PERENUNGAN
KRISTUS, PENGGANTI KITA,
( YESAYA 53 :
1 – 12 )
Pendahuluan
Ketika perhatian kita tertuju pada Yesaya pasal 53 (L.A.I 2007)
memberikan judul dalam perikop ini “Hamba Tuhan yang menderita” kita akan
sependapat bahwa pasal ini memiliki keistimewaan dari pasal-pasal yang lain
(yang membahas tentang seorang hamba, yang ada dalam kitab Yesaya). “Hamba”
Tuhan, dalam pasal ini dengan jelas dinyatakan sebagai pribadi / oknum.
Ketika dilakukan interpretasi, dalam perspektif teologi perjanjian lama
secara sistematif, komprehensif, koherensi berdasarkan bagian-bagian atau
secara tetematis dapat dijelaskan bahwa tokoh “Hamba Tuhan” yang menderita
dalam pasal 53 adalah, Dia yang disalibkan di Golgota yaitu manusia Yesus
Kristus. Kata “Kristus atau Khristos” adalah gelar yang dikenakan pada diri,
yang mengacu pada terjemahan kata Ibrani “Mesias” yang berarti yang diurapi.
Yesus Kristus berarti Yesus telah diurapi Allah menjadi juru selamat umatNya.
Dalam PL yang
diurapi adalah Nabi, Imam, dan Raja. Ketiga-tiganya menunjuk kepada Kristus yang adalah Nabi, Imam
dan Nabi. Nabi dalam PL menjadi
penyambung lidah Allah (pemberita Firman Allah), Kristus adalah Sang Firman
(Allah), Dia bukan hanya pemberita firman tapi Dia adalah firman (Allah)
(Yohanes 1 : 1 – 14). Imam dalam PL
melakukan pekerjaan mempersembahkan korba, Kristus mempersembahkan diriNya
(menjadi korban) untuk menyelamatkan umatNya (Ibr 7 : 21 – 28). Raja dalam PL
bertugas memerintah agar bangsa hidup menurut kehendak Allah, Kristus
mendirikan kerajaanNya (Yoh 18 : 36) dan memerintah (Rm 14 : 9; I Korintus 15 :
25).
Kesempurnaan Sang Pengganti
Tokoh dalam Yesaya 53 adalah Kristus / Mesias (yang menunjuk pada
kemanusiaan Yesus), tidak mungkin tokoh / oknum tersebut adalah “Manusia lain”
atau tokoh-tokoh Perjanjian Lama lainnya, dengan jelas nubuatan ini menunjuk
pada pribadi Yesus Kristus, itu dapat dikuatkan oleh ayat berikut, yang muncul
dalam pokok-pokok tersebut adalah kesempurnaan Hamba / kesempurnaan pengganti
tersebut, dan kegenapan Nubuat yang tergenapi dalam Yesus.
Ia datang
dalam kerendahan – ‘sebagai tunas dari tanah kering’. Kehadiran Yesus ke muka
bumi ini, dalam segala kesederhanaan dan oada kondisi umat yang sedang
mengalami kekeringan Rohani, Yohanes pembaptis mulai membangunkan dengan seruan
pertobatan sesaat sebelum Yesus memulai pelayanannya.
Dalam sejarah para Nabi, Maleakhi adalah
Nabi terakhir untuk menyampaikan Firman Allah, dan 400 tahun sampai pada
Yohanes pembaptis memulai pelayanan, masa 400 tahun / masa gelap dimana Allah
tidak berfirman, kerohanian Israel mengalami kekeringan.
Ia dihina dan
dihindari orang.
Yesaya 53 : 3
“Ia dihina dan dihindari orang”
Dijelaskan
bahwa “hamba” itu dihina dan dihindari orang, bukankah ini menunjuk pada pribadi
Yesus Kristus, dalam kehadiranNya banyak orang Yahudi yang menolak bahkan Dia
banyak dibenci dan ditolak oleh para pemimpin Yahudi.
Matius 26 :
57, sesudah mereka menangkap Yesus,
mereka membawaNya menghadap Kayafas, Imam Besar. Disitu telah berkumpul
ahli-ahli Taurat dan tua-tua.
(Lukas 4 : 16 – 30) Yesus ditolak di
Nazaret.
Ia menanggung
sengsara ganti manusia yang berdosa – “Dia tertikam oleh pemberontakan kita”.
Yesaya 53 :
4…. Penyakit kitalah yang ditanggungNya,
dan kesengsaraan kita yang dipikulNya, …
Dalam
Perjanjian Baru dijelaskan pelayanan Yesus menyembuhkan yang sakit, Kristus
memikul hukuman agar umatNya (orang percaya) dilepaskan dari kelemahan dan
penyakit, dari dosa dan akibat disa. Yesaya 53 : 4 dikutip dalam Matius 8 : 17,
Hal itu supaya genaplah firman yang
disampaikan oleh Nabi Yesaya : “Dialah yang memikul kelemahan kita dan
menanggung penyakit kita”.
Allah
sendirilah yang menanggung sengsara ganti manusia yang berdosa itu, merekalah
umat ketebusanNya – “Tuhan telah menimpakan kepadanya kejahatan kita sekalian”.
Dan
sesudah menanggung sengsara, Ia akan masuk dalam kemenangan besar – “sebab itu
Aku akan membagikan kepadaNya orang-orang besar sebagai rampasan. Ayat 12.
Memahami hal
diatas, untuk lukisan pengganti yang indah itu mustahil nubuat Yesaya 53 : 1
– 12 adalah orang lain, itu menunjuk pada pribadi Yesus Kristus dari Nazaret.
Latar Belakang Konsep Pengganti
Dalam
Perjanjian Lama menjelaskan tentang pengorbanan yang bersifat pengganti (berkaitan dengan dosa dan
kesalahan). Kepala korban binatang yang diatasnya diletakkan tangan Imam,
selanjutnya secara simbolik terjadi pengalihan / penggantian korban dosa dan
segala pertanggungan jawab si pemberi persembahan, binatang korban kini dia
harus menanggung hukuman. Selanjutnya pemberi persembahan harus memuliakah
Allah, Dosa yang seharusnya ditanggung kini dialihkan pada binatang itu sebagai
pengganti. Ritual pengorbanan ini (dalam Perjanjian Lama) bersifat simbolik
yang berorientasi pada Kristus (sebagai pengganti yang indah). Imamat 1 s/d 5
merupakan bagian alkitab didalamnya makna pengorbanan itu dapat dilihat
(pengorbanan domba yang dilakukan – untuk kepentingan pemberi korban /
persembahan sebagai pihak yang bersalah / berdosa.
Perkembangan Korban Domba
Satu ekor korban domba / binatang untuk satu orang. Kej 4 : 4, “Habil juga mempersembahkan korban
persembahan dari anak sulung kambing dombanya, yakni lemak-lemaknya; maka Tuhan
mengindahkan Habel dan korban persembahannya itu”.
Satu ekor domba / binatang, untuk keslamatan satu keluarga. Kel 12 : 3,
“Katakanlah kepada segenap jemaah Israel
: Pada tanggal sepuluh bulan ini diambillah oleh masing-masing seekor anak
domba, menurut kaum keluarga, seekor anak domba untuk tiap-tiap rumah tangga”.
Satu ekor korban domba / binatang untuk satu bangsa. Imamat 16 : 33, “Ia harus mengadakan pendamaian bagi tempat
maha kudus, bagi kemah pertemuan dan bagi Mezbah, juga bagi para Imam dan bagi
seluruh bangsa itu, yakni jemaah itu”.
Satu korban “Domba” untuk seluruh dunia. Yohanes 1 : 29 … “Lihat Anak Domba Allah, yang menghapus dosa
dunia”.
Yohanes 1 : 29… “Lihat Anak Domba Allah – yang menghapus dosa dunia”.
Kata menghapus AIRE (Yun) → diangkat, dipikul / dibawa pergi, bandingkan dengan
Imamat 4 : 14, 15, 16 : 16; 21 – 22. Dosa itu berpindah / dibawa pergi.
Dalam
perjanjian lama, korban-korban itu terus menerus memberikan konsep tentang
pengganti dan jalan – perdamaian sementara semua persembahan dalam perjanjian
lama menggambarkan Kristus sebagai korban yang bersifat pengganti. Dalam
Perjanjian Baru dalam hal pengorbanan Kristus hanya satu kali saja untuk
menanggung dosa banyak orang (Ibrani 9 : 28) Kristus dengan rela dan dengan
penuh kesadaran mempersembahkan diriNya sebagai korban pengganti bagi orang
berdosa.
Konsep Pengganti dalam Perspektif Allah
Konsep pengganti sangat bertalian dengan keslamatan, keslamatan secara
umum meliputi (1) pengorbanan / penggantian (ekspiasi / substitute /
substitusi). (2) pendamaian / propisiasi : meneduhkan, konsiliasi. (3)
rekonsiliasi : memulihkan relasi yang rusak.
Keslamatan berkaitan dengan Karya Yesus (sebagai pengganti). Dari perspektif Allah, kematian Kristus di
kayu salib merupakan inisiatif / ketetapan Allah yang tidak disebabkan oleh
sesuatu di luar diri Allah. Dalam perspektif
manusia, Kristus disalib di Golgota memberi arti suatu pengorbanan atau
substitusionari / vicarious (Latin : ditempat orang lain) pemindahan
(penggantian / penebusan).
Penyaliban
Yesus di Golgota merupakan pengganti hukuman (akibat dosa) yang semestinya
ditanggung oleh umat yang berdosa, dalam kerelaanNya Ia mati menggantikan umat
yang berdosa.
Kristus Pengganti yang Indah
Haruskah Kristus / manusia Yesus Kristus sebagai pengganti ? Ya…!!
Tidak ada manusia yang layak untuk menempati posisi itu, tanpa inkarnasi (Allah
menjadi manusia / daging) manusia tidak akan memiliki pengganti (juru selamat).
Dosa menuntut maut untuk pembayarannya.
Yohanes 1 : 14 – Firman (Allah, Yohanes 1 : 1, 2) menjelma menjadi
manusia,… “Pada mulanya adalah Firman… Firman itu adalah Allah,… Firman itu
telah menjadi manusia…”
Allah tidak dapat mati, jadi juru selamat / pengganti haruslah manusia
agar dapat mati (Yoh 4 : 24, Allah adalah Roh) tentunya Roh itu kekal / tidak
dapat mati, namun demikian kematian manusia berdosa tidak melunasi dosa yang
abadi, sehingga juru selamat / pengganti itu harus Allah. Yesus Kristus diutus
untuk menggnapi rencana penyelamatan Allah, Ia juga manefestasi, kenyataan
rencana Allah untuk menyelamatkan umatNya.
Ketidakberdosaan Kristus / Yesus Kristus tidak berdosa karena Yesus
Kristus memiliki naluri Illahi (Ia adalah Allah) hal itu dinyatakan oleh
alkitab Yesus tidak memiliki tabiat dosa / potensi berdosa dalam diriNya.
Kesempurnaan pengganti itu / ketakberdosaan Yesus Kristus berkaitan
dengan Allah – Allah yang tidak
berubah – sedangkan perubahan terjadi adanya dosa – ketakberdosaan Yesus
Kristus menyatakan bahwa Dialah Allah. Jika Yesus Kristus tidak memiliki natur
ilahi maka Ia berdosa / dapat berdosa, karena Allah (sempurna / Kudus) tidak
berdosa / tidak ada potensi untuk berbuat dosa. Jika Yesus memiliki tabiat
ilahi (Dia Allah) maka Yesus Kristus tidak berdosa dan tidak berbuat dosa.
Inilah kesempurnaan pengganti itu, Allah menjadi daging dalam
kemanusiaan Yesus Kristus melakukan apa yang tidak dapat dilakukan manusia
berdosa.
Karya Yesus
Kristus dalam pemahaman sebagai “Pengganti” dan karyaNya yang diteguhkan pada
karya salib. Kayu salib sebagai klimaks / puncak kesluruhan tindakan /
inisiatif Allah sebagai “pengganti” manusia berdosa.
Teori-teori Salah Tentang Kematian Yesus
Ada
beberapa yang salah tentang kematian Yesus, Teori-teori tersebut adalah :
(1)
“Marturial
Theory”. Kematian Kristus adalah merupakan puncak ajaranNya dimana Ia
sendiri mati sahid untuk membela kebenaran, yang diajarkanNya itu kelemahan
moral manusia digugah untuk memiliki etika yang tinggi.
Apa kata
alkitab : Terlihat disini unsur paksaan yang didalangi oleh ajaranNya yang tinggi,
dan hidupnya yang saleh, lihat Yphanes 10 : 18,
Yohanes 19 : 28 – 30, lihat ay. 30… sesudah meminum anggur asam…..” lalu Ia
menundukkan kepalaNya dan menyerahkan nyawaNya. Kematian Yesus adalah
ketetapan Allah pada masa lampau dan tidak disebabkan dari luar diriNya. Yesus
menyerahkan nyawaNya dan bukan mati sahid untuk membela kebenaran.
(2) “The Moral Influence Theory”, teori
pengaruh moral, ajaran ini disusun oleh Faustus Socianus (1539 – 16042) dan thn
(1079 – 1142) Abelard mulai memperkenalkan teori ini (sebagai sanggahan
terhadap teori komersiil-nya Anselm). Sasarannya adalah reformasi bukan
regenerasi dalam diri pengikut Yesus, karena pengaruh moral Yesus Kristus.
Tiada nilai obyektif dalam kematian Yesus yang diakui, itulah kematian biasa
yang meninggalkan kesan teladan, kematian Yesus Kristus hanya satu tanda
simpati Allah terhadap manusia berdosa / ikut dalam penderitaan manusia.
(3) “The Identification Theory”, Kematian
Yesus disebabkan Ia sangat mengidentifikasikan (menyamakan) diriNya dengan
manusia berdosa, sengsara, sehingga Yesus mampu mewakili mereka kehadirat Allah
dan mengakui dosa mereka dan bertobat bagi manusia, Neo–Orthodoxy dan
Universalisme, disini seolah-olah Allah diharuskan menerima pertobatan, yang
diwakili oleh satu orang. Yang benar Allah memberikan jalan pengampunan bagi
manusia berdosa pertobatan dan percaya tiap orang dituntut sebagai bentuk
tanggung jawab atas anugrah Allah dan hidup memuliakan Allah.
(4) “Teori Ringkasan” (Rekapitulasi)
(Irenius) Kristus dalam kehidupannya (KemanusiaanNya) dan kematianNya meringkas
seluruh fase dari kehidupan manusia.
(5)
“Teori Teladan”
(Socianus) Kristus dalam kematianNya semata-mata hanya menunjukkan ketaatanNya
dan kematianNya semata-mata hanya untuk memberikan teladan / contoh model
ketaatan manusia.
Penutup
Kematian Yesus memberikan makna Yesus “menebus” kita (Kisah 3 : 25,
Ibrani 2 : 17, I Yohanes 2 : 2 – 4; 10), mendamaikan kita dengan Allah (Rm 5 :
11, 2 Korintus 5 : 17 – 20, Epesus 2 : 16, Kol 1 : 20 – 22), memerdekakan (3 :
25). Kematian Yesus juga berkaitan dengan Korban Perdamaian (grafirat),
penanggungan hukuman dosa (expition), pengampunan (forgiveness), pembenaran
(justification), hukuman (penalty), pendamaian (reconciliation), kebenaran
(ringhteousness) dan pengudusan (sanctification), dll. Hal tersebut diatas
secara kesluruhan berorientasi pada keslamatan.
Haleluya, haleluya, Haleluya dengan memahami “Konsep Pengganti” dalam
perspektif alkitab, adalah anugrah yang besar bagi manusia berdosa lewat
“Kristus Pengganti” manusia berdosa, Allah mengerjakan apa yang tidak dapat
dilakukan manusia untuk pembebasan dosa. Kristus sebagai pengganti telah
membuka jalan bagi masa depan umatNya.
Sebagai
umatNya yang telah menerima seutuhnya kasih Allah kita memiliki tanggung jawab
untuk memuliakan Allah, sebab anugrah memiliki keterikatan dengan tanggung
jawab untukhidup memuliakan Allah. Amin !
Kedatangan hamba Allah
BalasHapus"" "" "" "" "" "" "" "" "" "
'Atmak' belum tentu berarti 'yang ku junjung' tapi itu sebenarnya nama
penulisan Atmak adalah אתמך
penulisan Ahmad adalah אחמד
Dalam Yesaya 42:1, Allah berkata
"Lihatlah, 'Hambaku' (diucapkan sebagai Abd-ee), 'yang Ku junjung' (diucapkan sebagai Atmak);
Allah menubuatkan tentang kedatangan hamba-Nya
Lihatlah Hambaku Ahmad (Yesaya 42:1) - dan begitu siapa Ahmad ini? disebut hamba Allah?
Dia tidak lain adalah
Abd-Allah Ahmad (Hamba Allah, Ahmad) - Nabi Muhammad saw