Rabu, 09 Mei 2012

ALKITAB DALAM PERSPEKTIF IMAN KRISTEN

I
PENDAHULUAN

Alkitab (Bible-Ing, Biblia-Yun) memiliki arti buku-buku, memang alkitab terdiri dari banyak kumpulan tulisan (buku-buku), grape, tulisan dalam bahasa manusia, Alkitab dibagi menjadi dua bagian perjanjian, perjanjian lama dan perjanjian baru. PL : ada 39 buku, PB : 27 buku.
PL sudah ada pada Jemaat Yahudi sebelum Kristus, PL terdiri dari, Kitab Taurat / hukum : kejadian, keluaran, imamat, bilangan, ulangan, Nabi-nabi, tulisan hikmat dan puisi. PL aslinya sudah tidak ada lagi karena ditulis diatas papirus yang dibuat dari tangkai tanaman papirus, tapi tulisan-tulisan diatas perkamen yang terbuat dari kulit binatang dapat tahan lama, dari PB saja ada lebih dari 4000 naskah permanen.
Alkitab adalah pernyataan Allah, dalam perspektif Iman Kristen Alkitab memiliki tujuan yang “misteri” dari Allah. Semua yang ditulis supaya manusia percaya bahwa Yesuslah, Allah (Mesias Anak Allah) dan oleh Iman memperoleh hidup dalam nama-Nya, mengapa misteri ? Karena Alkitab berorientasi hanya pada umat Allah atau Alkitab bagi umat Allah, Iman Kristen tidak dapat dipisahkan oleh Alkitab. Alkitab merupakan pernyataan Allah secara khusus dalam media tulisan / bahasa manusia bagi umat Allah.
Dalam makalah ini akan dibahas tentang, Apa dan bagaimana Alkitab, betulkah Alkitab Firman Allah ? Dan bagaimana Alkitab disebut Firman Allah. Dan melihat Alkitab dari sudut pandang Iman Kristen, Alkitab sebagai pernyataan Allah, untuk umat Allah dan melalui Alkitab umat Allah memahami Allah dan karyanya, Alkitab menjadi dasar Gereja, dan umat Allah menerapkan Alkitab dalam kehidupan sehari-hari, umat memahami Alkitab secara komprehensip, koherensi sehingga menghasilkan kebenaran yang dipraktekan dalam keseharian. Menjawab apa Alkitab itu, ini menuntut sebuah jawaban yang didasarkan pada pemahaman terhadap Alkitab secara baik dan benar.
Alkitab yang memilki dua aspek, manusiawi dan ilahi, hal tak terbatas masuk / intervensi pada yang terbatas tanpa kehilangan natur ilahinya makna dan esensi dari yang tak terbatas.
Alkitab yang tertulis oleh 40 penulis dari latar belakang yang berbeda dan tempat yang berbeda, waktu yang berbeda, namun yang tetap menunjukkan keharmonisan, keindahan dalam tulisan dan maknanya, Alkitab sebagai media menyingkapkan Allah menjadi manusia, transendensi Allah yang nyata dalam inkarnasinya dalam Yesus Kristus.
Allah yang berdaulat atas firmannya, otoritas Allah yang memelihara dan menghidupkan firmannya yang membawa pengharapan bagi umatnya.
Semua kitab, dalam Kitabnya mempunyai latar belakang sejarah dan budaya yang khusus dan pada umumnya ditulis untuk orang-orang yang lain dengan kita.”[1]

II
APA  DAN BAGAIMANA ALKITAB  ITU

Dalam perspektif Iman Kristen Alkitab adalah firman Allah. Firman tersebut telah terdokumentasikan sedemikian rupa sehingga membentuk sebuah kitab yang lengkap, yang dikumpulkan dari teks-teks kuno yang koronik.
Secara obyektif Alkitab dapat dipahami sebagai pernyataan Allah, secara singkat dikatakan bahwa Alkitab adalah catatan yang obyektif dari wahyu Allah yang inskriptuasinya dikerjakan oleh Roh Kudus yang menggerakkan para penulis supaya berita tentang keselamatan Allah melalui Yesus Kristus dapat disampaikan kepada semua umat manusia.
Iman Kristen tidak dapat dipisahkan dari pernyataan Allah, manusia yang telah jatuh dalam dosa dan tidak mampu mengenal Allah dan kehendak-Nya. Tapi dalam kasih-Nya Allah berkenan untuk menyatakan diriNya dan kehendakNya. Pernyataan Allah merupakan komunikasi Allah melalui bahasa manusia, sehingga manusia dapat memahami Allah dan kehendakNya.
Alkitab menyatakan bahwa Allah dapat dipahami dikenal dengan pasti, transendensi Allah dapat dipahami dalam pernyataan khusus Allah, dalam pribadi Yesus Kristus (Allah yang menjadi daging) dan Alkitab (pernyataan Allah tertulis).

Apa dan Bagaimana Alkitab itu ?
Alkitab adalah Firman Allah : berarti berkaitan dengan Allah yang berfirman. Apakah Firman / perkataan ? Perkataan adalah alat-alat yang menyatakan kepada orang lain siapakah diri dan apakah maksud orang yang berkata, jika Alkitab adalah Firman Allah, maka Alkitab menyatakan diri Allah, Alkitab melaporkan tentang Allah yang berkarya, berfirman, Alkitab tanpa Allah tidak dapat dinyatakan Firman Allah, hal itu berarti Roh Kudus yang menghidupkan atau yang meneguhkan bahwa Alkitab adalah Firman Allah.

i.        Alkitab adalah Pernyataan Khusus Allah
Semua manusia telah berdosa dan kehilangan kemuliaan Allah (Roma.3:23) manusia berdosa tidak mampu memahami Allah dalam kesempurnaanNya, Dalam kasihnya Allah berinisiatif menyatakan diriNya melalui mediasi Alkitab yang ditulis dengan bahasa manusia.
Alkitab (pernyataan khusus yang tertulis) menyatakan Allah pribadi yang berkaya menciptakan, memelihara, menyelamatkan umatNya.
Yang dimaksud dengan pernyataan khusus ialah menefestasi diri Allah kepada orang-orang tertentu pada saat dan tempat tertentu, sehingga memungkinkan orang-orang tersebut memasuki bubungan yang bersifat menebuskan dengan Allah.[2]

Tanpa pernyataan kasih dan karya Allah tidak menjadi jelas, pusat pernyataan menunjuk pada pribadi Yesus (Firman yang menjadi daging).
Pernyataan khusus (Alkitab – Firman yang tertulis) menjadi khusus itu menjadi pedoman sehingga orang-orang percaya tidak tersesat.
Secara umum (melalui alam semesta) Allah telah menyatakan dirinya kepada manusia, namun karena dosa manusia tidak mampu mengenal Allah dengan sempurna, (Roma.1:20 – 23) melalui karyaNya – Alam semesta, manusia tetap tidak dapat memuliakan Allah – karena dosa.
Namun pernyataan khusus Allah memberikan peluang besar untuk manusia berdosa dapat dihidupkan dan memperoleh kemampuan untuk dapat menanggapi Allah, memuliakan Allah, dan mengenal-Nya.
Sejak masuknya dosa dalam diri manusia, pernyataan umum menjadi rusak            Dr. R. Soedarmo dengan jelas menjelaskan pentingnya pernyataan khusus itu.
Sebab sejak saat itu (Kej.3:9) rusaklah pernyataan umum tadi dengan masuknya pengaruh dosa. Pernyataan khusus dasar ini diberikan hingga Rasul-rasul yang terkahir meninggal. Sesudah itu cukuplah pernyataan yang menjadi alas atau dasar bagi pernyataan khusus yang dibutuhkan bagi manusia sedunia untuk mengenal lagi akan Allah dan untuk menerima anugrah kelepasan. Pernyataan khusus ini ialah Kitab Suci.[3]

Melalui pernyataaan khusus, segala sesuatu yang berasal dari Allah dapat ditangkap / dipahami oleh umatNya. Pernyataan khusus bersifat Anugerah hanya bagi umatNya, mereka menerima anugrah untuk memahami pernyataan khusus Allah, yang berpusat kepada Yesus Kristus (Firman yang menjadi daging) dan Alkitab (Firman yang tertulis.) menjadi pedoman supaya umatNya tidak tersesat mengikuti ilah yang tidak jelas dan tidak pasti.
Jika dipahami Alkitab sebagai pernyataan khusus Allah bagi umatNya. Alkitab sebagai media menyingkapkan Allah, dalam bahasa manusia sehingga manusia dapat memahaminya, pernyataan Allah meneguhkan bahwa Allah adalah Allah yang berfirman dan bertindak berdasarkan kedaulatannya, dan Allah dalam diriNya dapat dipahami melalui bahasa manusia / media (Alkitab).
ii.      Alkitab adalah tulisan yang di Nafaskan Allah.
Alkitab yang adalah kumpulan tulisan (PL. kitab Musa / Hukum, Para Nabi, Mazmur) tiap-tiap tulisan yang ditulis oleh 40 penulis yang berbeda, latar belakang dan profesi dalam kehidupan mereka, dan tempat yang berbeda ditulis pada tiga wilayah yang berbeda, Eropa, Asia dan Afrika dalam jangka waktu lebih dari 1500 tahun.
Alkitab dinafaskan oleh Allah (2 Timotius.3:16) ditulis oleh manusia dan menggunakan bahasa manusia yang digerakkan Roh Kudus (2 Petrus. 1:21) sehingga Alkitab tetap menujukkan kesatuan yang sempurna. Hal ini Alkitab telah melalui fase teopneustis atau pengilhaman ilahi. Segala tulisan diilhamkan Allah (dihembusi oleh Nafas Allah).
Teori tentang ilham ini tidak mencegah perantaraan manusia, melainkan sebaliknya lebih menyatakannya (2 Petrus. 1:21).[4]

Pemahaman tentang pengilhaman, Alkitab telah memberi jawab bahwa di dalam Alkitab, didalamnya terkandung bukti ilham itu sendiri dan dimanapun Alkitab itu dipahami, dibaca dan dilakukan pengaruhnya menggembirakan dan memberi ilham.
Jika demikian apakah Alkitab itu hasil karya manusia atau Allah ?
Memahami tentang pengilhaman / Alkitab dinafaskan Allah, harus dipahami bahwa Alkitab memiliki dua Nutur / aspek.
Alkitab dipahami sebagai hasil karya manusia karena memilki natur manusia / aspek kodrati berkaitan dengan media yang digunakan yaitu bahasa manusia.
Alkitab dipahami sebgai hasil karya Allah karena mamiliki natur ilahi / aspek adi kodrati berkaitan dengan Allah yang berfirman / mengilhami / memberikan otoritas didalamnya.
Namun Alkitab tidak dapat dipisahkan antara dua aspek ini, pemahaman bahwa Alkitab adalah kumpulan tulisan yang diilhamkan Allah. Allah menggunakan media untuk menyatakan otoritasNya kepada umatNya (yang dipahami sebagai pernyataan khusus – firman yang tertulis).
Alkitab adalah ciptaan Roh Kudus artinya : para penulisnya telah digerakkan dan dorong oleh Roh untuk berbicara atau menulis).[5]

Roh Kudus yang menggerakkan dan mendorong para penulis Alkkitab,. Alkitab menjadi media Roh Kudus untuk menyampaikan firman Allah, dan Roh Kudus sendiri yang menghidupkan tulisan / kata-kata firman Allah dalam hati orang percaya, sehingga mereka dapat mengenal Allah dan memuliakan Allah.
Sekalipun menggunakan natur manusiawi, Alkitab bukanlah semata-mata hasil karya manusia / Injil manusia (Galatia. 1:11) atau menurut kehendak manusia. Namun tetaplah karya Allah. Dalam kedaulatanNya untuk menyatakan diriNya kepada umat pilihannya, walaupun Alkitab terbatas untuk menyatakan dirinya karena menggunakan media yang terbatas, melalui perkataan / verbal yang terbatas. Alkitab cukup / sempurna untuk umat pilihanNya. Memahami Allah yang sempurna dalam kedaulatanNya dalam alkitab dan Roh Kudus yang memelihara firmanNya.
Jadi karena Alkitab dinafaskan oleh Allah (2 Timotius. 3:16) dan ditulis oleh manusia yang digerakkan dan didorong oleh Roh Kudus (2 Petrus. 1:21) maka Alkitab secara keseluruhan dapat dipercaya dan diterima secara jelas dan berwibawa dalam menjelaskan / menggambarkan Yesus Kristus. (Firman yang menjadi daging).
Dalam perspektif Iman Kristen, Alkitab dilihat sebagai Fieman Allah, dalam media tulisan (bahasa manusia).
Kewibawaan perjanjian lama, sama seperti perjanjian baru, didasarkan pada keyakinan bahwa perjanjian lama adalah Firman Allah dalam bahasa manusia.[6]

iii.    Alkitab tidak Mungkin Salah
Jika Alkitab adalah ciptaan Roh Kudus (Allah) maka Allah sempurna – tidak berbuat salah, maka Alkitab memiliki sifat tidak mungkin keliru (infalibilitas). Alkitab tidak mungkin salah dalam pernyataannya tentang Allah, Allah yang berkaya dalam Yesus Kristus, teopneustis menjamin kesahihan Alkitab, pewahyuan – pengilhaman menghasilkan firman yang tertulis dan memiliki otoritas (Allah memelihara firmanNya) dan Alkitab sahih untuk dipercaya dan bebas dari kesalahan dalam autograp yang asli.
Bagaimanakah Alkitab membuktikan, Alkitab tidak mungkin salah ? Alkitab, maksudnya sudah barang tentu bukan sesuatu diluar Alkitab. Misal 2 Tomotius. 3:16, 2 Petrus. 1:21, kita pun tidak diperbolehkan menjelaskan Alkitab menurut keinginan kita, alkitab menjelaskan Alkitab, interpretasi harus disesuaikan dengan teks dan konteks, hingga dapat ditemukan keharmonisan dalam Alkitab dan makna yang terkandung didalamnya, yang tersurat maupun yang tersirat.

iv.    Bagaiaman Alkitab menjelaskan Alkitab ?
i.        Alkitab menjelaskan sendiri bahwa Alkitab perkataan dari Allah. (2 Timotius. 3:16), setiap ayat berupa kata-kata yang tertulis, Alkitab menunjukkan seluruh isi Alkitab (perjanjian lama dan perjanjian baru).
ii.      Yesus berkata kitab suci tidak bisa dibatalkan (Yoh 10:35), Yesus memberi penjelasan bahwa perjanjian lama itu sangat teliti, Yesus menegaskan bahwa apa yang ditulis Musa dan para Nabi benar, akurat, tidak salah, contoh sebagai berikut hal penciptaan. (Matius. 19:4); (Adam dan Hawa. Mat. 19: 4 – 6; Kej. 1:26 – 27; 2:7 – 18) Kain dan habil (Mat. 23:35, Ibrani 11:4; Kej. 4:1 – 15) Soal Setan (Luk. 11:18), Nuh, Yunus dan istri Lot. (Mat 24:37 – 38, Kej. 6:1 – 14) (Mat. 12:39 – 40, Yunus. 1:7) (Lukas, 17:32, Kej. 19:26).
iii.    Demikian halnya dengan para Rasul menerima perjanjian lama sebagai suatu yang tidak mungkin salah.

Tanpa kecuali, kesalahan tidak ditemukan dalam ayat-ayat Alkitab, Roh Kudus yang supranatural telah menggerakkan dan memimpin para penulis kitab untuk menulis / menyatakan apa yang Allah ingin menyatakan, juga menulis / menyalin tanpa kesalahan dalam tulisan aslinya.
Memahami Alkitab yang tidak mungkin salah / keliru dari segi teologi maupun sejarah, dalam perspektif iman Kristen umat Allah memandang bahwa Alkitab adalah di ilhamkan Allah – hasil karya Allah – melalui manusia pada media yang terbatas – jika Alkitab adalah karya Allah dan Allah adalah sempurna dalam tiap karya Allah, maka Allah tidak mungkin melakukan kesalahan / kekeliruan, maka Alkitab tidak mungkin salah atau bebas dari kekeliruan pada manuskrip aslinya.
Kenyataan ini menuntut agar kita memandang Alkitab sebagai sepenuhnya di ilhamkan oleh Allah, bahkan sampai pemilihan hal-ihwal didalam teks apabila hal itu benar, maka beberapa implikasi menyusul.[7]
III
ALKITAB DALAM PERSPEKTIF IMAN KRISTEN

i.        Iman dan Alkitab
Dasar dari segala yang kita bicarakan adalah Alkitab, namun dalam perspektif Iman kristen, Iman dan Alkitab tidak dapat dipisahkan, segala sesuatu yang tidak berdasarkan Iman adalah dosa (Rom        ). Tanpa iman segala pemikiran tentang Alkitab adalah sia-sia.
Iman / percaya bahwa, Alkitab adalah firman Allah – terjadinya proses ilahi menempatkan yang tak terbatas dalam media yang terbatas, dimana kreatifitas Allah ada didalamnya (Allah memodifikasikan dirinya) untuk dapat dipahami manusia. Melalui fase Teopneutis – pengilhaman, otoritas dan kedaulatannya ada dalam Alkitab.
Iman adalah anugrah dari Allah, karena Alkitab adalah pernyataan khusus Allah (Firman yang tertulis) demikian halnya untuk mengerti, mamahami aAlkitab perlu anugrah Allah Roh Kudus memampukan, menghidupkan tulisan-tulisan dan bekerja dalam hati orang percaya.
Kepercayaan akan Firman Tuhan, adalah karunia yang datang dari Allah (Mat. 16:17; 1 Kor 12:3, 2 Petrus 1:11, dan lain-lain) karena itu kepercayaan ini adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti bukan hanya mengetahui, melainkan juga menyerahkan diri kepada Yesus Kristus dan mengikutiNya.[8]

Mengapa iman menjadi syarat mutlak untuk dapat memahami / percaya Alkitab ya, karena pikiran manuisa telah berdosa dan tidak dapat menangkap apa yang Mulia / Kudus yang dari Allah.
Dr. R. Soedarmo menjelaskan, bahwa Nalalar kita sudah termasuk dalam dunia yang rusak ini.[9]
Melalui Alkitab Allah menyatakan diriNya dan karyaNya dan Iman adalah anugrah untuk manusia memahami Allah.
Allah menghidupkan manusia berdosa, memperbaharui pikiran. Iman Kristen yang berorientasi pada Allah dan Yesus Kristus, yang membawa umat Allah memahami dengan benar dalam Yesus Kristus.
Iman dibangun diatas dasar alasan yang dapat dipikirkan secara koheren, konsisten dan bukti empiris dan dalam kontek yang luas. Iman adalah anugerah Allah kepada umatNya – Iman adalah anugrah Allah untuk umat Allah mengenal Allah dan memuliakan-Nya, Iman adalah nugrah dari Allah untuk menanggapi sesuatu dari Allah. Iman berkaitan  dengan sumber iman yaitu Allah.[10]

Jika tanpa iman, manusia tidak dapat memahami Allah dan firmanNya, maka untuk memahami Allah dan firmanNya diperlukan anugrah.

ii.      Alkitab menjadi Dasar Gereja
Pada zaman gereja mula-mula Alkitab telah menjadi dasar gereja. Pada masa pelayanan para rasul, ajaran dan tulisan para rasul menjadi pengangan, dasar kehidupan berjemaat.
Sejak zaman jemaat mula-mula orang Kristen telah percaya dan menegaskan bahwa kitab-kitab perjanjian lama maupun perjanjian baru adalah tulisan dasar iman mereka dan dalamnya Allah telah berfirman dan terus berfirman kepada umatNya.[11]
Alkitab menjadi dasar Gereja, ajaran para rasul dan para nabi pada gereja mula-mula menjadi dasar dari gereja karena berorientasi pada Yesus Kristus      (Epesus. 2:20).
Melalui Alkitab, Gereja Umat ? Allah dapat memahami Allah yang berpribadi dan berdaulat dalam tiap karyaNya, dan Allahlah yang memberikan kemampuan kepada umatNya untuk mengerti dan memahami Allah melalui Alkitab.

iii.    Melihat Karya Allah dalam Alkitab.
Alkitab memberikan informasi Allah yang berkarya, memberikan anugrah keselamatan bagi manusia berdosa, Allah yang berkarya dalam Yesus Kristus memeberikan penebusan dan penyelamatan bagi umatNya, bila dipahami lebih jauh Alkitab memberitahukan bagaimana manusia berdosa menemukasn Allah didalam Yesus Kristus, sebagaimana tujuan Alkitab yang diungkapkan oleh Dr. R. Soedarmo yaitu agar manusia percaya pada Yesus Kristus Anak Allah              (Yoh. 20:31).[12]
Jika Alkitab atau melalui Alkitab umat Allah memahami karya Allah yang berorientasi pada Yesus Kristus, melalui Alkitab umat Allah dapat memahami Allah. Yang berkarya dan karya terbesarNya adalah keselamatan bagi umat pilihanNya, Alkitab untuk umat Allah, Umat Allah tidak dapat tanpa Alkitab. Mengapa ? Karena umat Allah menjadi proyeksi dari karya Allah, yaitu keselamatan.
Melalui Alkitab umat Allah dapat memahami Anugrah Keselamatan bagi manusia yang berdosa.
Alkitab sangat berkaitan erat dengan umat Allah, transendensi Allah tidak dapat dipahami oleh manusia karena dosa, melalui Alkitab Allah dapat dipahami itupun tidak tuntas dan utuh namun Alkitab sempurna, cukup untuk menyatakan diri Allah pada umatNya.

iv.    Alkitab sebagai Standar Ukuran Kebenaran bagi Allah
Jika Alkitab menjadi dasar gereja, maka Alkitab menjadi standar ukur kebenaran bagi umat Allah. Alkitab merupakan ukuran Allah yang dapat digunakan pada sisi kemanusiaan dan keilahian. Alkitab memberikan hukum-hukum ibadah dan standar moral bagi umat Allah, sehingga dengan kemampun yang dari Allah, umat Allah dapat hidup sesuai dengan standar ukur Allah.
Sekalipun Alkitab tidak memberikan / mengajarkan segala sesuatu – banyak hal yang tidak tersurat dalam Alkitab – namun Alkitab sempurna, Alkitab diberikan hanya untuk mengajar tentang kebenaran Allah dan tegas apa yang dituntut Allah dari manusia.
Alkitab sebagai standar ukur, menjadi sumber mutlak dari segala kebenaran, ajaran, memberikan pengenalan akan Allah dan kehendak Allah bagi umatnNya, Roh Allah yang bekerja dalam hati orang percaya “menghidupkan” tulisn dalam Alkitab menerangi mengajar umat Allah untuk hidup sesuai dengan tuntutankebenaran Allah. (2 Tim. 3:16).
Paulus dalam Roma. 12:2 menjelaskan bahwa umat Allah “Janganlah serupa dengan dunia ini,” Alkitab versi King James menterjemahkan ayat ini sebagai And be not Conformed to this world. Alkitab mengingatkan bahwa umat Allah tidak boleh menyamakan diri dengan standar hidup anak dunia. Standar ukur umat Allah. Kebenaran Allah – Alkitab.

v.      Menerapkan Alkitab dalam Kehidupan
Alkitab menjadi dasar gereja, hal itu menjelaskan bagaimana Alkitab diterapkan dalam kehidupan sehari-hari umat Allah.
Ketika umat Allah membaca, merenungkan, mempelajari (kisah. 17:11) umat Tuhan menerima dan memahami serta menjalankan (mempratekkan dalam kehidupan sehari-hari).
Menerapkan Alkitab – firman Allah dalam keseharian merupakan tindakan iman orang percaya. Dalam perspektif Iman kristen – Alkitab diwujudkan dalam pengalama keseharianyang nyata / bila Alkitab (firman Allah) sudah menghasilkan perubahan tindakan / perubahan sikap dalam hidup sehari datang kesehari.
Alkitab dalam perspektif iman Kristen – bukan hanya umat Allah menerima Alkitab sebagai firman Allah, namun bagaimana umat Allah menerapkan dalam kehidupan sehari-hari, firman Allah dapat mengubah karakter umat Allah, sehingga umat Allah mencapai kesempurnaan  sebagai ciptaan Allah, yang telah dirusakkan oleh dosa.

vi.    Iman Kristen terhadap Alkitab
Membangun hubungan yang indah dengan Allah, dengan membaca Alkitab, memahami dan mengerti seperti apa, dan bagaimana Allah itu, Alkitab (Firman Allah) memiliki tujuan yang sempurna bagi umat Allah (2 Timotius. 3:15,16) memberi hikmat dan menuntun kepada kebenaran Allah (Yoh, 6:63) Firman Allah menghidupkan, Firman Allah memberikan terang bagi kehidupan umat Allah (2 Petrus 1:19, Maz 19:9, 119 : 105, 103) sebagai standar hidup, Alkitab membawa kepada kedewasaan rohani (1 Korintus. 3:1,2), (1 Petrus. 2:22), (Epesus. 4:12 – 15), Firman Allah memberikan kekuatan, penghiburan pada masa sukor.

IV
PENUTUP

Umat Allah tidak dapat dipisahkan dari Alkitab, Alkitab tidak bisa tanpa umat Allah, dalam iman Kristen Alkitab memiliki kewibawaan Allah, Allah yang memelihara Alkitab dalam kedaulatan.
Alkitab sempurna dan bebas dari kekeliruan memiliki otoritas Allah, hasil dari pewahyuan / pengilhaman sehingga sahih untuk dipercaya. (2 Timotius. 3:16, 2 Petrus. 1:21) Alkitab yang adalah karya Allah (dinayaskan oleh Allah) maka Alkitab (PL – PB) secara keseluruhan dapat diterima dan dipercaya sebagai Firman Allah.
Alkitab yang ada pernyataan dari Allah (Firman yang tertulis) bagi umatNya memberi pemahaman Allah yang bertanggung jawab kepada umatNya, Allah yang menciptakan, memelihara umatNya.
Sekarang umat Tuhan telah memiliki standar hidup (ibadah dan moral) yang mengartur keseharian hidup dari umat Allah. Hidup umat Allah harus disesuaikan dengan Alkitab (Mal. 114:9,11).
Dalam proses karonisasi kini Alkitab (Firman Allah) telah menjadi kesatuan yang utuh, Tugas umat Tuhan adalah menerima, membaca dan merenungkan dalam melakukan firmannya.
Alkitab membangun, menyatakan kesalahan dan memperbaikinya (2 Timotius 3:16). Sikap umat Allah harus seperti, rusa yang merindukan air yang berair, pada firman Allah, haus dan selalu membutuhkan firmannya seperti yang Yesus ucapkan, bahwa manusia hidup bukan saja dari rota, tetapi dari apa yang keluar dari mulut Allah (Firman Allah).
Dalam perspektif Iman Kristen, Alkitab diterima sebagai Firman Allah dan standar hidup umat Allah sehingga menghasilkan perubahan hidup.

DAFTAR PUSTAKA

1.      Satu Alkitab Dua Perjanjian, Dr. David L. Baker, Bpk Gunung Mulia, 2001

2.      Teologi Kristen 1, Millar. J. Erickson, Gandum Mas.

3.      IKHTISAR DOGMATIKA, Dr.. R. Soedarmo. PT Bpk Gunung Mulia

4.      Bible Answer Foor 1000 Difficult Questions, George Sandison Staf, Gandum Mas

5.      Dokmatika Masa Kini, Dr. G. C Van NIFTRIK, Dr. B.J BOLAND, PT. BPK Gunung Mulia.

6.      Kamus Istilah Teologi, Dr. R. Soedarmo, PT BPK Gunung Mulia, 2006.

7.      Pokok-pokok Iman Kristen yang perlu ditekan, Dr. R. Soedarmo, PT BPK Gunung Mulia. Th. 1997

8.      Makalah Teologi Filsafat,  Kevin T. Rey. Th. D. STT Pentakosta Magelang,          Th. 2009
 


[1] Dr. David L. Baker “SATU ALKITAB DUA PERJANJIAN” BPK Gunung Mulia, Cet-4, th. 2001 hal 296
[2]  Miliar J. Erickson “Teologi Kristen 1” GANDUM MAS-MALANG hal. 277
[3]  Dr. R. Soedarmo. “IKHTISAR DOGMATIKA” PT BPK Gunung Mulia, hal 47
[4]  George Sandisan dan Staf “BIBLE ANSWER FOR 1000 DIFFICULT QUESTIONS” Penerbit Gandum Mas, hal. 8
[5]  Dr. G.C Van NIFTRIK, Dr. B.J BOLAND, “Dokmatika Masa Kini” PT BPK Gunung Mulia, hal 390
[6]  Dr. David L. Baker, “ SATU ALKITAB PERJANJIAN BPK Gunung Mulia, Cet-4, th. 2001, hal 296,297
[7] Millard J. Erickson “TEOLOGI KRISTEN 1” Gandum Mas – 2004, hal 360
[8]  Dr. R. Soedarmo “KAMUS ISTILAH TEOLOGI” PT BPK Gunung Mulia, - cet. 16 – hal. 70, th. 2006
[9]   Dr. R Soedarmo “POKOK-POKOK IMAN YANG PERLU DITEKANKAN” – cet.3 – BPK Gunung Mulia. Thn. 1997 hal 41
[10]  Kevin T. Rey. Th D “Makalah Teologi Filsafat” STT PANTEKOSTA – Magelang, hal. 9. thn 2008.
[11]  Dr.   David L. Baker, “SATU ALKITAB DUA PERJANJIAN”, BPK Gunung Mulia, cet-4, th 2001, hal 296
[12]  Dr. R. Soedarmo. “IKHTISAR DOGMATIKA” PT BPK Gunung Mulia, hal. 77

Sejarah singkat


SEJARAH GEREJA PANTEKOSTA di INDONESIA
 JEMAAT MAHANAIM GESING

A.    PENDAHULUAN

Gereja Pantekosta di Indonesia Gesing adalah gereja dimana penulis berjemaat mulai sejak sekolah minggu, pemuda dan sampai sekarang (setelah melalui banyak proses). Penulis melayani sebagai staf gembala dan Pembina pemuda.

B.     SEJARAH SINGKAT

Sejak munculnya peristiwa G.30.S.P.K.I tahun 1965, kondisi masyarakat desa gesing, kehidupan masyarakat yang suram, dihantui rasa takut , rasa was-was. Bermula dari masyarakat terhisap dalam kelompok tersebut, sejak munculnya peristiwa G.30.S.P.K.I sering kali masyarakat desa mendapat ancaman; “ tak ciduk kowe” artinya, mau diambil-dijadikan tahanan politik. Pada waktu itu masyarakat desa mulai berfikir, bagaimana bisa lepas dari rasa takut dan kuatir. Mereka mulai berupaya untuk mencari perlindungan, rasa aman, tentram.
Kondisi politik yang membuat penduduk desa tidak menentu berdampak pada psikologis, hidup yang terisolir dan tidak ada ketenangan.
Pada tanggal 28 September 1967, datanglah utusan pelayan injil dati kota Temanggung dating lewat jalan persawahan menuju rumah Pak Sukar. Sebab salah satu pelayan injil seorang ibu bernama Salamah, dari desa Tepungsari, Temanggung adalah sahabat dari Pak Sukar, Ibu Salamah membawa teman-temannya untuk memberitakan injil di desa Gesing.
Ternyata masyarakat desa Gesing sangat responsive terhadap injil rombongan dari Temanggung. Pada waktu injil bekerja di desa Gesing karya Roh Kudus begitu luar biasa, dalam waktu yang sangat singkat jumlah pengikut njil begitu banyak sehingga dalam waktu satu tahun orang-prang Gesing yang menerima Yesus sebagai Juru Selamat ada lima puluh Sembilan keluarga, yang terdiri dari dua ratus orang dewasa dan tujuh puluh anak.
Setiap Senin diadakan babtisan air di pemandian pikatan Temanggung. Walau banyak tantangan dalam pemberitaan injil pernah suatu malam rumah Pak Sukar (tempat beribadah) mendapat terror, dengan kotoran manusia yang dioleskan di pintu pada pagi harinya (malam setelah diadakan ibadah di rumah Pak Sukar). Genap satu tahun sejak awal injil masuk ke desa Gesing berdirilah sebuah gedung gereja yang megah (untuk ukuran desa)
Tanggal 26 September1968, tepatnya kurang dua hari genap satu tahun P.I di desa Gesing ditabiskan gereja untuk tempat ibadah umat Tuhan di Geing.
Pernah terjadi saat malam mengadakan pertemuan panitia pembangunan gereja, dilaporkan hansip ke KORAMIL bahwa di desa Gesing ada rapat gelap. Tak disangka, pagi-pagi secara tiba-tiba 13 orang dipanggil Pak Kadus (Kepala Dusun) kemudian langsung dibawa ke KODIM. Menurut keterangan orang-orang tersebut akan dijadikan tahanan politik. Mendengar hal itu semua umat Tuhan yang di rumah berdoa dan menangis supaya mereka yang dibawa ke KODIM dibebaskan. Dengan pulangnya merka dari KODIM banyak orang menjadi percaya, jiwa-jiwa baru bertambah.
Menurut data dari sekretaris gereja perkembangan jemaat di desa Gesing adalah sebagai berikut:
Tahun
Jumlah Dewasa
Jumlah Anak
1967 akhir-1968
1969-1979
1880-1990
1991-2004
2005-2011
255 orang
316 orang
430 orang
550 orang
700 orang
45 anak
125 anak
135 anak
157 anak
135 anak

Berdasarkan data yang diperoleh, bahwa pertambahan jemaat yang diperoleh adalah melalui tiga cara:
1.      Secara biologis – pertambahan dari keturunan 65%
2.      Perpindahan 30%
-          Perpindahan dari gereja lain
-          Melalui perkawinan (yang salah satunya dari agama bukan Kristen)
3.      Melalui P.I yang diperoleh melalui kesaksian 5%
Melihat pertumbuhan gereja sampai dengan tahun 2009 gereja sudah berulang kali merenovasi banguna gereja.

Sejarah GPdI Gesing


A.    Sejarah Gereja Pantekosta di Indonesia Gesing dan Perkembangannya.

Gereja Pantekosta di Indonesia Gesing adalah bagian dari organisasi Gereja Pantekosta di Indonesia. Gereja Pantekosta di Indonesia merupakan organisasi gereja yang cukup besar dan berkembang di seluruh penjuru tanah air, bahkan berkembang juga di beberapa Negara lain. Dikatakan sebagai organisasi yang besar karena organisasi ini memiliki jumlah gereja yang sangat banyak yang tersebar dikota-kota maupun didesa-desa dengan jumlah dua belas ribu empat ratus lima puluh ( 12.450) sidang jemaat, ini belum termasuk cabang.[1]
Demikian pula Gereja Pantekosta di Indonesia Gesing. Sidang Jemaat Gereja Pantekosta di Gesing adalah murni hasil penginjilan yang dilakukan oleh kaum awam jemaat Gereja Pantekosta Temanggung yang pada waktu itu di gembalakan oleh Bp. Pdt. Titus Yuwono. Sekalipun pada waktu itu belum popular istilah pertumbuhan gereja, namun gereja pada waktu itu telah mempraktekan pertumbuhan gereja secara ekstensi[2] yaitu membuka dan memulainya gereja-gereja baru. Pastor Young G. Chai mendefinisikan pertumbuhan gereja sebagai berikut : “dengan menemukan karunia jemaat, melatih dan memberi kesempatan supaya karunia mereka dapat dipakai semua kegiatan gereja dan pekerjaan yang membangun jemaat, yaitu penginjilan, kunjungan oleh kaum awam”[3] Dalam hal ini peran gembala dalam memulai suatu gereja baru sangat menentukan. Daud Garrison menuliskan dalam bukunya mengenai pertumbuhan gerejanya :
Pertumbuhan gereja adalah lebih sekedar dari kebangunan rohani yang dapat dilihat mata, hal yang spektakuler, tetapi pertumbuhan gereja harus diawali darui penanaman gereja tua yang disebut dengan istilah gerakan penanaman gereja.[4]

Garrison melihat pertumbuhan gereja tersebut dari sisi penginjilan sehingga akibat yang dapat dilihat dan dibuktikan banyak gereja tersebut mengirim atau memproduksi utusan Injil.[5]
Artinya pernyataan Garrison menjelaskan bahwa pertumbuhan gereja berkaitan dengan fisik dan non fisik, maksudnya GPdI Gesing mengalami pertumbuhan melalui penginjilan bukan hanya pada jumlah namun pada  kualitasnya.

A.1. Sejarah Singkat GPdI Gesing

Sejak munculnya peristiwa G.30.S.P.K.I tahun 1965, kondisi masyarakat desa Gesing, kehidupan masyarakat yang suram, dihantui rasa takut, rasa was-was, bermula dari masyarakat terhisap dalam kelompok tersebut, sejak muncunya peristiwa G.30.S.P.K.I  sering kali masyarakat mendapat ancaman: “tak ciduk kowe” artinya, mau diambil dijadikan tahanan politik. Pada waktu itu masyarakat desa mulai berfikir, bagaimana bisa lepas dari rasa takut dan kuatir. Mereka mulai berupaya untuk mencari perlindungan, rasa aman, tentram.
Kondisi politik yang membuat penduduk desa tidak menentu berdampak pada psikologis, hidup yang terisolir dan tidak ada ketenangan.
Pada tanggal 28 September 1967, datanglah utusan pelayan Injil dari kota Temanggung datang lewat jalan persawahan menuju rumah Pak Sukar. Sebab salah satu pelayan Injil seorang ibu bernama Salamah, dari desa Tepungsari, Temanggung adalah sahabat Pak Sukar, Ibu Salamah membawa teman-temannya untuk memberitakan Injil di desa Gesing.
Ternyata masyarakat desa Gesing sangat responcive terhadap Injil  rombongan dari Temanggung. Pada waktu Injil bekerja di desa Gesing karya Roh Kudus begitu luar biasa, dalam waktu yang sangat singkat jumlah pengikut Injil begitu banyak sehingga dalam waktu satu tahun orang-orang gesing menerima Yesus sebagai Juru Selamat ada lima puluh sembilan keluarga, yang terdiri dari dua ratus orang dewasa dan tujuh puluh anak.
Setiap senin diadakan baptisan air di pemandian Pikatan Temanggung. Walau banyak tantangan dalam pemberitaan Injil pernah suatu malam rumah Pak Sukar (tempat ibadah) pintu rumah dilabur dengan kotoran  manusia (malam setelah diadakan ibadah di rumah Pak Sukar). Genap satu tahun sejak awal Injil masuk desa Gesing berdirilah sebuah gedung gereja yang megah (untuk  ukuran desa).
Tanggal 26 September 1968, tepatnya kurang dua hari genap satu tahun P.I di desa gesing ditabiskan gereja untuk tempat ibadah umat Tuhan di Gesing.
Pernah terjadi saat malam mengadakan pertemuan panitia pembangunan gereja, dilaporkan hansip ke KORAMIL, bahwa di desa Gesing ada rapat gelap. Tak disangka, pagi-pagi secara tiba-tiba 13 orang dipanggil Pak Kadus (Kepala Dusun) kemudian langsung dibawa ke KODIM. Menurut keterangan orang-orang tersebut akan dijadikan tahanan politik. Mendengar hal itu semua umat Tuhan yang di rumah berdoa dan menangis supaya mereka yang dibawa ke KODIM dibebaskan. Dengan pulangnya mereka dari KODIM banyak orang menjadi percaya, jiwa-jiwa baru bertambah.
Menurut data dari sekretaris gereka perkembangan jemaaat di desa Gesing adalah sebagai berikut :
Tahun
Jumlah Dewasa
Jumlah Anak
1967 akhir – 1968
255  orang
45  anak
1969 – 1979
316  orang
125  anak
1980 – 1990 
430  orang
135  anak
1991 – 2004
550  orang
157  anak
2005 – 2011
700  orang
135  anak

Berdasarkan data dari sekretaris gereja perkembangan jemaat di desa Gesing adalah sebagai berikut :
1.      Secara biologis – pertambahan dari keturunan enam puluh persen
2.      Perpindahan tiga puluh persen
-          Perpindahahan dari gereja lain
-          Melalui perkawinan (yang salah satunya dari agama bukan Kristen)
3.      Melalui P.I yang diperoleh melalui kesaksian lima persen.
Melihat perkembangan gereja sampai dengan tahun 2009 gereja sudah berulang kali merenovasi bangunan gereja.

A.2. Dimulainya Penjemaatan

                        Seiring dengan pertambahan jemaat, tahun 1967 Pdt.Titus Yuwono melakukan sesuatu yang penting berhubungan dengan tata cara suatu organisasi yaitu meresmikan perkumpulan tersebut menjadi bagian dari keluarga besar Gereja Pantekosta Temanggung yang memiliki badan hukum keagamaan.
Gereja Pantekosta di Indonesia yang merupakan kelanjutan dari De Pinkesterkerk In Nederlandsch Indie. Badan hukum adalah persekutuan gerejawi berdasarkan pemerintah Republik Indonesia dengan Beslit Pemerintah Nomor 33 Tanggal 4 juni 1937, Nomor 368, Keterangan Departemen Agama Republik Indonesia Nomor E/VII/156/926/73, dan surat keputusan Direktur Jendral Bimbingan Masyarakat Kristen Protestan Departemen Agama Republik Indonesia Nomor 30 tahun  1988 tanggal 3 Februari 1988.[6]

Penjemaatan ini penting untuk dilakukan mengingat bahwa gereja perlu memiliki legalitas dan pada saat itu sedang terjadi peristiwa politik G/30S PKI, dimana setiap warga Negara harus memiliki status yang jelas dalam keimanan.

A.3. Perkembangan Sidang Jemaat
Gereja yang sehat adalah gereja yang berkembang. Perkembangan gereja ditandai dengan bertambahnya umat yang ada baik secara kuantitas maupun kualitas. Meminjam istilah C. Peter Wagner, diantara tanda-tanda lain dari kesehatan yang baik, Tuhan menambah jumlah mereka dengan orang yang diselamatkan tiap-tiap hari (Kisah rasul 2:47). Jikalau Tuhan tidak menambah anggota-anggota baru secara tetap, maka ada sesuatu yang tidak beres dengan gereja itu.[7]
            Dalam kurun waktu yang tidak lama sejak di mulainya ibadah pertama anak-anak pada akhir tahun 1966 hingga tahun 1968 jumlah jemaat mencapai sembilan puluh jemaat yang terdiri dari lima puluh jemaat dewasa, lima belas pemuda remaja, anak-anak dua puluh lima. Perkembangan sidang jemaat Gereja Pantekosta Gesing terus mengalami  perkembangan hingga saat sekarang ini.
A.4 Kondisi Masyarakat
Wilayah Temanggung sebagian besar merupakan dataran dengan ketinggian antara lima ratus sampai dengan seribu empat ratus lima puluh  m diatas permukaan air laut, dengan jenis tanah latosol coklat seluas Dua puluh enam ribu lima ratus enam puluh tiga koma empat puluh tujuh Ha.[8] Dengan karunia alam yang luar biasa indahnya, ditunjang hawa yang dingin daerah Temanggung seharusnya masyarakat memiliki  tingkat kehidupan yang layak. Dikarenakan banyak kendala dan faktor, dalam kenyataannya tingkat pendapatan daerah hanya lima persen.[9]Hal ini berarti bahwa kehidupan setiap warga masih jauh dari seperti apa yang diharapkan, sempitnya lapangan pekerjaan serta terbatasnya infrastruktur membuat Temanggung menjadi kota sepi, sehingga banyak warga lebih senang kerja diluar kota.
A.5   Kondisi Sidang Jemaat
1. Sebelum Injil Masuk

Secara umum pada tahun 1966 masyarakat di desa Gesing hidup di bawah garis kemiskinan,[10]pertanian sering mengalami kegagalan ditambah dengan gangguan hama serta situasi keamanan ( banyaknya kasus pencurian) telah membuat kehidupan di desa tersebut semakin memburuk. Dampak dari kemiskinan yang melilit kehidupan masyarakat, memunculkan permasalahan sosial masyarakat, antara lain: kejahatan meningkat, pengangguran dimana-mana. 
2. Sesudah Injil masuk
Pelan namun pasti kehidupan jemaat Desa Gesing mengalami perubahan dalam berbagai hal. Perubahan yang terjadi diawali oleh berita pengharapan yang disampaikan lewat pelayanan mimbar, disadari atau tidak kehadiran gereja telah memberi warna kearah lebih baik dalam kehidupan masyarakat. Leslslie Newbigin menuliskan:
Gereja yang menjangkau setiap masyarakat manusia, menjalani kehidupan yang berpusat dalam pengingatan dan pemetasan yang terus menerus tentang pernyataan yang sentral itu, menawarkan kepada semua orang suatu visi mengenai sasaran sejarah manusia yang didalamnya kebaikan ditegaskan dan kejahatan diampuni dan dihapuskan. Suatu visi yang memungkinkan untuk bertindak dengan penuh harapan ketka tidak ada lagi harapan di duni ini, dan menemukan jalan ketika segala sesuatu gelap dan tidak ada petunjuk di dunia ini.[11]

Injil telah merubah tatanan kehidupan masyarakat, hal ini dibuktikan dengan beberapa prestasi yang telah diraih dan apresiasi dari berbagai kalangan yang telah diterima, antara lain: juara pertama Agro Forestri tahun 1983 Tingkat Jawa Tengah, dalam bidang yang sama juara II Tingkat  tahun 1984 Tingkat Jawa Tengah.
3.    Sekilas tentang metode pekabaran Injil di Gereja pantekosta di Indonesia Gesing
Penginjilan merupakan suatu rencana dan kehendal Allah didalam proses pertumbuhan gereja yang memiliki visi dan misi untuk penginjilan sesuai dengan amanat agung Tuhan Yesus Kristus. Penginjilan adalah rencana dan karya Allah untuk menghimpun bagi diri-Nya suatu umat untu bersekutu, menyembah serta melayani dia secara utuh dan serasi [12] Pertumbuhan penginjilan di desa Gesing sangatlah mengagumkan, metode kontekstual dalam pelaksanaan  penginjilan sangat bermanafaat untuk tumbuh kembangnya Injil Desa Gesing. Memikirkan soal metode dalam proses pelaksanaan penginjilan yang kontekstual sangatlah penting untuk tugas misi yang diembannya agar dapat mencapai hasil yang diharapkan semaksimal mungkin.[13] Metode penginjilan perlu dipilih dan dikembangkan secara kreatif sehingga penerima Injil dapat memperoleh makna yang sesungguhnya dari berita Injil yang diterimanya. Sesungguhnya tidak ada metode penginjilan yang dapat dikategorikan paling tepat bagi setiap kesempatan pelaksanaan proses penginjilan. Derek Prince, dalam bukunya menuliskan bahwa metode harus fleksibel dan suatu waktu dapat berubah, sesuai dengan kebutuhan atau keadaan yang dihadapi.[14] Artinya untuk menciptakan sebuah metode yang efektif maka “Bangunlah jembatan hubungan sosial dengan menciptakan persahabatan. Hal ini harus dilakukan dengan memperhatikan faktor budaya dan sosial dan tata krama yang berlaku, yang dilakukan dengan sopan santun.[15]
Menembus batas bangun komunitas – terjadilah pekabaran Injil di Desa Gesing adalah anugrah dan karya Allah yang bekerja melalui metode “persahabatan”. Masuknya Injil melalui persahataan, Pak Sukar dan Ibu Salamah mereka adalah sahabaat dalam mencari ilmu (ngilmu) Ibu Salamah yang terlebih berjumpa dengan Yesus, dengan tetap menjalin silaturahmi bersama team dari Temanggung mereka mulai memberikan Injil kondisi politik yang sedang  bergejolak dimanfaatkan oleh para pemberita Injil untuk memperkenalkan Yesus. Kondisi sosial, perekonomian pun dapat dimanfaatkan untuk memperkenalkan Yesus. Keadaan – masyarakat Desa gesing yang miskin pada saat itu, dengan pelayanan  sosial – pembagian sembako – dan jajanan untuk anak kecil sekolah minggu) dapat meraih banyak jiwa kepada Yesus.
Persahataan  menjadi cara yang efektif untuk memberitaan Injil. Dalam Kitab Injil Yohanes pasal 4 adalah cara Yesus memberitakan Injil, Yesus tidak mulai dengan berita Ijiil “messege” memang kabar yang baik (Injil) itulah yang menjadi kebutuhan utama wanita Samaria itu. Itu juga menjadi kebutuhan yang sebenarnya (real need) dari manusia. Tetapi dalam pendekatan-nya. Yesus mulai dengan apa yang dirasakan (felt need) perempuan Samaria itu. “Berilah Aku minum” adalah kata-kata pembukaan Yesus kertika ia mendekati perempuan Samaria itu pada waktu terik matahari dipinggir sumur yakub. kalimat itu tidak sekedar menyatakan bahwa Yesus membutuhkan air minum, tetapi kata-kata itu bisa berarti “Aku mau bersahabat denganmu”, Yesus menembus batas untuk membangun komunitas, sebab  ungkapan Yesus sangat menggentarkan hati wanita itu (tak mungkin orang yahudi mau bersahabat dengan orang samaria) bagi perempuan samaria tak mungkin Yesus(orang Yahudi) mengucapkan kata –kata seperti yang Yesus ucapkan  keseorang samaria.
Pendekatan Yesus kepada perempuan samaria, langsung menyentuh kebutuhannnya. Rupanya perempuan samaria itu merasa tertolak oleh kaum Yahudi, yang sebagaimana kebanyakan masyarakat di Desa Gesing (oleh peristiwa G.30.S.PKI) kebutuhan manusia adalah membutuhkan penerimaan dan pengakuan masyarakat lain. Perempuan samaria itu merasa tidak aman kalau ditolak. Nah Yesus mengetahui keadaan ini. Karena itu, Yesus mulai dengan bersikap bersahabat, “berilah Aku minum”.
Klehadiran Ibu Salamah ke Desa Gesing bersama dengan team untuk menjumpai Pak Sukar adalah sikap persahabatan membangun silaturahmi – melalaui persahabatan – Injil diberitakan.
4.      Profil Gereja Pantekosta di Indonesia Gesing

Sistem pengaturan di dalam Gereja pantekosta di Indonesia adalah Episcopal. Artinya kepemimpinan tertinggi dalam sebuah gereja terletak pada gembala sidang atau pendeta. Termasuk dalam mengangkat majelis dan memberhentikannya. Gembala sidang bertanggung jawab atas program dan tata pelayanan dalam gereja.




