1 Korintus. 1:30) dalam kesemuanya, Allah memanggil – menguduskan – sehingga dapat bermegah dalam Kristus.
Prinsip-prinsip kebenaran ilahi yang ditampilkan dalam kitab Amos dalam hubungannya dengan P.I masa kini, memberikan pelajaran rohani tanpa mengesampingkan mutu / kualitas pribadi / pelayanan firman, Allah berkenan memakai orang-orang tidak dipandang (bodoh menurut dunia) pola pelayanan – pemberitaan amas – menampilkan sebuah metode yang menarik untuk dapat mencapai sasaran utama (Israel).
Para pemberita Firman (Pelaksana P.I) harus memperhatikan atau memiliki langkah-langkah praktis dalam melaksanakan P.I (1) pribadi komunikator, (2) berita yang akan disampaikan, (3) sasaran – komunikan. Dalam kesemuanya Allah yang menghidupkan pemberitaan itu dalam kedaulatannya.
DAFTAR PUSTAKA
1. Frank. M.Boyd “KITAB NABI-NABI KECIL” Gandum mas – cet 7. 1999
2. J. Sidlow Baxter “MENGGALAI ISI ALKITAB 2”. Yayasan Komunikasi Bina Kasih /OMF diterjemahkan oleh Sastro Sudirdjo – cet. 8. 2002
3. “Tafsiran Alkitab masa Kini” cet. 9 – YKBK / OMF, 2004
4. Ensiklopedi Alkitab masa Kini, cet 5 – YKBK / OMF, 1998
5. Nico Lomboan, S.Th. MA “TAFSIR PL NABI-NABI KECIL” (Hosea, Amos, Yunus) STT Pentakosta – Magelang, th. 2009
6. Robinson Hutapea, S.Th. “PERTUMBUHAN GEREJA” GPdI, editor Denny Roemokoij – 1995
7. Timotius Agus Suryanto, M.Th. “Misiologi II” (Penginjilan Lintas Budaya) S.Am.GPdI – 2008 - 2009
[1] Frank. M. Boyd :KITAB NABI-NABI KECIL”, Gandum mas, cet 7. 1999, hal 39
[2] J. Sidlow Baxter, “MENGGALI ISI ALKITAB 2”. Yayasan Komunikasi Bina Kasih / OMF, diterjemahkan oleh Sastro Soedirdjo – cet – 8, 2002, hal 378
[3] Tafsiran Alkitab Masa Kini, cet – 9. Yayasan Komunikasi Bina Kasih ? OMF, 2004, hal 614.
[4] Frank. M. Boyd. “KITAB NABI-NABI KECIL” Gandum Mas, cet – 7 . 1999, hal 43.
[5] Tafsiran Alkitab Masa Kini, cet-9. Yayasan Komunikasi Bina Kasih/OMF, 2004, hal 616
[6] Ensiklopedi Alkitab Masa Kini, cet-5. Yayasan Komunikasi Bina Kasih/OMF, 1998, hal 44.
[7] Frank. M. boyd, “KITAB NABI-NABI KECIL”, Gandum Mas. Cet-7. 1999, hal 42
[8] Nico Lomboan, s.Th, M.A. “Tafsir PL Nabi-Nabi Kecil” (Hosea, Amos, Yunus) STT Pentakosta – Magelang, hal 24, th. 2009
[9] Frank. M. boyd, “KITAB NABI-NABI KECIL”, Gandum Mas. Cet-7. 1999, hal 42
[10] Robinson Hutapea, S.Th, “Pertumbuhan Gerja” GPdI – Editor Denny Roemokoij – 1995, hal 117
[11] Timotius Agus Suryanto, M.Th, “Misiologi II” (Penginjilan Lintas Budaya) SAM. GPdI, 2008-2009 – hal 23.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar