I
PENDAHULUAN
Alkitab (Bible-Ing, Biblia-Yun)
memiliki arti buku-buku, memang alkitab terdiri dari banyak kumpulan tulisan
(buku-buku), grape, tulisan dalam bahasa manusia, Alkitab dibagi menjadi dua
bagian perjanjian, perjanjian lama dan perjanjian baru. PL : ada 39 buku, PB :
27 buku.
PL sudah ada pada Jemaat Yahudi sebelum Kristus, PL terdiri dari, Kitab Taurat
/ hukum : kejadian, keluaran, imamat, bilangan, ulangan, Nabi-nabi, tulisan
hikmat dan puisi. PL aslinya sudah tidak ada lagi karena ditulis diatas papirus
yang dibuat dari tangkai tanaman papirus, tapi tulisan-tulisan diatas perkamen
yang terbuat dari kulit binatang dapat tahan lama, dari PB saja ada lebih dari
4000 naskah permanen.
Alkitab adalah pernyataan Allah, dalam perspektif Iman Kristen Alkitab memiliki
tujuan yang “misteri” dari Allah. Semua yang ditulis supaya manusia percaya
bahwa Yesuslah, Allah (Mesias Anak Allah)
dan oleh Iman memperoleh hidup dalam nama-Nya, mengapa misteri ? Karena Alkitab
berorientasi hanya pada umat Allah atau Alkitab bagi umat Allah, Iman Kristen
tidak dapat dipisahkan oleh Alkitab. Alkitab merupakan pernyataan Allah secara
khusus dalam media tulisan / bahasa manusia bagi umat Allah.
Dalam makalah ini akan dibahas tentang, Apa dan bagaimana Alkitab,
betulkah Alkitab Firman Allah ? Dan bagaimana Alkitab disebut Firman Allah. Dan
melihat Alkitab dari sudut pandang Iman Kristen, Alkitab sebagai pernyataan
Allah, untuk umat Allah dan melalui Alkitab umat Allah memahami Allah dan
karyanya, Alkitab menjadi dasar Gereja, dan umat Allah menerapkan Alkitab dalam
kehidupan sehari-hari, umat memahami Alkitab secara komprehensip, koherensi
sehingga menghasilkan kebenaran yang dipraktekan dalam keseharian. Menjawab apa
Alkitab itu, ini menuntut sebuah jawaban yang didasarkan pada pemahaman
terhadap Alkitab secara baik dan benar.
Alkitab yang
memilki dua aspek, manusiawi dan ilahi, hal tak terbatas masuk / intervensi
pada yang terbatas tanpa kehilangan natur ilahinya makna dan esensi dari yang
tak terbatas.
Alkitab yang tertulis oleh 40 penulis dari latar belakang yang berbeda
dan tempat yang berbeda, waktu yang berbeda, namun yang tetap menunjukkan
keharmonisan, keindahan dalam tulisan dan maknanya, Alkitab sebagai media
menyingkapkan Allah menjadi manusia, transendensi Allah yang nyata dalam inkarnasinya
dalam Yesus Kristus.
Allah yang
berdaulat atas firmannya, otoritas Allah yang memelihara dan menghidupkan
firmannya yang membawa pengharapan bagi umatnya.
Semua kitab, dalam Kitabnya mempunyai latar
belakang sejarah dan budaya yang khusus dan pada umumnya ditulis untuk
orang-orang yang lain dengan kita.”[1]
II
APA DAN BAGAIMANA ALKITAB ITU
Dalam perspektif Iman Kristen Alkitab adalah firman Allah. Firman
tersebut telah terdokumentasikan sedemikian rupa sehingga membentuk sebuah
kitab yang lengkap, yang dikumpulkan dari teks-teks kuno yang koronik.
Secara obyektif
Alkitab dapat dipahami sebagai pernyataan Allah, secara singkat dikatakan bahwa
Alkitab adalah catatan yang obyektif dari wahyu Allah yang inskriptuasinya
dikerjakan oleh Roh Kudus yang menggerakkan para penulis supaya berita tentang
keselamatan Allah melalui Yesus Kristus dapat disampaikan kepada semua umat
manusia.
Iman Kristen tidak dapat dipisahkan dari pernyataan Allah, manusia yang
telah jatuh dalam dosa dan tidak mampu mengenal Allah dan kehendak-Nya. Tapi
dalam kasih-Nya Allah berkenan untuk menyatakan diriNya dan kehendakNya.
Pernyataan Allah merupakan komunikasi Allah melalui bahasa manusia, sehingga
manusia dapat memahami Allah dan kehendakNya.
Alkitab menyatakan bahwa Allah dapat dipahami dikenal dengan pasti,
transendensi Allah dapat dipahami dalam pernyataan khusus Allah, dalam pribadi
Yesus Kristus (Allah yang menjadi daging) dan Alkitab (pernyataan Allah
tertulis).
Apa dan Bagaimana Alkitab itu ?
Alkitab adalah Firman Allah : berarti berkaitan dengan Allah yang
berfirman. Apakah Firman / perkataan ? Perkataan adalah alat-alat yang
menyatakan kepada orang lain siapakah diri dan apakah maksud orang yang
berkata, jika Alkitab adalah Firman Allah, maka Alkitab menyatakan diri Allah,
Alkitab melaporkan tentang Allah yang berkarya, berfirman, Alkitab tanpa Allah
tidak dapat dinyatakan Firman Allah, hal itu berarti Roh Kudus yang
menghidupkan atau yang meneguhkan bahwa Alkitab adalah Firman Allah.
i.
Alkitab
adalah Pernyataan Khusus Allah
Semua manusia telah berdosa dan kehilangan kemuliaan Allah (Roma.3:23) manusia berdosa tidak mampu
memahami Allah dalam kesempurnaanNya, Dalam kasihnya Allah berinisiatif
menyatakan diriNya melalui mediasi Alkitab yang ditulis dengan bahasa manusia.
Alkitab (pernyataan khusus yang tertulis) menyatakan Allah pribadi yang
berkaya menciptakan, memelihara, menyelamatkan umatNya.
Yang dimaksud dengan pernyataan khusus ialah
menefestasi diri Allah kepada orang-orang tertentu pada saat dan tempat
tertentu, sehingga memungkinkan orang-orang tersebut memasuki bubungan yang
bersifat menebuskan dengan Allah.[2]
Tanpa pernyataan kasih dan karya Allah tidak menjadi jelas, pusat
pernyataan menunjuk pada pribadi Yesus (Firman yang menjadi daging).
Pernyataan khusus (Alkitab – Firman yang tertulis) menjadi khusus itu
menjadi pedoman sehingga orang-orang percaya tidak tersesat.
Secara umum (melalui alam semesta) Allah telah
menyatakan dirinya kepada manusia, namun karena dosa manusia tidak mampu
mengenal Allah dengan sempurna, (Roma.1:20
– 23) melalui karyaNya – Alam semesta, manusia tetap tidak dapat memuliakan
Allah – karena dosa.
Namun pernyataan khusus Allah memberikan peluang besar untuk manusia
berdosa dapat dihidupkan dan memperoleh kemampuan untuk dapat menanggapi Allah,
memuliakan Allah, dan mengenal-Nya.
Sejak masuknya dosa dalam diri manusia, pernyataan umum menjadi rusak Dr. R. Soedarmo dengan jelas
menjelaskan pentingnya pernyataan khusus itu.
Sebab sejak saat itu (Kej.3:9) rusaklah
pernyataan umum tadi dengan masuknya pengaruh dosa. Pernyataan khusus dasar ini
diberikan hingga Rasul-rasul yang terkahir meninggal. Sesudah itu cukuplah
pernyataan yang menjadi alas atau dasar bagi pernyataan khusus yang dibutuhkan
bagi manusia sedunia untuk mengenal lagi akan Allah dan untuk menerima anugrah
kelepasan. Pernyataan khusus ini ialah Kitab Suci.[3]
Melalui pernyataaan khusus, segala sesuatu yang berasal dari Allah dapat
ditangkap / dipahami oleh umatNya. Pernyataan khusus bersifat Anugerah hanya
bagi umatNya, mereka menerima anugrah untuk memahami pernyataan khusus Allah,
yang berpusat kepada Yesus Kristus (Firman yang menjadi daging) dan Alkitab
(Firman yang tertulis.) menjadi pedoman supaya umatNya tidak tersesat mengikuti
ilah yang tidak jelas dan tidak pasti.
Jika dipahami Alkitab sebagai pernyataan khusus Allah bagi umatNya.
Alkitab sebagai media menyingkapkan Allah, dalam bahasa manusia sehingga
manusia dapat memahaminya, pernyataan Allah meneguhkan bahwa Allah adalah Allah
yang berfirman dan bertindak berdasarkan kedaulatannya, dan Allah dalam diriNya
dapat dipahami melalui bahasa manusia / media (Alkitab).
ii. Alkitab adalah tulisan yang di Nafaskan
Allah.
Alkitab yang adalah kumpulan tulisan (PL. kitab Musa /
Hukum, Para Nabi, Mazmur) tiap-tiap tulisan yang ditulis oleh 40 penulis yang
berbeda, latar belakang dan profesi dalam kehidupan mereka, dan tempat yang
berbeda ditulis pada tiga wilayah yang berbeda, Eropa, Asia dan Afrika dalam
jangka waktu lebih dari 1500 tahun.
Alkitab dinafaskan oleh Allah (2 Timotius.3:16) ditulis oleh manusia dan menggunakan bahasa
manusia yang digerakkan Roh Kudus (2
Petrus. 1:21) sehingga Alkitab tetap menujukkan kesatuan yang sempurna. Hal
ini Alkitab telah melalui fase teopneustis atau pengilhaman ilahi. Segala
tulisan diilhamkan Allah (dihembusi oleh Nafas Allah).
Teori tentang ilham ini tidak mencegah
perantaraan manusia, melainkan sebaliknya lebih menyatakannya (2 Petrus.
1:21).[4]
Pemahaman tentang pengilhaman, Alkitab telah memberi jawab bahwa di dalam
Alkitab, didalamnya terkandung bukti ilham itu sendiri dan dimanapun Alkitab
itu dipahami, dibaca dan dilakukan pengaruhnya menggembirakan dan memberi
ilham.
Jika demikian apakah Alkitab itu hasil karya manusia atau Allah ?
Memahami tentang pengilhaman / Alkitab dinafaskan Allah, harus dipahami
bahwa Alkitab memiliki dua Nutur / aspek.
Alkitab dipahami sebagai hasil karya manusia karena memilki natur manusia
/ aspek kodrati berkaitan dengan media yang digunakan yaitu bahasa manusia.
Alkitab dipahami sebgai hasil karya Allah karena mamiliki natur ilahi /
aspek adi kodrati berkaitan dengan Allah yang berfirman / mengilhami /
memberikan otoritas didalamnya.
Namun Alkitab tidak dapat dipisahkan antara dua aspek ini, pemahaman bahwa
Alkitab adalah kumpulan tulisan yang diilhamkan Allah. Allah menggunakan media
untuk menyatakan otoritasNya kepada umatNya (yang dipahami sebagai pernyataan
khusus – firman yang tertulis).
Alkitab adalah ciptaan Roh Kudus artinya :
para penulisnya telah digerakkan dan dorong oleh Roh untuk berbicara atau
menulis).[5]
Roh Kudus yang menggerakkan dan mendorong para penulis Alkkitab,. Alkitab
menjadi media Roh Kudus untuk menyampaikan firman Allah, dan Roh Kudus sendiri
yang menghidupkan tulisan / kata-kata firman Allah dalam hati orang percaya,
sehingga mereka dapat mengenal Allah dan memuliakan Allah.
Sekalipun menggunakan natur manusiawi, Alkitab
bukanlah semata-mata hasil karya manusia / Injil manusia (Galatia. 1:11) atau menurut kehendak manusia. Namun tetaplah karya
Allah. Dalam kedaulatanNya untuk menyatakan diriNya kepada umat pilihannya,
walaupun Alkitab terbatas untuk menyatakan dirinya karena menggunakan media
yang terbatas, melalui perkataan / verbal yang terbatas. Alkitab cukup /
sempurna untuk umat pilihanNya. Memahami Allah yang sempurna dalam
kedaulatanNya dalam alkitab dan Roh Kudus yang memelihara firmanNya.
Jadi karena Alkitab dinafaskan oleh Allah (2 Timotius. 3:16) dan ditulis oleh
manusia yang digerakkan dan didorong oleh Roh Kudus (2 Petrus. 1:21) maka Alkitab secara keseluruhan dapat dipercaya dan
diterima secara jelas dan berwibawa dalam menjelaskan / menggambarkan Yesus
Kristus. (Firman yang menjadi daging).
Dalam perspektif Iman Kristen, Alkitab dilihat sebagai Fieman Allah,
dalam media tulisan (bahasa manusia).
Kewibawaan perjanjian lama, sama
seperti perjanjian baru, didasarkan pada keyakinan bahwa perjanjian lama adalah
Firman Allah dalam bahasa manusia.[6]
iii. Alkitab tidak Mungkin Salah
Jika Alkitab adalah ciptaan Roh Kudus (Allah) maka Allah sempurna – tidak
berbuat salah, maka Alkitab memiliki sifat tidak mungkin keliru
(infalibilitas). Alkitab tidak mungkin salah dalam pernyataannya tentang Allah,
Allah yang berkaya dalam Yesus Kristus, teopneustis menjamin kesahihan Alkitab,
pewahyuan – pengilhaman menghasilkan firman yang tertulis dan memiliki otoritas
(Allah memelihara firmanNya) dan Alkitab sahih untuk dipercaya dan bebas dari
kesalahan dalam autograp yang asli.
Bagaimanakah Alkitab membuktikan, Alkitab tidak
mungkin salah ? Alkitab, maksudnya sudah barang tentu bukan sesuatu diluar
Alkitab. Misal 2 Tomotius. 3:16, 2 Petrus. 1:21, kita pun tidak diperbolehkan
menjelaskan Alkitab menurut keinginan kita, alkitab menjelaskan Alkitab,
interpretasi harus disesuaikan dengan teks dan konteks, hingga dapat ditemukan
keharmonisan dalam Alkitab dan makna yang terkandung didalamnya, yang tersurat
maupun yang tersirat.
iv. Bagaiaman Alkitab menjelaskan Alkitab ?
i.
Alkitab menjelaskan sendiri bahwa Alkitab perkataan
dari Allah. (2 Timotius. 3:16), setiap ayat berupa kata-kata yang tertulis,
Alkitab menunjukkan seluruh isi Alkitab (perjanjian lama dan perjanjian baru).
ii.
Yesus berkata kitab suci tidak bisa dibatalkan (Yoh
10:35), Yesus memberi penjelasan bahwa perjanjian lama itu sangat teliti, Yesus
menegaskan bahwa apa yang ditulis Musa dan para Nabi benar, akurat, tidak
salah, contoh sebagai berikut hal penciptaan. (Matius. 19:4); (Adam dan Hawa.
Mat. 19: 4 – 6; Kej. 1:26 – 27; 2:7 – 18) Kain dan habil (Mat. 23:35, Ibrani
11:4; Kej. 4:1 – 15) Soal Setan (Luk. 11:18), Nuh, Yunus dan istri Lot. (Mat 24:37 – 38, Kej. 6:1 – 14) (Mat. 12:39 – 40,
Yunus. 1:7) (Lukas, 17:32, Kej. 19:26).
iii.
Demikian halnya dengan para Rasul menerima perjanjian
lama sebagai suatu yang tidak mungkin salah.
Tanpa kecuali, kesalahan tidak ditemukan dalam ayat-ayat Alkitab, Roh
Kudus yang supranatural telah menggerakkan dan memimpin para penulis kitab
untuk menulis / menyatakan apa yang Allah ingin menyatakan, juga menulis /
menyalin tanpa kesalahan dalam tulisan aslinya.
Memahami Alkitab yang tidak mungkin salah / keliru dari segi teologi
maupun sejarah, dalam perspektif iman Kristen umat Allah memandang bahwa
Alkitab adalah di ilhamkan Allah – hasil karya Allah – melalui manusia pada
media yang terbatas – jika Alkitab adalah karya Allah dan Allah adalah sempurna
dalam tiap karya Allah, maka Allah tidak mungkin melakukan kesalahan /
kekeliruan, maka Alkitab tidak mungkin salah atau bebas dari kekeliruan pada
manuskrip aslinya.
Kenyataan ini menuntut agar kita memandang
Alkitab sebagai sepenuhnya di ilhamkan oleh Allah, bahkan sampai pemilihan
hal-ihwal didalam teks apabila hal itu benar, maka beberapa implikasi menyusul.[7]
III
ALKITAB DALAM PERSPEKTIF IMAN KRISTEN
i.
Iman dan
Alkitab
Dasar dari segala yang kita bicarakan adalah Alkitab,
namun dalam perspektif Iman kristen, Iman dan Alkitab tidak dapat dipisahkan,
segala sesuatu yang tidak berdasarkan Iman adalah dosa (Rom ). Tanpa iman segala pemikiran tentang
Alkitab adalah sia-sia.
Iman / percaya bahwa, Alkitab adalah firman Allah –
terjadinya proses ilahi menempatkan yang tak terbatas dalam media yang
terbatas, dimana kreatifitas Allah ada didalamnya (Allah memodifikasikan
dirinya) untuk dapat dipahami manusia. Melalui fase Teopneutis – pengilhaman,
otoritas dan kedaulatannya ada dalam Alkitab.
Iman adalah anugrah dari Allah, karena Alkitab adalah
pernyataan khusus Allah (Firman yang tertulis) demikian halnya untuk mengerti,
mamahami aAlkitab perlu anugrah Allah Roh Kudus memampukan, menghidupkan
tulisan-tulisan dan bekerja dalam hati orang percaya.
Kepercayaan akan Firman Tuhan, adalah
karunia yang datang dari Allah (Mat. 16:17; 1 Kor 12:3, 2 Petrus 1:11, dan
lain-lain) karena itu kepercayaan ini adalah dasar dari segala sesuatu yang
kita harapkan dan bukti bukan hanya mengetahui, melainkan juga menyerahkan diri
kepada Yesus Kristus dan mengikutiNya.[8]
Mengapa iman menjadi syarat mutlak untuk dapat memahami / percaya Alkitab
ya, karena pikiran manuisa telah berdosa dan tidak dapat menangkap apa yang
Mulia / Kudus yang dari Allah.
Dr. R. Soedarmo menjelaskan, bahwa Nalalar kita sudah termasuk dalam
dunia yang rusak ini.[9]
Melalui Alkitab Allah menyatakan diriNya dan karyaNya dan Iman adalah
anugrah untuk manusia memahami Allah.
Allah menghidupkan manusia berdosa, memperbaharui pikiran. Iman Kristen
yang berorientasi pada Allah dan Yesus Kristus, yang membawa umat Allah
memahami dengan benar dalam Yesus Kristus.
Iman dibangun diatas dasar alasan yang dapat
dipikirkan secara koheren, konsisten dan bukti empiris dan dalam kontek yang
luas. Iman adalah anugerah Allah kepada umatNya – Iman adalah anugrah Allah
untuk umat Allah mengenal Allah dan memuliakan-Nya, Iman adalah nugrah dari
Allah untuk menanggapi sesuatu dari Allah. Iman berkaitan dengan sumber iman yaitu Allah.[10]
Jika tanpa iman, manusia tidak dapat memahami Allah dan firmanNya, maka
untuk memahami Allah dan firmanNya diperlukan anugrah.
ii. Alkitab menjadi Dasar Gereja
Pada zaman gereja mula-mula Alkitab telah menjadi
dasar gereja. Pada masa pelayanan para rasul, ajaran dan tulisan para rasul
menjadi pengangan, dasar kehidupan berjemaat.
Sejak zaman jemaat mula-mula orang Kristen
telah percaya dan menegaskan bahwa kitab-kitab perjanjian lama maupun
perjanjian baru adalah tulisan dasar iman mereka dan dalamnya Allah telah
berfirman dan terus berfirman kepada umatNya.[11]
Alkitab menjadi dasar Gereja, ajaran para rasul dan
para nabi pada gereja mula-mula menjadi dasar dari gereja karena berorientasi
pada Yesus Kristus (Epesus. 2:20).
Melalui Alkitab, Gereja Umat ? Allah dapat memahami Allah yang berpribadi
dan berdaulat dalam tiap karyaNya, dan Allahlah yang memberikan kemampuan
kepada umatNya untuk mengerti dan memahami Allah melalui Alkitab.
iii. Melihat Karya Allah dalam Alkitab.
Alkitab memberikan informasi Allah yang berkarya,
memberikan anugrah keselamatan bagi manusia berdosa, Allah yang berkarya dalam
Yesus Kristus memeberikan penebusan dan penyelamatan bagi umatNya, bila
dipahami lebih jauh Alkitab memberitahukan bagaimana manusia berdosa menemukasn
Allah didalam Yesus Kristus, sebagaimana tujuan Alkitab yang diungkapkan oleh
Dr. R. Soedarmo yaitu agar manusia percaya pada Yesus Kristus Anak Allah (Yoh. 20:31).[12]
Jika Alkitab atau melalui Alkitab umat Allah memahami karya Allah yang
berorientasi pada Yesus Kristus, melalui Alkitab umat Allah dapat memahami
Allah. Yang berkarya dan karya terbesarNya adalah keselamatan bagi umat
pilihanNya, Alkitab untuk umat Allah, Umat Allah tidak dapat tanpa Alkitab.
Mengapa ? Karena umat Allah menjadi proyeksi dari karya Allah, yaitu
keselamatan.
Melalui Alkitab umat Allah dapat memahami Anugrah Keselamatan bagi
manusia yang berdosa.
Alkitab sangat berkaitan erat dengan umat Allah, transendensi Allah tidak
dapat dipahami oleh manusia karena dosa, melalui Alkitab Allah dapat dipahami
itupun tidak tuntas dan utuh namun Alkitab sempurna, cukup untuk menyatakan
diri Allah pada umatNya.
iv. Alkitab sebagai Standar Ukuran Kebenaran
bagi Allah
Jika Alkitab menjadi dasar gereja, maka Alkitab
menjadi standar ukur kebenaran bagi umat Allah. Alkitab merupakan ukuran Allah
yang dapat digunakan pada sisi kemanusiaan dan keilahian. Alkitab memberikan
hukum-hukum ibadah dan standar moral bagi umat Allah, sehingga dengan kemampun
yang dari Allah, umat Allah dapat hidup sesuai dengan standar ukur Allah.
Sekalipun Alkitab tidak memberikan / mengajarkan segala sesuatu – banyak
hal yang tidak tersurat dalam Alkitab – namun Alkitab sempurna, Alkitab
diberikan hanya untuk mengajar tentang kebenaran Allah dan tegas apa yang
dituntut Allah dari manusia.
Alkitab sebagai standar ukur, menjadi sumber mutlak dari segala
kebenaran, ajaran, memberikan pengenalan akan Allah dan kehendak Allah bagi
umatnNya, Roh Allah yang bekerja dalam hati orang percaya “menghidupkan” tulisn
dalam Alkitab menerangi mengajar umat Allah untuk hidup sesuai dengan
tuntutankebenaran Allah. (2 Tim. 3:16).
Paulus dalam Roma. 12:2 menjelaskan bahwa umat Allah “Janganlah serupa
dengan dunia ini,” Alkitab versi King James menterjemahkan ayat ini sebagai And
be not Conformed to this world. Alkitab mengingatkan bahwa umat Allah tidak
boleh menyamakan diri dengan standar hidup anak dunia. Standar ukur umat Allah.
Kebenaran Allah – Alkitab.
v. Menerapkan Alkitab dalam Kehidupan
Alkitab menjadi dasar gereja, hal itu menjelaskan
bagaimana Alkitab diterapkan dalam kehidupan sehari-hari umat Allah.
Ketika umat Allah membaca, merenungkan, mempelajari (kisah. 17:11) umat
Tuhan menerima dan memahami serta menjalankan (mempratekkan dalam kehidupan
sehari-hari).
Menerapkan Alkitab – firman Allah dalam keseharian merupakan tindakan
iman orang percaya. Dalam perspektif Iman kristen – Alkitab diwujudkan dalam pengalama
keseharianyang nyata / bila Alkitab (firman Allah) sudah menghasilkan perubahan
tindakan / perubahan sikap dalam hidup sehari datang kesehari.
Alkitab dalam perspektif iman Kristen – bukan hanya umat Allah menerima
Alkitab sebagai firman Allah, namun bagaimana umat Allah menerapkan dalam
kehidupan sehari-hari, firman Allah dapat mengubah karakter umat Allah,
sehingga umat Allah mencapai kesempurnaan
sebagai ciptaan Allah, yang telah dirusakkan oleh dosa.
vi. Iman Kristen terhadap Alkitab
Membangun hubungan yang indah dengan Allah, dengan
membaca Alkitab, memahami dan mengerti seperti apa, dan bagaimana Allah itu,
Alkitab (Firman Allah) memiliki tujuan yang sempurna bagi umat Allah (2
Timotius. 3:15,16) memberi hikmat dan menuntun kepada kebenaran Allah (Yoh,
6:63) Firman Allah menghidupkan, Firman Allah memberikan terang bagi kehidupan
umat Allah (2 Petrus 1:19, Maz 19:9, 119 : 105, 103) sebagai standar hidup,
Alkitab membawa kepada kedewasaan rohani (1 Korintus. 3:1,2), (1 Petrus. 2:22),
(Epesus. 4:12 – 15), Firman Allah memberikan kekuatan, penghiburan pada masa
sukor.
IV
PENUTUP
Umat Allah tidak dapat dipisahkan dari Alkitab, Alkitab tidak bisa tanpa
umat Allah, dalam iman Kristen Alkitab memiliki kewibawaan Allah, Allah yang
memelihara Alkitab dalam kedaulatan.
Alkitab sempurna
dan bebas dari kekeliruan memiliki otoritas Allah, hasil dari pewahyuan /
pengilhaman sehingga sahih untuk dipercaya. (2 Timotius. 3:16, 2 Petrus. 1:21) Alkitab yang adalah karya Allah
(dinayaskan oleh Allah) maka Alkitab (PL – PB) secara keseluruhan dapat
diterima dan dipercaya sebagai Firman Allah.
Alkitab yang ada pernyataan dari Allah (Firman yang tertulis) bagi
umatNya memberi pemahaman Allah yang bertanggung jawab kepada umatNya, Allah
yang menciptakan, memelihara umatNya.
Sekarang umat
Tuhan telah memiliki standar hidup (ibadah dan moral) yang mengartur keseharian
hidup dari umat Allah. Hidup umat Allah harus disesuaikan dengan Alkitab (Mal. 114:9,11).
Dalam proses
karonisasi kini Alkitab (Firman Allah) telah menjadi kesatuan yang utuh, Tugas
umat Tuhan adalah menerima, membaca dan merenungkan dalam melakukan firmannya.
Alkitab
membangun, menyatakan kesalahan dan memperbaikinya (2 Timotius 3:16). Sikap umat Allah harus seperti, rusa yang merindukan
air yang berair, pada firman Allah, haus dan selalu membutuhkan firmannya
seperti yang Yesus ucapkan, bahwa manusia hidup bukan saja dari rota, tetapi
dari apa yang keluar dari mulut Allah (Firman Allah).
Dalam perspektif
Iman Kristen, Alkitab diterima sebagai Firman Allah dan standar hidup umat
Allah sehingga menghasilkan perubahan hidup.
DAFTAR PUSTAKA
1.
Satu Alkitab Dua
Perjanjian, Dr. David L. Baker, Bpk Gunung Mulia, 2001
2.
Teologi Kristen 1,
Millar. J. Erickson, Gandum Mas.
3.
IKHTISAR
DOGMATIKA, Dr.. R. Soedarmo. PT Bpk Gunung Mulia
4.
Bible Answer Foor
1000 Difficult Questions, George Sandison Staf, Gandum Mas
5.
Dokmatika Masa
Kini, Dr. G. C Van NIFTRIK, Dr. B.J BOLAND, PT. BPK Gunung Mulia.
6.
Kamus Istilah
Teologi, Dr. R. Soedarmo, PT BPK Gunung Mulia, 2006.
7.
Pokok-pokok Iman
Kristen yang perlu ditekan, Dr. R. Soedarmo, PT BPK Gunung Mulia. Th. 1997
8.
Makalah Teologi
Filsafat, Kevin T. Rey. Th. D. STT
Pentakosta Magelang, Th. 2009
[1] Dr.
David L. Baker “SATU ALKITAB DUA PERJANJIAN” BPK Gunung Mulia, Cet-4, th. 2001
hal 296
[2] Miliar J. Erickson “Teologi Kristen 1” GANDUM
MAS-MALANG hal. 277
[3] Dr. R. Soedarmo. “IKHTISAR DOGMATIKA” PT BPK
Gunung Mulia, hal 47
[4] George Sandisan dan Staf “BIBLE ANSWER FOR
1000 DIFFICULT QUESTIONS” Penerbit Gandum Mas, hal. 8
[5] Dr. G.C Van NIFTRIK, Dr. B.J BOLAND,
“Dokmatika Masa Kini” PT BPK Gunung Mulia, hal 390
[6] Dr. David L. Baker, “ SATU ALKITAB PERJANJIAN
BPK Gunung Mulia, Cet-4, th. 2001, hal 296,297
[7]
Millard J. Erickson “TEOLOGI KRISTEN 1” Gandum Mas – 2004, hal 360
[8] Dr. R. Soedarmo “KAMUS ISTILAH TEOLOGI” PT
BPK Gunung Mulia, - cet. 16 – hal. 70, th. 2006
[9] Dr. R Soedarmo “POKOK-POKOK IMAN YANG PERLU
DITEKANKAN” – cet.3 – BPK Gunung Mulia. Thn. 1997 hal 41
[10] Kevin T. Rey. Th D “Makalah Teologi Filsafat”
STT PANTEKOSTA – Magelang, hal. 9. thn 2008.
[11] Dr.
David L. Baker, “SATU ALKITAB DUA PERJANJIAN”, BPK Gunung Mulia, cet-4,
th 2001, hal 296
[12] Dr. R. Soedarmo. “IKHTISAR DOGMATIKA” PT BPK
Gunung Mulia, hal. 77