URAIAN TUGAS
Sesuai dengan struktur organisasi di atas telah disusun uraian tugas sebagai berikut :
Gembala :
1.      Pemimpin tertinggi
2.      Bertanggung jawab penuh atas tata pelayanan dalam gereja
3.      Mengangkat dan memberhentikan majelis
4.      Menyelenggarakan dan memimpim rapat majelis
Ketua Majelis
1.      Mengkoordinir fungsi-fungsi kemajelisan, sekretaris dan perbendaharaan
2.      Mengatur dan menharagkan strategi pelayanan
3.      Bersama sekretaris mewakili  jemaat secara hukum keluar dan kemasyarakatan / pemerintahan mendadatangani surat-surat resmi.
4.      Memimpin rapat-rapat wadah.
Wakil majelis
1.      Mewakili/menggantikan ketua majelis jika berhalangan
2.      Membantu tugas ketua majelis sesuai dengan permintaan dan pengarahan dari kertua majelis
3.      Memonitor pelaksanaan program dari majelis sidang.
Sekretaris I
1.      Mengkoordinasi dan mengatur fungsi sekretaris gereja serta seluruh sarana dan prasarana pendukungnya.
2.      Bersama ketua mewakili jemaat secara hukum keluar dan kemasyarakatan/pemerintahan
3.      Menyusun dan mengatur  laporan bulanan, laporan tahunan dan berita lainnnya kepada jemaat
4.      Mengatur dan menguru pemeliharaan gedung gereja berikut perlengkapannya
5.      Menyeleksi surat-surat masuk dan mendistribusikan kepada bidang terkait.
6.      Bersama Gembala, ketua ,menandatangani surat keluar, surat-surat gereja dan dokumen lainnnya.
Sekretaris II
1.      Menggantikan sekretaris I jika berhalangan
2.      Menyusun / membuat notulen rapat
3.      Membuat surat undangan rapat ibntermn
4.      Mebngurus dan mengatur arsip surat-surat, dokumentasi foro serta pencatatatan keperluan  gereja dan tentang harta benda gereja
5.      Membantu urusan rumah tangga gereja lain.
Bendahara I
1.      Mengurus penerimaan dan pengeluaran setelah disetujui gembala
2.      Mengatur penyimpanan uang di Bank;
3.      Mengatur tata usaha keuangan serta membuat laporan bulanan untuk kepentingan warga jemaaat.
4.      Mengawasi dan mengendalikan kas kecil pada sekretaris agar efektif sesuai sasaran yang dicapai
5.      Mengawasi dan mengendalikan anggaran gereja berdasarkan ketetapan yang dibuat dalam buku rencana tahunan hasil Rakornis
6.      Senantiasa mengawasi dan meningkatkan pelaksanaan prosedur administrasi keuangan gereja, sehingga keuangan bagian wadah-wadah supaya efektif dan efisien.
Benhadara II
1.      Menggantikan bendahara I jika berhalangan.

TUGAS DAN KOORDINATOR BIDANG / WADAH
Bidang I
1.      Membawahi bidang kebaktian, pembinaan dan kategorial (wadah/wadah)
a.       Pelnap
b.      Pelprap
c.       Pelwap
d.      Pelprip
2.      Dikoordinir oleh satu anggota majelis
3.      Mengatur kerja tahunan bersama dengan gembala dan tenaga rohani
4.      Mengatur ketertiban jemaaat secara berkesinambungan
e.       Mengupayakan bentuk ibadah yang lebih dinamis dan kreatif (khususnya tentang liturgi disesuaikan dengan klasifikasi yang disetujui pada tiap-tiap wadah dan liturgi ibadah)
f.       Menanamkan kesadaran jemaaat untuk hidup dalam doa dan bertekun dalam pengajaran (bad. Kis 1 : 14; 1:4, 5)
2.      Diakonia
Pembinaan Jemaaat dfalam bidang pelayanan (sosial)
a.       Menyeleksi keanggotaan diakonia
b.      Mengevaluasi penerimaaan bantuan diakonia untuk menuntun kebijaksanaan selanjutnya.
c.       Melalui bidang diakonia mengajar jemaat untuk dapat bekerjasama, saling membantu/saling peduli dan menghargai.
3.      Marturia, peningkatan pembinaan jemaaat bidang kesaksian
a.       Mendorong pelaksanaan penginjilan dalam berbagai bentuk dan metode
b.      Pembukaaan pos penginjilan serta pendewasaan
c.       Mendorong jemaat menyadari akan talenta dan karunia yang diterima dan memaksimalkan untuk pelayanan.
d.      Mengarahkan semua bentuk pelayanan  dalam suatu tujuan yang sama
e.       Menjadikan gereja yang misoner
f.       Menjalin hubungan dengan lembaga lain, PGPI, BKSUK, BAMAG
g.      Menjalin hubungan dengan pemerintah baik desa maupun tingkat daerah (kecamatan, kabupaten, propinsi)

 Bidang II (marturia
1.      Membawahi, mengkoordinir bidang, pikumene, misi, teak, PI, upacara gereja (penghiburan, pernikahan, penyerahan anak, pentabisan gedung gereja) dan sakramen (baptisan air, perjamuan Kudus).
Bidang II (Diakonia) :
1.       Perawatan/visitas
2.      Sosial
3.      Mengadakan pemeriksaan kesehatan gratis (Minggu ke IV)

JADWAL  KEGIATAN GEREJA
GPdI JEMAAT GESING

Senin
18.00 – 19.30
Ibadah Doa
Selasa
18.00 – 19.30
Pelprip  (Minggu II dan III)
Rabu
18.30 – selesai
PD Imanuel
Kamis
18.00 – 18.00
Ibadah Raya
Jum;at
13.00 - selesai
Doa Puasa Wanita

14.00 – 16.00
PELWAP  (Minggu II dam III)

19.00 – 21.00
PD PELPRAP
Sabtu
18.00 – 20.00
 PELPRAP

19.00 – selesai
PD SION
Minggu
08.00 – 09.00
PELNAP

09.30 – 11.30
Ibadah Raya


[1]. AH. Mandey. Mubes Gereja Pantekosta di Indonesia, ( Batu : MUBES GPdI, 2006)
[2]. C. Peter Wagner, Manfaat Karunia Roh Untuk Pertumbuhan Gereja, ( Malang : Gandum Mas, 2000), hal 200
[3]. Young G. Chai, Penggembalaan Bersama Dengan Orang Awam, ( Yayasan Info International, 2005), hal 63
[4] David Garrison, 10 Prinsip Penanaman dan Pengembangan Gereja. Pen. Yohanes R. Suprandono (YWAM Publising Indonesia, 2008) hal. 14
[5] Ibid. hal. 16
[6]. Majelis Pusat Gereja Pantekosta di Indonesia, Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga Bab 1 Pasal 2
[7] . C. Peter Wagner, Manfaat Karunia Roh Untuk Pertumbuhan Gereja, ( Malang: Gandum Mas, 2000), hal 178
[8] BPS. Temanggung Dalam angka 2002, ( Temanggung, 2002), hal 2
[9]. Ibid, hal 246
[10]. Stefanus Budiyono, Wawancara, 13 April 2011 jam 15.00 WIB
[11]. Lesslie Newbigin, Injil dalam Masyarakat Majemuk ( Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2002), hal 314-315
[12]  Y. Yomalata, M. Div. M.J.S, Penginjilan Masa Kini I, Malang, penerbit Gandum Mas, 1998, hal.1-2
[13] Timotius Agus Suryanto, M.Th, Diklat Misiologi II. SAM. GPdI, 2008-2009, hal.2-3
[14] Derek Prince, membangun Jemaaat Kristus. YPI Imanuel, jakarta. 1993. Hal.37
[15] Pdt. Dr. Y. Yomalata. Penginjilan Masa Kini 2. Malang. Gandum Mas, 1998, hal. 53